Mirae Asset Pertahankan Rating Overweight Untuk Sektor Perbankan Pada 2022

29 November 2021 18:00 WIB

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Vega Aulia

Ilustrasi kredit perbankan. / Pixabay

(Pixabay)

JAKARTA – Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai sektor perbankan masih akan prospektif tahun depan. Sekuritas asal Korea Selatan tersebut memberi rating overweight terhadap sektor perbankan, dengan pilihan utamanya adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). 

Beberapa faktor pendorong outlook tersebut di antaranya, pertumbuhan pinjaman yang lebih tinggi karena pembukaan kembali aktivitas perekonomian, pendapatan fee based dan biaya operasional yang lebih baik karena digitalisasi perbankan, serta biaya provisi yang lebih rendah menyusul kualitas aset yang membaik dan menurunnya rasio restructured loan ataupun loan at risk (LAR).

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Handiman Soetoyo menyatakan pertumbuhan pinjaman akan mencapai 5,1% pada tahun 2021 dan 10,2% pada tahun 2022, didorong oleh pembukaan kembali ekonomi. Adapun sektor telekomunikasi, manufaktur dan sektor terkait komoditas dinilai akan menjadi pendorong pertumbuhan utama pinjaman perbankan.

“Kami percaya bahwa likuiditas akan tetap melimpah pada tahun 2022. Kami juga percaya kualitas aset akan terus membaik seiring meningkatnya kegiatan ekonomi,” tulis Handiman dalam laporan yang dirilis Senin, 29 November 2021. 

Secara segmentasi, pinjaman modal kerja atau working capital loan, sebagaimana yang terjadi pada tahun ini, dinilai akan kembali mendominasi pada tahun depan. 

Pinjaman investasi juga dinilai akan tumbuh, didorong oleh peningkatan permintaan. Secara umum, pembukaan kembali aktivitas ekonomi akan menjadi katalis utama yang mendorong pertumbuhan pinjaman. 

 “Kami mempertahankan rating Overweight di sektor perbankan karena prospek pertumbuhan laba yang positif. Pilihan utama kami adalah BBNI karena kami memperkirakan momentum pertumbuhan laba yang luar biasa akan berlanjut pada tahun 2022. Kami juga menyukai BMRI sebagai penerima manfaat terbesar dari kebangkitan ekonomi dan kelanjutan proyek infrastruktur,” kata dia dalam laporannya. 

Seiring dengan aktivitas perekonomian yang terus membaik, diharapkan neraca dan arus kas terus meningkat yang bersumber dari aliran cash para pelaku bisnis. Tabungan juga seharusnya meningkat karena pendapatan masyarakat akan meningkat. 

Kebanyakan uang pribadi ini diperkirakan akan ditempatkan di rekening tabungan untuk kebutuhan konsumsi di masa depan, investasi ataupun untuk kebutuhan transaksi pribadi lainnya. 

Dari sisi kualitas aset, diperkirakan akan terus membaik seiring meningkatnya kegiatan ekonomi. Tahun ini sendiri kualitas aset industri perbankan terus menunjukkan peningkatan secara bertahap. 

Tingkat kredit macet atau Non Performing Loan berangsur membaik ke 3,19% pada September 2021, dibanding posisi Juli yang mencapai puncaknya sebesar 3,31%. Diharapkan operasional pelaku usaha perlahan kembali pulih dan kemampuan mereka dalam membayar utang membaik. 

“Pinjaman restrukturisasi juga terus menurun. Per akhir September 2021, total pinjaman restrukturisasi turun menjadi Rp738,7 triliun (13,1% dari total pinjaman), dibanding puncaknya pada November 2020 sebesar Rp951,2 triliun (17,5% dari total pinjaman). Kami berharap tren positif ini akan terus berlanjut hingga tahun 2022. Ini akan berdampak pada pendapatan bunga yang lebih tinggi dan biaya provisi yang lebih rendah,” tambah Handiman.

Valuasi Bank Digital Overhyped

Menurut Handiman, dikarenakan pandemi COVID-19, digitalisasi telah menjadi tema utama bagi banyak industri, termasuk perbankan. Bank secara agresif memperluas kemampuan digital mereka dan telah menunjukkan pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi yang signifikan. 

“Terkait valuasi, menurut kami bank digital saat ini sedang overhyped. Pada akhirnya, kami percaya bank-bank besar akan tetap menjadi pemenang dalam jangka panjang,” kata dia. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri tahun ini mengubah sistem klasifikasi bank berdasarkan modal inti, dari Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) menjadi Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI). 

Beberapa bank turun kelas dari BUKU 4 menjadi KBMI 3. Hal lain yang juga dipesan oleh OJK adalah terkait persyaratan modal inti minimum Rp2 triliun pada akhir 2021 dan Rp3 triliun pada akhir 2022. 

“Pemegang saham dan investor strategis akan berpartisipasi dalam peningkatan modal. Beberapa M&A (merger and acquisition) yang menarik telah terjadi pada tahun 2021 dan kami rasa masih banyak lagi yang akan terjadi pada tahun 2022 mendatang,” tambah Handiman.

Berita Terkait