Mirae Prediksi Transaksi Saham Bulan April Makin Lesu, Puasa dan Vaksin Jadi Penentu

April 08, 2021, 08:08 PM UTC

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Media Day Mirae Asset Sekuritas, Kamis 8 April 2021 / Dok. Drean Muhyil Ihsan

JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi nilai transaksi bursa saham dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terkonsolidasi pada April 2021. Hal ini seiring dengan kondisi makroekonomi domestik yang masih cenderung lemah menjelang momentum puasa.

Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger memprediksi nilai transaksi bursa saham akan terpangkas menjadi kisaran Rp9 triliun per hari. Angka ini turun dari rerata Januari, Februari, serta Maret yang masing-masingnya Rp20 triliun, Rp15 triliun, dan Rp10 triliun per hari.

“April ada kemungkinan turun tipis menjadi sekitar Rp9 triliun per hari, faktor puasa juga biasanya akan membuat nilai transaksi harian lebih lesu dibandingkan dengan sebelumnya,” ujarnya dalam konferensi virtual Media Day Mirae Asset Sekuritas, Kamis 8 April 2021.

Ia juga memprediksi IHSG akan terkonsolidasi downtrend dengan support 5.892 – 5.735 serta resistance 6.195 – 6.281. Menurutnya, ada dua faktor positif yang dapat mendukung pergerakan IHSG ke depannya, tetapi masih akan terdilusi oleh satu faktor negatif yaitu kondisi makroekonomi.

Sentimen positif pertama adalah laporan kinerja keuangan emiten tahun 2020 dan kuartal I-2021. Kedua, yakni aksi korporasi beberapa emiten, terutama pada musim pembagian dividen tunai seperti sekarang ini.

Roger mencatat ada beberapa emiten unggulan alias blue chips yang memiliki imbal hasil atau yield dividen dengan nilai jumbo. Beberapa di antaranya adalah ADRO sebesar 3,3%, PGAS 3,2%, AKRA 2,7%, PTBA 2,7%, ASII 2,3%, BBRI 2,2%, dan UNTR 2,1%.

“Dengan demikian, beberapa saham emiten tersebut berkesempatan mendapatkan angin segar dari sentimen dividen yang tinggi,” tambahnya.

Kondisi Makroekonomi
Warga berbelanja di los sayur dan buah di Pasar Bersih Sentul City, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 15 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Dari sisi makroekonomi, Ekonom Mirae Asset Sekuritas Anthony Kevin menilai prospek perbaikan ekonomi global yang positif akan terhambat dengan kondisi di dalam negeri yang belum cukup baik.

Beberapa kondisi utama adalah distribusi vaksinasi COVID-19 yang masih lambat dan perekonomian kelas menengah ke bawah yang belum membaik.

Pada skala global, bagi Kevin ada beberapa sentimen positif utama yang diprediksi dapat memberikan dorongan untuk penguatan pasar. Sentimen itu adalah angka aktif COVID-19 dunia yang turun signifikan, kampanye vaksin terbesar sepanjang masa, dan prospek pemulihan ekonomi yang sesuai jalurnya.

“Distribusi vaksin akan menjadi kunci bagi prospek pemulihan ekonomi dunia tersebut, dan perbaikan ekonomi jangka panjangnya di tingkat global masih tetap menjanjikan,” papar dia.

Sementara, yang menjadi sisi negatif yaitu adanya potensi kenaikan tingkat imbal hasil lanjutan dari obligasi pemerintah AS yang masih akan berdampak pada pelemahan pasar keuangan domestik, terutama mata uang rupiah. Sebagai gambaran, yield seri US Treasury acuan yaitu tenor 10 tahun berada pada kisaran 1,65%, naik dari posisi 0,9% pada akhir 2020.

Kevin menuturkan, kondisi global yang cenderung positif tersebut dapat tertutup dengan kondisi ekonomi di dalam negeri yang belum dapat mendorong optimisme pelaku pasar akibat dua faktor utama.

Pertama, perekonomian menengah-bawah yang belum membaik terindikasi oleh data penyaluran kredit bank yang masih rendah.

Ia merujuk data Bank Indonesia yang mencatat penyaluran kredit berada pada level -2,15% pada Februari 2021. Ditambah, aktivitas di pasar-pasar tradisional juga belum menggeliat.

Ia menilai indikasi itu semakin menguatkan prediksi bahwa aktivitas ekonomi sepanjang bulan puasa belum akan meningkat tajam seperti harapan pelaku pasar.

Padahal, kata Kevin, laju aktivitas ekonomi pada bulan puasa adalah indikator utama yang umum dijadikan referensi aktivitas ekonomi hingga akhir tahun.

Kedua, lanjutnya, percepatan sebaran vaksin diharapkan dapat berjalan lancar. Dengan rata-rata vaksin per hari sekitar 40.000 orang saat ini, maka diprediksi jumlah penerima vaksin dalam enam bulan ke depan berada pada kisaran angka 7,2 juta orang.

Menurutnya, capaian tersebut masih sangat rendah dibandingkan dengan target vaksinasi seluruh penduduk yang berada pada angka 260 juta jiwa.

“Kedua hal itu menjadi faktor penentu. Jika kondisi itu lebih baik daripada prediksi, maka bisa mengubah prediksi kami,” tuntas Kevin.(RCS)