Ada PPKM Darurat, Nilai Tukar Rupiah Tetap Stabil

21 Juli 2021 22:32 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Laila Ramdhini

Ilustrasi. Foto: Ismail Pohan/TreAsia

JAKARTA – Rupiah mengalami depresiasi Setelah bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed mengisyaratkan akan melakukan dua kali kenaikan suku bunga acuan tahun 2023 dalam rapat The Federal Open Market Committee (FOMC) pada15-16 Juni 2021.

Depresiasi rupiah berkisar antara Rp14.220 per US$ dan US$14.530 per US$ karena investor memindahkan modalnya dari pasar negara berkembang.  Meski demikian, Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky menilai rupiah relatif stabil dalam kondisi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

“Sejak saat itu, rupiah relatif stabil di sekitar Rp14.500 per US$, meskipun ada jumlah kasus COVID-19 dan PPKM Darurat di Jawa dan Bali,” tulis dia dalam riset terbaru, Rabu 21 Juli 2021.

Rupiah dinilai cukup kuat karena beberapa faktor eksternal, termasuk sikap The Fed untuk kebijakan moneter yang akomodatif meskipun inflasi AS meningkat lebih tinggi dari perkiraan. Dalam Semiannual Monetary Policy Report kepada Kongres, Jerome Powell, ketua The Fed, menyebutkan AS masih belum mencapai lapangan kerja maksimum.

“Hal ini menunjukkan masih terlalu dini untuk mengubah arah kebijakan moneter,” tambah dia.

Selain itu, untuk mendukung pemulihan ekonomi, People’s Bank of China (PBOC) mengumumkan akan memangkas rasio cadangan wajib (RRR) sebesar 50bps efektif mulai 15 Juli. 

Meskipun beberapa investor memindahkan aset mereka dari pasar negara berkembang seperti Indonesia, investor lain mungkin menempatkan aset mereka dalam portofolio yang lebih berisiko.

Walhasil, dua pengumuman tersebut menghasilkan rupiah yang relatif stabil dan sedikit penurunan arus masuk modal bersih dari US$8,00 juta pada pertengahan Juni 2021 menjadi US$7,34 juta pada pertengahan Juli 2021. 

Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah 1 tahun naik menjadi 3,9% pada pertengahan Juli dari 3,5% pada pertengahan Juni. Sementara imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun tetap stabil di 6,4% antara Juni dan Juli 2021.

Dibandingkan dengan mata uang lain, seperti Real Brasil dan Rupee India, kinerja rupiah relatif lebih baik yakni apresiasi terhadap dolar AS sebesar 1,25% year to date (ytd). 

“Namun, negara tetangga kita seperti Ringgit Malaysia dan Baht Thailand berhasil melampaui kinerja rupiah. Mereka mencatat apresiasi yang lebih tinggi dari tahun ke tahun,” sambung Teuku.

Berita Terkait