Modal Semakin Kuat, Bank Neo Commerce Siap Jadi Pemain Utama Bank Digital di Indonesia?

21 September 2021 12:32 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Bank Neo Commerce di kawasan ITC Fatmawati Jakarta Selatan, Senin 20 September 2021. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) tercatat telah memiliki modal dasar sebesar Rp3 triliun. Hal ini telah diumumkan perseroan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Senin, 20 September 2021.

Direktur Utama (Dirut) Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan mengatakan modal dasar  perseroan bertambah dua kali lipat dari posisi awal Rp1,5 triliun. Untuk modal inti atau tier 1, Tjandra membeberkan bakal mencapai minimal Rp3 triliun usai gelaran rights issue rampung dilakukan perseroan.

Dengan begitu, Bank Neo Commerce akan memenuhi aturan modal inti dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni minimum Rp3 triliun sebelum tenggat waktu 2022. Tjandra bilang modal inti ini merupakan fundamental yang penting bagi perseroan untuk mengembangkan bisnis perbankan digital.

“RUPSLB kemarin tetap berjalan dengan satu agenda saja, yaitu perubahan Modal dasar dari Rp1,5 triliun menjadi Rp3 triliun. Untuk modal inti minimum akan terpenuhi setelah rights issue ini rampung dan ini merupakan hal yang penting untuk menunjang bisnis perseroan,” jelas Tjandra kepada TrenAsia.com, Selasa, 21 September 2021.

Selain itu, modal inti saat ini merupakan ancang-ancang dalam melaksanakan penambahan modal berikutnya yang direncanakan pada semester II-2021. Tjandra mengatakan perseroan optimistis menggenjot ekspansi bisnis bank digital yang dikembangkan melalui aplikasi Neo+.

“Kami tengah mempersiapkan Penawaran Umum Terbatas (PUT) berikutnya usai modal dasar dan modal inti bertambah,” papar Tjandra.

Modal inti merupakan prasyarat agar Bank Neo Commerce bisa secara leluasa melakukan ekspansi kredit. Sebelumnya, Corporate Secretary Bank Neo Commerce Agnes F Triliana mengatakan upaya menambah modal inti ini berbarengan dengan rencana bisnis ekspansi kredit yang sedang ditempuh perseroan.

Dimotori PT Akulaku Silvrr (Akulaku), BBYB juga melakukan manuver ekspansi kredit melalui kerja sama strategis dengan financial technology (fintech).

“Target Bank Neo memperbesar penyaluran kredit antara lain melalui skema channeling dan bekerjasama dengan beberapa fintech untuk menjaring lebih banyak pendapatan,” ujar Agnes saat dihubungi Trenasia.com belum lama ini.

Gencarnya BBYB menyasar fintech peer to peer (P2P) lending ini juga tidak lepas dari pertumbuhan pembiayaannya yang terus melesat. Menurut data OJK, outstanding pinjaman fintech P2P pada Juni 2021 mencapai Rp23,38 triliun atau tumbuh 98,8% secara tahunan (year on year/yoy).

“Target Bank Neo memperbesar penyaluran kredit antara lain melalui skema channeling dan bekerja sama dengan beberapa fintech. Beberapa waktu lalu, kami juga menambah kerja sama mitra kami dan sampai saat ini penyedia fintech yang telah bekerja sama dengan kami adalah seperti Crowdo, Restock.id, Esta Capital, Modal Rakyat,” ucap Agnes.

Pembiayaan Tiga Produk

Dalam kerja sama dengan Crowdo misalnya, BBYB menyediakan pembiayaan untuk tiga produk, antara lain paylater, micro paylater, dan pinjaman modal kerja.  Lalu, pembiayaan melalui Modal Rakyat yang fokus pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) senilai Rp50 miliar.

Setelah mantap menjadi bank digital, BBYB kini fokus menggenjot fungsi intermediasi pada segmen konsumer. Hingga semester I-2021, hasilnya tidak mengecewakan.

Berdasarkan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), BBYB mencatatkan realisasi penyaluran kredit sebesar Rp3,82 triliun atau naik dibandingkan dengan akhir 2020 yang hanya Rp3,66 triliun.

Kredit segmen rumah tangga tampaknya masih menjadi menjadi andalan utama BBYB. Segmen kredit ini mengalami peningkatan hingga 25% year to date (ytd) dari Rp1,8 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp2,33 triliun pada semester I-2021.

Kredit segmen rumah tangga menguasai 60% dari postur kredit di Bank Neo Commerce. Ditinjau dari kualitas aset, total kredit bermasalah BBYB mengalami peningkatan dari Rp133,08 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp162,28 triliun pada semester I-2021.

Maka, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) net BBYB parkir di level 4,2%. Adapun NPL gross BBYB per semester I-2021 ini mencapai 11%.

Di sisi lain, Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) BBYB meroket 38,55% ytd menjadi Rp4,60 triliun. Secara kumulatif, aset BBYB hingga semester I-2021 ini pun terungkit dari Rp5,42 triliun pada posisi akhir 2020 menjadi Rp,699 triliun pada semester I-2021.

Berita Terkait