Minim Riset Produk Tembakau Alternatif, Pemerintah Diminta Akui Kajian Lembaga Independen

02 Agustus 2021 18:09 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Generasi Anti Narkoba Indonesia (GANI), Djoddy Prasetio Widyawan (kedua kanan), Ketua KABAR dan Pengamat Hukum, Ariyo Bimmo (kedua kiri), Sekretaris Umum Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Garindra Kartasasmita (kiri) dan Anggota APVI, Rhomedal (kanan) memasang stiker himbauan di toko Vapepackers, Jakarta, Rabu, 9 September 2020. Kegiatan ini merupakan sosialisasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba pada produk tembakau alternatif atau rokok elektrik melalui gerakan sosial bertajuk “Gerakan Pencegahan Penyalahgunaan Rokok Elektrik (GEPPREK)” yang juga telah dilakukan di Denpasar, Bali, dan Bandung, Jawa Barat. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA  –Ketua Aliansi Vaper Indonesia (AVI) Johan Sumantri mengatakan penelitian terhadap produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan, sudah banyak dilakukan oleh lembaga riset independen seperti akademisi dari sejumlah universitas dan lembaga ternama, baik dari dalam maupun luar negeri. 

Di sisi lain pemerintah Indonesia belum juga terdorong untuk melakukan riset mandiri ataupun memberi dukungan terhadap peneliti dalam negeri yang sudah mempublikasikan kajiannya mengenai produk tembakau alternatif.

“Yang paling kami harapkan itu jelas satu, pemerintah buat penelitian. Kajian yang dibuat oleh swasta dan perguruan tinggi sudah banyak, tapi kajian yang menyeluruh dari pemerintah belum pernah dibuat,” kata Johan saat dihubungi wartawan.

Johan mengungkapkan hasil dari sejumlah kajian yang dilakukan oleh pihak swasta dan akademisi membuktikan bahwa produk tembakau alternatif memiliki profil risiko kesehatan 90%-95% lebih rendah dibandingkan rokok konvensional. Contoh dari produk tembakau alternatif antara lain produk tembakau yang dipanaskan, vape, serta snus.

“Bila tidak bisa melakukan riset, akui penelitian dari lembaga riset swasta yang memang membuktikan produk ini memiliki risiko yang jauh lebih rendah ketimbang rokok,” ungkapnya.

Jika tidak demikian, dirinya khawatir pemerintah tidak memiliki referensi yang sesuai dalam menyusun regulasi bagi produk tembakau alternatif. Pemerintah tidak mungkin mengeluarkan kebijakan tanpa adanya kajian. “Masalahnya, pemerintah tidak mau percaya dengan riset dari lembaga itu.  Tapi di sisi lain, mereka tidak mau memulai riset soal produk ini. Teliti dan paparkan kemudian buat kebijakannya berdasarkan riset yang akurat, itu yang kami harapkan,” kata Johan.

Padahal, dengan adanya regulasi yang berbasis kajian ilmiah akan mendorong perokok dewasa beralih ke produk ini sebagai alternatif untuk berhenti merokok. “Banyak sekali hal positif yang sudah saya dengar dan rasakan sendiri, karena saya salah satu yang beralih ke produk tembakau alternatif. Dari segi kebersihan juga ada manfaatnya karena tidak ada lagi sampah abu maupun asap rokok,” ujar Johan.

Pembahasan Global

Pembahasan kajian produk tembakau altenatif juga menjadi pembahasan dalam Global Forum on Nicotine (GFN) yang diselenggarakan secara daring di Liverpool, Inggris, pada pekan lalu. Chris Gardner, Kepala Eksekutif Jaringan Internasional Organisasi Konsumen Nikotin (INNCO) menilai Inggris adalah negara yang berhasil memanfaatkan produk tembakau alternatif untuk menekan prevalensi perokok.

Inggris mendukung penggunaan produk ini setelah melakukan kajian ilmiah yang dilakukan Public Health England, Cancer Research UK, UK Royal College of Physicians dan Royal College of Midway. Dukungan tersebut pun diperkuat dengan regulasi.

“Produk tembakau alternatif jauh lebih rendah risikonya daripada rokok. Saya sangat iri karena di Inggris ada lembaga-lembaga tersebut yang memiliki informasi yang jelas. Ini juga didukung penuh oleh pemerintah di sana,” ujarnya.

Anggota Parlemen Victoria dan Ketua Partai Reason Party, Fiona Patten, juga kagum dengan kebijakan Inggris terhadap produk tembakau alternatif. “Mereka menggunakan produk tembakau alternatif dalam kampanye berhenti merokok. Bagi saya, itu adalah hal yang paling menyenangkan,” ungkapnya.

Berita Terkait