Meski Ada Volatilitas, PT Timah Prediksi Harga Timah Konsisten di Atas US$30,000 per Metrik Ton

08 September 2021 14:45 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Amirudin Zuhri

Tambang seng dan timah hitam di Dairi, Sumatra Utara, milik PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). (bumiresourcesminerals.com)

JAKARTA – Emiten anggota holding tambang MIND ID, PT Timah Tbk (TINS), memprediksi harga timah akan konsisten di atas US$30,000 per metrik ton sepanjang tahun ini.

“Kita memahami volatilitas harga itu didorong oleh supply dan demand. Jika dicek di stok LME (London Metal Exchange), stok itu mengalami penurunan baik di London maupun di Shanghai,” ujar Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TINS Wibisono dalam paparan publik, Rabu, 8 September 2021.

Wibisono menjelaskan harga disebut volatile karena seharusnya harga timah meningkat ketika stok turun karena ini berarti demand-nya meningkat. Namun, yang terjadi malah harga turun dari level US$35.000 ke US$33.000 per metrik ton. 

Ketika mengecek harga real-time di LME pun, harga timah tercatat semakin merosot di level US$31.910 per metrik ton dalam penutupan perdagangan terakhir.“Apakah ini berkaitan dengan rumor atau berkaitan hal yang lain, itu sedang kita dalami,” kata Wibisono.

Meski volatilitas harga masih berlangsung, Wibisono percaya harga timah akan tetap di level di atas US$30.000 per metrik ton sepanjang tahun ini. Ini karena fundamental supply dan demand-nya saat ini masih didorong oleh demand.

“Perseroan meyakini harga itu masih di level US$30.000 ke atas dan ini akan membawa dampak baik kepada perseroan,” ujarnya.

Hingga semester I-2021, TINS sendiri mencatat harga jual rata-rata (average selling price/ASP) timah tercatat sebesar US$27.588 per metrik ton. ASP ini tercatat melonjak 69% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$16.461 per metrik ton.

Meski harga tercatat melonjak pada semester I-2021 ini, catatan produksi dan penjualan logam timah TINS anjlok dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Produksi logam timah tercatat turun 57% menjadi 11.915 metrik ton pada semester I-2021. Pada periode yang sama tahun lalau, produksi tercatat mencapai 27.833 metrik ton. Penjualan juga anjlok 60% menjadi 12.523 metrik ton dari sebelumnya 31.508 metrik ton.

Pendapatan pun tercatat merosot 27% menjadi Rp5,87 triliun per 30 Juni 2021. Dalam periode yang sama tahun lalu, pendapatan tercatat sebesar Rp8,03 triliun. 

Meski pendapatan turun, TINS berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp270 miliar rupiah pada enam bulan pertama 2021. Catatan ini berbanding terbalik dari semester I-2021 yang rugi bersih Rp390 miliar.

 

Berita Terkait