Meski PMI Manufaktur Pecah Rekor, Industri Pengolahan di Kuartal I-2021 Masih Terkontraksi

05 Mei 2021 15:05 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Ilustrasi industri manufaktur di pabrik saat menghadapi era new normal. / Kemenperin.go.id

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan industri pengolahan masih terkontraksi pada kuartal I-2021. Padahal, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia telah melesat ke posisi 53,2 pada Maret 2021 atau tertinggi sejak 2011.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan, industri manufaktur terkontraksi 1,38% secara tahunan (year on year/yoy). Kendati demikian, industri ini telah bergerak ke zona positif di 0,61% secara kuartalan (quarter to quarter/qtq).

“Industri pengolahan mengalami kontraksi 1,38% karena industri batu bara dan pengilangan migas masih terkontraksi cukup dalam,” kata Suhariyanto dalam konferensi pers, Rabu 5 Mei 2021.

Industri batu bara dan pengilangan migas tercatat terkontraksi hingga 7,70% yoy pada kuartal I-2021. Selain itu, beberapa sektor industri yang masih terpukul cukup dalam pada kuartal I-2021 adalah industri tekstil dan pakaian jadi yang terkontraksi 13,28% yoy, industri pengolahan tembakau dengan minus 9,58%, dan industri alat angkutan yang minus 10,93% yoy.

“Industri alat angkutan berkontraksi karena dipicu produksi mobil dan motor belum optimal kembali,” kata Suhariyanto.

Di sisi lain, beberapa industri lain, kata Suhariyanto mencatatkan pertumbuhan yang menggembirakan. Industri makanan dan minuman (mamin) tumbuh 2,45% yoy, lalu industri kimia, farmasi, dan obat tradisional yang melesat 11,45% yoy.

“Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh pesat seiring adanya kebutuhan permintaan untuk penanganan COVID-19,” terang Suhariyanto.

Kemudian ada industri karet, barang dari karet, dan plastik tumbuh 3,85% yoy dan industri logam dasar yang mencatatkan kenaikan hingga 7,71%.

Manufaktur Terancam Lesu

Geliat industri manufaktur diperkirakan bakal menurun pada Mei 2021.  Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia Anthony Kevin mengatakan bahwa kontraksi kegiatan industri dalam negeri diakibatkan oleh high-base effect. Di samping itu, menurutnya kehadiran hari raya Idulfitri disinyalir akan mempengaruhi kinerja produksi.

“Di samping high-base effect, kehadiran hari raya Idulfitri yang akan memperpendek jam kerja dan kami proyeksikan akan menekan produksi,” ujarnya melalui riset harian yang diterima TrenAsia.com, Selasa 4 Mei 2021.

Berita Terkait