Miliki Fokus Bisnis Segmen Korporasi, Begini Strategi Bank Mandiri Genjot Kredit UMKM

06 September 2021 11:07 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Nasabah melakukan transaksi di counter kantor cabang Bank Mandiri, Plaza Mandiri, Jakarta, Senin, 22 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Emiten pelat merah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membidik perluasan ekosistem Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai upaya pemenuhan aturan baru Bank Indonesia (BI).

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rudi As Aturridha mengatakan optimistis bisa mendongkrak penyaluran kredit UMKM meski perseroan memiliki fokus bisnis di segmen wholesale banking.

“Kami optimistis dalam beberapa waktu ke depan, Bank Mandiri mampu memenuhi ketentuan RPIM dan menjadi key player dalam pembiayaan inklusif dengan didukung oleh sinergi dari seluruh segmen bisnis dan koordinasi yang kuat di seluruh jaringan bank,” ucap Rudi saat berbincang dengan wartawan TrenAsia.com, Senin, 6 September 2021.

UMKM memang bukan menjadi segmen utama Bank Mandiri menyalurkan pembiayaan. Hal ini tercermin dari penyaluran kredit segmen UMKM pada semester I-2021 yang hanya Rp98,3 triliun atau 9,6% dari total kredit konsolidasian sebesar Rp1.014,3 triliun.

Adapun wholesale banking masih menjadi tumpuan utama penyaluran kredit Bank Mandiri, yakni Rp534,2 triliun. Nilai itu setara 52,66% dari total penyaluran kredit bank berlogo pita kuning tersebut.

Pada Kredit Usaha Rakyat (KUR), Bank Mandiri telah menyalurkan KUR sebesar Rp19,68 triliun hingga semester I-2021. Realisasi ini merupakan 63,5% dari target 2021, dengan jumlah penerima lebih dari 200.000 debitur UMKM.

Kualitas kredit Bank Mandiri cukup baik dengan rasio non performing loan (NPL) gross sebesar 3,08%, turun 21 bps dari kuartal II-2020. Selanjutnya, coverage ratio juga berada di level 221,87% meningkat 26,35% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Kendati demikian, Rudi menilai ada celah untuk memenuhi target rasio kredit UMKM 20% pada 2022, 25% pada 2023, dan 30% pada 2024 tersebut. Pasalnya, beleid mengenai Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) itu memberikan pelonggaran aturan dengan memperhitungkan pembelian surat utang dalam rasio kredit UMKM.

“Perhitungan RPIM sesuai PBI dimaksud tidak hanya meliputi pembiayaan langsung terhadap pelaku usaha UMKM namun diperluas atau ditambah dengan pembiayaan langsung, melalui lembaga jasa keuangan, Badan Layanan Umum (BLU), hingga surat pembiayaan inklusif,” ucap Rudi.

Pembiayaan UMKM

Meski secara bank only tidak kuat dalam pembiayaan UMKM, Bank Mandiri punya beberapa entitas anak yang bisa mendongkrak kredit pada segmen tersebut. Apalagi, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) kini masuk dalam konsolidasian BMRI dengan persentase kepemilikan mencapai 50,95%.

“Saat ini kami sedang melakukan inventarisir portofolio di seluruh segmen bisnis yang dapat dikategorikan ke dalam pembiayaan inklusif, untuk kemudian melakukan penyesuaian dan menetapkan strategi pertumbuhan yang diperlukan,” kata Rudi.

Secara konsolidasian, BMRI meraih laba bersih Rp13,68 triliun pada semester I-2021 atau naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp10,55 triliun. Bank berlogo pita kuning ini juga berhasil menyalip PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dalam hal bank dengan aset tertinggi di Indonesia.

Total aset BMRI melesat dari Rp1.429,33 triliun pada Desember 2020 menjadi Rp1.580,52 triliun pada akhir semester I-2021. Adapun posisi ekuitas BMRI berada di angka Rp205,13 triliun atau naik tipis dibandingkan akhir 2020 yang hanya Rp193,79 triliun.

Berita Terkait