Modal Inti Sudah Gemuk, Bank Jago Siap Lanjutkan Ekspansi Bisnis dengan Gojek

08 September 2021 22:00 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Mitra Driver Gojek menunggu customer di dekat logo Bank Jago di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – PT Bank Jago Tbk (ARTO) menjadi salah satu bank yang telah memenuhi aturan modal inti terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar Rp3 triliun pada 2022. Hingga semester I-2021, Bank Jago tercatat sudah memiliki modal sebesar Rp8 triliun.

ARTO kini duduk dalam kategori Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) II. Direktur Utama (Dirut) Bank Jago Kharim Indra Gupta Siregar menyatakan dana ini cukup untuk menopang bisnis digital perseroan.

“Kami juga bisa menggunakan modal ini untuk mengembangankan bisnis kami, maka dari itu kami tidak ada rencana penambahan modal lagi” ucap Kharim dalam paparan terbuka virtual, Rabu, 8 September 2021.

Kharim juga membeberkan rencana bisnis bank yang sahamnya dipegang oleh startup decacorn Gojek tersebut. Perseroan kini fokus untuk mengintegrasikan pembayaran dan pengelolaan keuangan di seluruh lini platform Gojek.

“Kai sedang mendata profil nasabah GoPay dan Jago di satu alur yang nyaman. Dalam waktu ke depannya juga bakal ada fitur membayar dari kantong Jago di semua merchant yang terafiliasi dengan GoPay,” jelas Kharim.

Kesamaan pangsa pasar membuat dua perusahaan digital ini semakin mantap menjalin kerja sama. Dari sisi Bank Jago, Kharim menyebut pangsa pasar utama yang kini sedang dioptimalkan berada di level pra-sejahtera produktif dan mikro.

Segmen ini dinilai berpotensi menambah setidaknya 150 juta nasabah baru. Lalu, Bank Jago juga mengungkapkan ikut membidik segmen small medium enterprise (SME) dengan potensi nasabah sebesar 14 juta orang.

Pada segmen eksisting yang digarap Bank Jago, tercatat memiliki 100.000-200.000 nasbah. “Kesamaan segmen ini yang membuat kerja sama kami terus terjalin dengan Gojek meski tidak eksklusif. Tapi kami sendiri menyatakan tidak menyasar segmen korporasi” ucap Kharim.

Meski masih merugi, Kharim menyebut ada perbaikan fungsi intermediasi perseroan. Hal ini tampak dari net interest margin (NIM) yang merangkak naik dari posisi 4,7% pada akhir 2020 menjadi 5% pada semester I-2021.

Lalu, loan to deposit ratio (LDR) juga ikut terungkit menjadi 125% pada semester I-2021 menjadi 111% pada akhir 2020. Adapun capital adequacy ratio (CAR) Bank Jago naik paling signifikan, yakni dari 91,4% menjadi 342,8% pada semester I-2021.

“Kinerja keuangan mengalami perbaikan yang sangat berarti dalam hal kecukupan modal, kualitas portofolio kredit dan marjin usaha,” ucap Kharim.

Di semester I-2021, ARTO   masih membukukan rugi bersih sebesar Rp47 miliar pada semester I-2021. Kendati begitu, kerugian sudah menipis 8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni Rp50,91 miliar.

Sayangnya, biaya operasional (operating expense) meningkat 135% menjadi Rp183 miliar. Secara kuartalan, kinerja Bank Jago sejatinya semakin membaik. Pada kuartal I-2021, kerugian mencapai Rp38 miliar. Akan tetapi, menipis jadi Rp9 miliar pada kuartal II-2021 berkat kenaikan kredit dan penempatan dana lebih dari hasil rights issue di instrumen produktif lainnya.

Dari fungsi intermediasi, Bank Jago telah menyalurkan kredit senilai Rp2,17 triliun, tumbuh 695% year on year (yoy). Pertumbuhan kredit tersebut mampu mengerek pendapatan bunga sebesar 289% yoy.

Dengan beban bunga yang hanya meningkat 46%, perseroan mampu membukukan kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 423% menjadi Rp139 miliar. Hal ini berdampak pada penurunan rasio cost to income dari 289% pada semester I-2020 menjadi 129% pada semester I-2021.

Berita Terkait