Laba BNI Meroket 79 Persen Tembus Rp7,75 Triliun

25 Oktober 2021 12:59 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Laila Ramdhini

Laba BNI Meroket 79 Persen Tembus Rp7,75 Triliun. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (Trenasia.com)

JAKARTA - Emiten pelat merah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mengalami pertumbuhan laba bersih signifikan 79,33% year on year (yoy) pada kuartal III-2021. Laba bersih emiten bersandi saham BBNI ini naik dari Rp4,32 triliun pada kuartal III-2020 menjadi Rp7,75 triliun pada kuartal III-2021.

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan profitabilitas BNI masih terjaga meski adanya penurunan aktivitas bisnis pada kuartal III-2021 akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Hal ini tampak dari pendapatan bunga BNI yang turun dari Rp42,03 triliun pada kuartal III-2020 menjadi Rp37,52 triliun pada kuartal III-2021.

Efisiensi juga menyelamatkan BNI, sebagaimana dilihat dari beban bunga yang turun menjadi Rp8,6 triliun dari sebelumnya Rp14,6 triliun. Profitabilitas BNI mengalami perbaikan dengan mencatatkan penurunan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) dari 88,99% pada kuartal III-2020 menjadi 80,47% pada kuartal III-2021.

“Pertumbuhan laba ini juga utamanya berasal dari pertumbuhan fee based income 16,8 persen yoy dan net interest income 17,6 persen secara yoy,” ujar Royke dalam konferensi pers, Senin, 25 Oktober 2021.

Kinerja intermediasi BBNI tercatat stabil dengan capaian pertumbuhan 3,17% yoy atau lebih tinggi dibandingkan industri yang sebesar 2,2% yoy. 

“Penyaluran kredit di BNI pada sembilan bulan pertama tahun ini cukup stabil, bahkan kami melebihi industri di periode yang sama. Sedikit melambat karena peningkatan kasus COVID-19 nasional dan PPKM yang membuat debitur belum maksimal menarik kredit,” papar Royke.

Kredit BNI secara konsolidasi merangkak naik dari Rp553,10 triliun pada kuartal III-2020 menjadi Rp570,64 triliun pada kuartal III-2021. Peningkatan penyaluran kredit ini diwarnai dengan non performing loan (NPL) BNI yang juga terdorong naik.

NPL gross BNI merangkak naik dari 3,65% pada kuartal III-2020 menjadi 3,81% pada kuartal III-2021. Sedangkan untuk NPL net, angkanya kian mendekati kepala satu, tepatnya 0,90% pada sembilan bulan pertama tahun ini.

Dengan demikian, total aset BNI secara konsolidasi terdongkrak dari 891,34 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp919,45 triliun pada kuartal III-2021. Di sisa tahun ini, Royke bilang akan meneruskan strategi efisiensi dengan ekspansi kredit ke segmen rendah risiko.

“Strateginya adalah mengkombinasikan pendapatan kredit dan biaya dana. Utilisasi dari debitur top tier, pay later di segmen konsumer, efisiensi cost of fund (cof),” tegas Royke.

Berita Terkait