Merger BRIS-BNIS-BSM: Mimpi Erick Thohir RI Punya Bank Syariah Raksasa Kelas Dunia

14 Oktober 2020 07:43 WIB

Penulis: Sukirno

Menteri BUMN Erick Thohir dan Wamen BUMN Kartika Widjoatmodjo serta Budi Gunadi Sadikin / Dok. Kementerian BUMN

JAKARTA – Setelah melewati sejumlah periode presiden, akhirnya penggabungan bank-bank syariah milik perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terwujud. Bertahun-tahun, mimpi negara berpenduduk muslim terbesar dunia memiliki bank syariah raksasa kian nyata.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan Indonesia akan memiliki sebuah bank syariah nasional yang solid dan berkaliber global melalui proses bersejarah merger tiga bank syariah milik BUMN yaitu PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS), PT Bank BNI Syariah (BNIS), dan PT Bank Syariah Mandiri (BSM).

Erick menjelaskan, penandatanganan Conditional Merger Agreement (CMA) merupakan awal dari proses bersejarah lahirnya bank umum syariah nasional berkaliber global.

“Saya optimistis, bank syariah hasil merger nanti akan menjadi energi baru bagi perekonomian Indonesia. Sebelum pandemi, kinerja bank-bank syariah di kuartal II lalu sangat positif. Penggabungan ini akan membuat posisi bank syariah nasional lebih besar dan lebih solid sehingga lebih banyak masyarakat Indonesia yang bisa merasakan manfaat kehadiran bank syariah nasional itu,” ujar Erick Thohir dalam pernyataan di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2020.

Penandatanganan CMA Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN melibatkan BRI Syariah, BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri. Penandatanganan CMA berlangsung di Jakarta, Senin, 12 Oktober 2020 malam yang dilakukan oleh Direktur Utama Bank BRI Syariah Ngatari, Direktur Utama Bank BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo, dan Direktur Utama Bank Syariah Mandiri Toni EB Subari.

Turut pula menandatangani kesepakatan tersebut, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Sunarso, Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Sis Apik Wijayanto, dan Plt Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Hery Gunardi. Sehari setelah itu, proses merger dilanjutkan dengan keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Ilustrasi PT BRI Syariah Tbk (BRIS) / Brisyariah.co.id
Top 10 Dunia

Erick menambahkan, pemerintah sudah merencanakan dengan matang pembentukan bank umum syariah (BUS) terbesar pertama di Indonesia itu. Dengan penduduk mayoritas muslim, Erick menilai potensi perbankan syariah masih sangat besar sekaligus memberikan opsi bagi masyarakat atau dunia usaha yang lebih nyaman menggunakan sistem perbankan syariah.

“Keinginan Indonesia memiliki bank umum syariah nasional terbesar di tahun 2021 merupakan bagian dari upaya dan komitmen pemerintah untuk mengembangkan dan menjadikan ekonomi keuangan syariah sebagai pilar baru kekuatan ekonomi nasional,” kata Erick.

Menurut dia, strategi tersebut secara jangka panjang juga akan mendorong Indonesia menjadi salah satu pusat keuangan syariah dunia.

Menurut perhitungan dari OJK, merger tiga bank syariah itu akan menghasilkan satu entitas bank syariah baru dengan total aset senilai Rp207 triliun.

“Karena nawaitu dan tujuan dari penggabungan ini baik, kami mengharapkan dukungan seluruh karyawan ketiga bank, nasabah, dan seluruh masyarakat Indonesia atas proses lahirnya bank syariah milik Indonesia yang akan menjadi bank syariah terbesar di Tanah Air, siap bersaing dengan bank konvensional, dan masuk Top 10 bank syariah di dunia. Insyaallah ini akan menjadi kebanggaan kita semua,” ujar Erick.

Karyawan melayani nasabah di Kantor Cabang Bank BNI Syariah di Jakarta, Rabu 17 Juni 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
10 Bank Beraset Terbesar di Indonesia

Aksi merger nantinya dinilai dapat menaikkan posisi menjadi 10 bank syariah teratas secara global, dan peringkat kedelapan di dalam negeri.

