Meski Pandemi, IPO di BEI Justru Melonjak 125%

01 Juni 2020 14:00 WIB

Penulis: Issa Almawadi

Karyawan beraktivitas di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Sejak 3 Mei 2020, Bursa Efek Indonesia (BEI) tak kunjung mencatatkan saham emiten baru (initial public offering/IPO). Namun ternyata, jumlah pencatatan saham emiten baru hingga Mei 2020 sudah melampaui catatan Januari-Mei 2019.

Menurut catatan BEI, total pencatatan saham emiten baru mencapai 27 perusahaan. Jumlah tersebut naik 125% dari periode Januari-Mei 2019 yang hanya mencatat 12 perusahaan.

Bahkan, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna pernah menyampaikan, masih ada 18 perusahaan dalam daftar tunggu (pipline) untuk menggelar IPO tahun ini. Menurut Nyoman, rencana 18 perusahaan itu masih sesuai jadwal.

Selain IPO, beberapa perusahaan juga merencanakan penawaran umum lainnya. Catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total indikasi penawaran diperkirakan mencapai Rp31,6 triliun dari sekitar 67 perusahaan.

Pada awal tahun ini, BEI mematok target akan ada 78 pencatatan efek baru di 2020. Dari jumlah itu, sekitar 57 di antaranya merupakan IPO saham.

Sebagai informasi, sepanjang tahun 2019 BEI mencatat 55 emiten baru, dan merupakan aktivitas. Atas pencapaian tersebut, total jumlah emiten saham di BEI di penghujung tahun 2019 mencapai 668 perusahaan.

Selain itu, aktivitas pencatatan efek di BEI di tahun 2019 juga diikuti oleh 14 pencatatan Exchange Traded Fund (ETF) baru, 2 Efek Beragun Aset (EBA), 2 Obligasi Korporasi Baru, 2 Dana Investasi Real Estate Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (DIRE-KIK) dan 1 Dana Investasi Infrastruktur Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (DINFRA).

Secara total, pada 2019 lalu terdapat 76 pencatatan efek baru di BEI, atau melebihi dari target 75 pencatatan efek baru yang direncanakan. (SKO)

Berita Terkait