Mudik, Oase Menyejukkan Lepas Rindu Kampung Halaman

01 Mei 2022 10:02 WIB

Penulis: Desi Kurnia Damayanti

Editor: Fakhri Rezy

Pemudik menunggu kereta api Gumarang relasi Jakarta Pasar Senen- Surabaya Pasar Turi di peron keberangkatan di Stasiun Pasar Senen (Brankas foto Trenasia / Ismail Pohan)

JAKARTA - Keputusan pemerintah memperbolehkan perjalanan mudik pada lebaran Idul Fitri 2022 disambut antusias masyarakat Indonesia. Pengumuman yang disampaikan langsung Presiden Joko Widodo pada Rabu (23/3/2022) ibarat pelepas dahaga, setelah dua kali larangan mudik lebaran di masa pandemi. 

Menanggapi situasi mudik di tahun ini Budayawan muda sekaligus Ketua Gerakan Pemuda Desa mandiri (Garda Sandi) Cokro Wibowo soemarsono menyatakan masyarakat akhirnya mendapat oase menyejukkan guna melepas rindu pada kampung halaman. Meski  kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih akibat pandemi ternyata tidak menyurutkan animo masyarakat untuk mudik lebaran. Keinginan bertemu keluarga dan handai taulan mengalahkan kondisi ekonomi para perantau. 

“Mudik merupakan tradisi masyarakat Indonesia yang telah berlangsung sejak lama, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Tradisi mudik lebaran diyakini mulai terjadi pada masa kerajaan Mataram Islam, dimana para pemangku pemerintahan di daerah kekuasaan Mataram menyempatkan diri menghadap raja pada bulan Syawal sekaligus mengunjungi handai taulan di pusat kerajaan,” jelas Cokro saat dihubungi wartawan di Jakarta (30/4).

Seperti diketahui, pada lebaran Idul Fitri tahun 2020 dan 2021, pemerintah memberlakukan larangan mudik untuk mengendalikan pandemi virus Covid-19. Kini, setelah massifnya pelaksanaan vaksinasi, masyarakat akhirnya dapat kembali merasakan kenormalan ibadah ramadhan dan lebaran Idul Fitri seperti biasanya.

Kementerian Perhubungan memprediksi sekitar 85,5 juta orang akan melakukan perjalanan mudik pada lebaran 2022. Jumlah tersebut didominasi oleh para pemudik dengan menggunakan kendaraan roda empat sebanyak 23 juta orang, sedangkan lainnya menggunakan moda transportasi umum seperti bus, kereta api, pesawat dan kapal laut.

Disampaikan oleh Cokro, sebagian sejarawan menyebut tradisi mudik sudah dikenal pada era Majapahit yang dikenal memiliki wilayah kekuasaan sangat luas hingga ke semenanjung Malaya. Pejabat pemerintahan di wilayah jauh tersebut secara rutin menghadap Raja guna menyatakan kesetiaan dan melaporkan jalannya pemerintahan.

“Budaya mudik pada masa Indonesia modern terjadi seiring dengan meningkatnya urbanisasi sejak awal Orde Baru. Gencarnya pembangunan dan industrialisasi, membuat aktivitas mudik menjadi rutinitas tahunan para perantau. Momentum lebaran serta syawalan yang dipandang baik untuk merajut tali silaturrahim dengan sanak saudara, menyebabkan tradisi mudik awet hingga kini,” ujar Cokro. 

Menurut Cokro, selain untuk mengunjungi dan berkumpul bersama keluarga, tradisi mudik juga dimaksudkan agar bisa berbagi dengan keluarga besar di kampung.

"Momen berbagi ini sekaligus untuk meminta doa agar pekerjaan dan penghidupan di perantauan berlangsung makin baik. Mudik juga terapi spritual dan psikologis di antara kesibukan dan rutinitas pekerjaan," jelas mantan Sekjen Presidium Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ini.

Namun Cokro mengingatkan, budaya mudik berpotensi menyebabkan nilai-nilai primordial jadi awet di tengah masyarakat perkotaan. Menurut Cokro, identitas genetis, suku, bahasa dan budaya asal, serta identitas sosial bakal terus melekat meski para perantau telah tinggal di kota lebih dari satu generasi.

"Nilai-nilai primordial ini dapat menghambat hadirnya nilai perkotaan yang harusnya lebih mondial. Misalnya, anggapan kampung halaman sebagai rumah sebenarnya, sedangkan perantauan sebagai tempat berteduh sementara bisa menghambat intensitas interaksi sosial," terang Cokro.

Padahal menurut Cokro, beragam persoalan perkotaan yang kompleks, seperti kemiskinan, kekumuhan, dan kriminalitas membutuhkan tanggung jawab dan keikutsertaan seluruh warganya, termasuk warga perantau.

"Semoga dua kali larangan mudik karena pandemi pada dua tahun lalu, yang juga disertai kondisi kesulitan ekonomi parah sebagian besar warga, telah melatih tanggung jawab sosial masyarakat perantau di perkotaan. Dua lebaran tanpa mudik itu telah membentuk kesetiakawanan sosial dan budaya gotong royong," tandas Cokro.

Berita Terkait