Meski Telan Kerugian, Intermediasi Bank Neo Commerce Semakin Menguat

30 Agustus 2021 11:30 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Redaksi

PT Bank Neo Commerce Tbk. resmi menjadi Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) II, setelah melakukan penambahan modal atau right issue Rp150 miliar pada Juli 2020. Dengan perubahan status tersebut, perseroan akan melakukan transformasi digital dengan sasaran pasar milenial. / Perseroan

JAKARTA – PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) membukukan kerugian bersih hingga Rp132 miliar pada semester I-2021. Meski merugi, calon bank digital ini mengalami penguatan pada sisi intermediasinya.

Berdasarkan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), BBYB mencatatkan realiasi penyaluran kredit sebesar Rp3,82 triliun atau naik dibandingkan akhir 2020 yang hanya Rp3,66 triliun. 

Kredit segmen rumah tangga tampaknya masih menjadi menjadi andalan utama BBYB. Segmen kredit ini mengalami peningkatan hingga 25% year to date (ytd) dari Rp1,8 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp2,33 triliun pada semester I-2021.

Kredit segmen rumah tangga menguasai 60% dari postur kredit di Bank Neo Commerce. Segmen lainnya yang mencolok pada penyaluran kredit BBYB adalah, perdagangan besar dengan realisasi sebesar Rp1,32 triliun pada semester I-2021.

Ditinjau dari kualitas kredit, total kredit macet BBYB mengalami peningkatan dari Rp133,08 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp162,28 triliun pada semester I-2021.

Maka, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) net BBYB parkir di level 4,2%. Adapun NPL gross BBYB per semester I-2021 ini mencapai 11%.

Nilai NPL yang tinggi ini tidak lepas dari upaya restrukturisasi yang masih dihadapi BBYB. Jumlah kredit yang telah direstrukturisasi dan dalam kategori kredit bermasalah per 30 Juni 2021 mencapai Rp17.922.826.158.

Sementara itu, nominal kredit yang mendapat perpanjangan jangka waktu dan penurunan suku bunga kredit di BBYB pada semester I-2021 mencapai Rp280,15 miliar. Adapun Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) Bank Beo Commerce per Juni 2021 mencapai Rp97,47 miliar.

Di sisi lain, Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) BBYB meroket 38,55% ytd menjadi Rp4,60 triliun. Secara kumulatif, aset BBYB hingga semester I-2021 ini pun terungkit dari Rp5,42 triliun pada posisi akhir 2020 menjadi Rp,699 triliun pada semester I-2021.

Rupanya, peningkatan aset ini juga dibarengi dengan pertumbuhan pada pos liabilitas. Total liabilitas BBYB naik 33% ytd dari Rp4,30 triliun pada akhr 2020 menjadi Rp5,75 triliun pada semester I-2021.

Peningkatan signifikan juga dicatatkan pada pos kas dan setara kas. Jumlah kas dan setara kas di BBYB melesat 123,3% year on year (yoy) dari Rp331,93 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp741,24 miliar pada semester I-2021.

Meski mengalami penguatan pada aspek aset, BBYB rupanya harus menelan kerugian pada semester I-2021. Emiten bersandi BBYB ini mengalami kerugian bersih hingga Rp132,85 miliar pada paruh pertama tahun ini.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya di mana BBYB masih meraup laba bersih Rp19,32 miliar. Kerugian yang dialami BBYB ini bersumber dari membengkaknya total beban operasional hingga 172% secara tahunan (year on year/yoy). 

Total beban operasional BBYB melesat dari Rp100,27 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp277,020 miliar pada semester I-2021. Adapun pendapatan bunga bersih Bank Neo Commerce sebesar Rp112,75 miliar tidak dapat menutupi boncos-nya beban operasional tersebut.

Jika dirinci, pendapatan bunga bersih yang diraih Bank Neo Commerce merangkak naik 21% yoy dari Rp92,83 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp112,75 miliar pada semester I-2021. Meski ditambah pendapatan operasional sebesar Rp31,69 miliar, BBYB tidak kuasa untuk menutup pengeluaran besar dari pos beban operasional.

Capaian ini membuat laba per saham  (earning per share/EPS)  Bank Neo Commerce ikut menjadi negatif. EPS BBYB berbalik dari Rp3,59 menjadi minus Rp22,57 per lembar saham. (RCS)

Berita Terkait