Dengan asumsi pertumbuhan yang konservatif, diharapkan total aset bank syariah hasil merger pada 2025 mencapai Rp390 triliun. Pada saat bersamaan, target penyaluran pembiayaan Rp272 triliun dan pendanaan mencapai Rp335 triliun.

Saat ini, total aset ketiga BUS tersebut mencapai Rp214,7 triliun mengacu pada laporan keuangan per Juni 2020. “Ini adalah upaya pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah di dunia,” kata Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto.

Aksi korporasi merger itu membuat bank syariah pelat merah bakal melesat ke posisi lima bank beraset terbesar di Indonesia. Posisi itu menyodok PT Bank OCBC NISP Tbk (Rp191,5 triliun), PT Bank Pan Indonesia Tbk (Rp185,1 triliun), PT Bank BTPN Tbk (Rp184,9 triliun), dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Rp169,9 triliun).

Jika target aset itu terpenuhi, maka bank syariah hasil merger dapat menggeser posisi PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) yang berada di urutan 6 dengan aset Rp271,8 triliun. Bahkan, posisi BTN yang berada di urutan 5 dengan aset sebesar Rp308,1 triliun pada triwulan I-2020 pun dapat digusur.

Gedung Bank Mandiri Syariah. / Mandirisyariah.co.id
Rampung 2021

Usai penandatanganan CMA, masih terdapat serangkaian proses dan tahapan sebelum merger berlaku efektif, termasuk di antaranya memperoleh persetujuan dari regulator. Targetnya, proses akan rampung pada Februari 2021.

Oleh karena itu, selama proses berjalan, ketiga bank syariah akan tetap menjalankan operasional dan layanan seperti biasa secara optimal, termasuk dana nasabah yang akan tetap terjaga dengan baik dan dijamin sesuai regulasi.

Tercatat beberapa poin penting telah disepakati ketiga himpunan bank-bank milik negara (Himbara) terkait merger tersebut. Pertama, kesepakatan para pemegang saham, yakni Bank Mandiri, BRI, dan BNI. untuk menggabungkan Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah, dan BNI Syariah.

Kedua, seluruh pihak akan mempersiapkan segala sesuatu terkait persiapan penggabungan atau merger untuk mendapatkan surat pernyataan efektif dari OJK paling lambat pada 2021.

Ketiga, hal-hal lain terkait ketentuan mengenai bank hasil penggabungan akan dituangkan dalam klausul Rencana Merger. Keempat, komitmen bersama seluruh bank bahwa tidak akan ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dalam penggabungan tersebut.

“Ini menjadi komitmen kami semua. Ketiga bank syariah, para pemegang sahamnya, dan Kementerian BUMN bahwa dalam proses ini tidak ada PHK. Kita akan menjadi satu keluarga besar. Keluarga besar bank syariah terbesar di Indonesia yang berkaliber global,” kata Erick.

Ilustrasi logo bank-bank syariah BUMN yang bakal merger yakni PT BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT BNI Syariah / Repro
Restu OJK

Sementara itu, aksi korporasi himpunan bank-bank milik negara (Himbara) lewat merger bank syariah didukung OJK. Hal itu dikatakan langsung oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso.

“OJK sangat mendukung upaya merger dan akuisisi di industri perbankan nasional,” kata dia dalam keterangan tertulis.

Dia menjelaskan, aksi peleburan itu akan meningkatkan efisiensi dan daya saing sesuai tujuan OJK untuk membangun industri perbankan yang sehat. Aksi itu juga membuat industri perbankan memiliki daya saing dan bisa memberikan kualitas layanan yang lebih baik serta untuk memberikan kontribusi terbaik dalam pembangunan ekonomi.

OJK, kata Wimboh, telah menerima informasi awal dan akan memfasilitasi dengan berbagai kebijakan dan ketentuan agar aksi korporasi ini berjalan sesuai dengan tahapan waktu yang direncanakan.

Penggabungan tiga bank syariah BUMN ini juga sejalan dengan upaya Indonesia menjadi sentra pengembangan keuangan syariah. Saat ini peringkat Indonesia sudah berada di posisi empat besar dalam pengembangan industri keuangan syariah berdasarkan Islamic Finance Development Indicator. (SKO)

Berita Terkait