Meski Rem Darurat Anies Makin Panjang, Jangan Takut Sama Resesi!

JAKARTA – Kekhawatiran pasar kembali menguar saat  Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan resmi memperpanjang pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga 11 Oktober 2020 lantaran kasus COVID-19 belum juga menjinak.

Sejak Anies menarik rem darurat, banyak pihak ribut bicara soal resesi. Namun, Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Insukindro menyebut kondisi resesi tidak perlu didramatisasi.

“Resesi merupakan bagian dari siklus perekonomian suatu negara. Resesi, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan lainnya, itu bisa terjadi kapan saja,” kata Insukindro, dikutip laman UGM, Jumat, 25 September 2020.

Resesi, terangnya, adalah bagian dari siklus ekonomi yang dapat diperkirakan dengan fluktuasi ekonomi (fe). Nilai lebih kecil dari nol berarti resesi, dan sebaliknya nilai lebih besar dari nol berarti ekspansi.

Dengan pengertian ini, menurutnya, Indonesia sebenarnya sudah mengalami resesi pada kuartal pertama tahun 2020.

Resesi Versi Insukindro

Dalam penelitian yang ia lakukan beberapa waktu yang lalu menggunakan PDB harga tetap tahun 2010 dan pendekatan HP Filter serta Tren Linier, Insukindro menemukan bahwa fluktuasi ekonomi kuartalan di Indonesia pernah negatif dan juga positif.

“Periode 2020 kuartal satu dan kuartal dua Indonesia mempunyai fluktuasi ekonomi negatif yang berarti resesi. Pada saat yang bersamaan, pertumbuhan ekonomi kuartal ke kuartal di Indonesia juga negatif,” sebut dia.

Ia mengungkapkan narasi yang beredar di masyarakat lebih ke arah yang menakutkan. Seolah-olah belum pernah dialami Indonesia sebelumnya, atau sesuatu yang baru terjadi karena pandemi COVID-19.

Meski demikian, ia mengakui bahwa pandemi membuat resesi yang dialami Indonesia saat ini lebih tajam dari tahun-tahun sebelumnya, dan hal ini merupakan masalah serius yang perlu ditangani.

“Resesi itu sendiri bisa terjadi hampir setiap tahun. Yang akan jadi masalah kalau penurunannya dalam dan lama,” kata Insukindro.

Untuk mendeteksi resesi, ekonom seperti Hubbard menggunakan formula kesenjangan output yang diukur menggunakan PDB riil potensial, sementara ekonom lain seperti Gordon mengukur fluktuasi ekonomi dengan menggunakan PDB riil alamiah.

Meski demikian, dalam kenyataannya potensial output atau natural real GDP tidak dapat diobservasi sehingga sering diproksi dengan menggunakan output perkiraan.

Karenanya ia kemudian mengembangkan persamaan fluktuasi ekonomi. Fluktuasi inilah yang nantinya akan mencerminkan resesi.

Tags:
Anies BaswedanAnies Tarik Rem DaruratHeadlineIndonesia ResesiPSBB Diperketatresesi ekonomi
Ananda Astri Dianka

Ananda Astri Dianka

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: