Meski Transformasi Energi Kian Dekat, Indo Tambangraya Tetap Kembangkan Tambang Baru

19 Agustus 2021 10:37 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Sukirno

Emiten tambang batu bara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) / Istimewa (Istimewa)

JAKARTA – Semakin dekatnya transformasi sektor energi tidak membuat emiten batu bara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) berhenti mengembangkan tambang batu bara baru. 

“Pada bisnis pertambangan, ITM akan terus melakukan eksplorasi tambang yang dimiliki guna memastikan pertumbuhan cadangan organik dan secara bersamaan mengembangkan tambang batu bara yang baru,” ujar Direktur Utama ITMG Mulianto dalam siaran pers, dikutip Kamis, 19 Agustus 2021.

Mulianto juga mengatakan ITMG akan melanjutkan studi kelayakan gasifikasi batu bara bawah tanah dan mencari peluang bisnis tambang mineral clean tech.

Meski terus fokus di pertambangan, ITMG juga mencoba melakukan diversifikasi di bidang perdagangan dan jasa, serta bisnis energi baru dan terbarukan (EBT) dan lainnya. 

Di bidang perdagangan dan jasa, ITMG akan melakukan ekspansi pembelian batu bara yang bersumber dari pihak ketiga guna meningkatkan pendapatan dari perdagangan dan pencampuran batu bara. 

Secara internal, TRUST (kontraktor penambangan milik perusahaan) akan mengembangkan kontraktor bisnisnya di area gugus Melak. 

Terakhir, ITMG turut aktif meningkatkan solusi natural capital dengan investasi untuk reklamasi dan pencegahan deforestasi sehingga dapat digunakan sebagai carbon offsetting.

Dalam bisnis EBT dan bisnis lainnya, ITMG sedang melakukan finalisasi dari perencanaan konstruksi PLTS di pelabuhan yang berada di gugus Melak. Perusahaan juga mengaplikasikan berbagai solusi mining digital untuk operasi penambangan yang lebih efisien dan kontrol biaya yang lebih baik.

Kinerja ITMG 

Pada semester I-2021, ITMG berhasil pendapatan sebesar US$676,3 juta atau Rp9,8 triliun (sesuai kurs Rp14.496 di laporan keuangan). Jumlah ini hanya meningkat 3,68% dari semester I-2020 yang tercatat US$652,27 juta (Rp9,45 triliun).

Pendapatan tersebut terutama didapat dari batu bara senilai US$643,66 juta dari pihak ketiga dan US$27,39 juta dari pihak berelasi. Lalu, bahan bakar berkontribusi sebesar US$4,1 juta dan jasa berkontribusi sebesar US$1,15 juta.

Harga batu bara yang meningkat membuat margin keuntungan dari penjualan ITMG meningkat. Beban pokok pendapatan juga berhasil ditekan 19,63%  menjadi US$448,96 juta (Rp6,51 triliun) dari sebelumnya US$558,64 juta (Rp8,09 triliun).

ITMG pun berhasil mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$117,62 juta (Rp1,71 triliun). Jumlah ini meroket 293% atau hampir tiga kali lipat dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$29,88 juta (Rp433,14 miliar).

Berita Terkait