Meski Resesi, Simak 7 Ciri Tren Ekonomi Indonesia Mulai Pulih

JAKARTA – Indonesia memang resmi memasuki jurang resesi ekonomi. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia berada di zona negatif dalam dua kuartal berturut-turut akibat terpukul pandemi COVID-19.

Ekonomi kuartal III-2020 berada di zona negatif 3,49%, lebih baik dari kontraksi kuartal sebelumnya 5,32% secara tahunan (year-on-year/yoy). Namun, secara kuartalan (quarter-to-quarter/qoq) ekonomi Tanah Air tumbuh 5,05%.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan realisasi ekonomi triwulan III yang lebih baik dari kuartal sebelumnya menandakan Indonesia telah melewati kondisi terburuk akibat pandemi COVID-19.

Sri Mulyani mengatakan hal itu dapat terlihat dari realisasi di hampir semua indikator pembentuk PDB, baik dari sisi pengeluaran maupun sisi lapangan usaha yang menunjukkan tanda-tanda pembalikan.

“Dengan berbagai fenomena titik balik atau turning point itu menunjukkan kondisi terburuk akibat COVID-19 telah terlewati pada kuartal II,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 5 November 2020.

Sri Mulyani merinci sektor yang paling mengalami perbaikan pada triwulan III adalah transportasi dan pergudangan yaitu pada triwulan II minus 30,8% menjadi minus 16,7%.

Lanskap pemukiman dan gedung pencakar langit diambil dari kawasan Grogol, Jakarta, Kamis, 5 November 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
Kondisi Terburuk Sudah Lewat

Kemudian sektor penyediaan makanan dan minuman yang pada triwulan II mengalami kontraksi mencapai 22% saat ini telah mengalami perbaikan ke level minus 11,9%. Sektor industri pengolahan turut mengalami perbaikan dari minus 6,2% pada triwulan II menjadi minus 4,3% pada triwulan III.

“Kalau lihat industri pengolahan yang kontribusinya besar baik dari sisi pajak maupun penciptaan kesempatan kerja mengalami pertumbuhan minus 4,3 persen,” ujar Sri Mulyani.

Ia melanjutkan sepanjang tahun ini penerimaan perpajakan terendah terjadi pada Mei dan terus mampu mengalami peningkatan di bulan-bulan selanjutnya hingga sekarang.

“Ini menginformasi bahwa yang terburuk terjadi pada triwulan II. Sejak Juni sampai sekarang terlihat adanya tren perbaikan yang ini akan terus dijaga,” tegas Sri Mulyani.

Menurut dia, penerimaan perpajakan yang mengalami perbaikan dipengaruhi oleh adanya kebijakan pengendalian COVID-19, relaksasi serta pemberian insentif kepada dunia usaha.

Tak hanya itu, Sri Mulyani menyebutkan aktivitas konsumsi juga menunjukkan gejala perbaikan akibat akselerasi belanja pemerintah yang pada triwulan III mencapai 9,8% melalui realisasi berbagai Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Berbagai tren membaik diharapkan dapat saling mendukung sehingga ekonomi akan berangsur kembali pulih. Tapi kita tetap harus meningkatkan kewaspadaan dengan potensi munculnya second wave di berbagai belahan dunia,” kata Sri Mulyani.

Perlu Digenjot

Ekonom Institute for Development of Ecobomics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai pemerintah perlu melakukan perombakan terhadap sejumlah stimulus program PEN. Sebab, program itu dianggap belum efektif mendorong pertumbuhan ekonomi.

Baginya, program stimulus yang tepat dan efektif, dapat memulihkan keadaan perekonomian Indonesia dari resesi. “Yang harus dilakukan adalah merombak stimulus PEN yang dianggap tidak membantu sektor usaha, misalnya Kartu Prakerja, kemudian bantuan subsidi bunga dan penempatan dana di perbankan,” kata Bhima.

Menurut dia, stimulus PEN dapat dialihkan pada industri atau jasa kesehatan, perlindungan sosial, dan penguatan bantuan subsidi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terdampak pandemi COVID-19.

Meski pertumbuhan belanja pemerintah meningkat di atas 9% terhadap PDB dari sebelumnya 8%, porsi ini terbilang masih kecil. “Artinya, serapan belanja PEN ini selain nominalnya masih kecil, harusnya masih bisa ditingkatkan lagi,” tegasnya.

Berikut 7 Ciri Ekonomi RI Pulih dari Resesi:
  1. Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 positif 5,05% dari kuartal sebelumya. Artinya, tren posisi ini sudah kembali ke level 5% seperti saat normal.
  2. Kondisi terburuk akibat COVID-19 sudah dilewati. Terbukti, ekonomi kuartal III-2020 membaik ke negatif 3,49% dari kuartal sebelumnya minus 5,32%.
  3. Purchasing Managers Index (PMI) mulai pulih ke level 52 dari sebelumnya di bawah 50.
  4. Penjualan mobil dan motor melonjak 362,17% dari kuartal sebelumnya menjadi 111.114 unit.
  5. Industri manufaktur naik 5,69% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
  6. Realisasi investasi sektor industri melonjak 37% menembus Rp201,9 triliun.
  7. Ekspor sektor industri mencaapi US$94,36 miliar dan menghasilkan surplus US$8,8 miliar.
Tags:
Covid-19ekonomi nasionalekonomi pulihHeadlineindefmanufakturPertumbuhan Ekonomiresesiresesi ekonomiSri Mulyani Indrawati
%d blogger menyukai ini: