Merck Klaim Obat Buatannya Mengurangi Separuh Risiko Rawat Inap COVID-19

03 Oktober 2021 17:19 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

Editor: Amirudin Zuhri

Obat yang disebut molnupiravir tersebut dikembangkan oleh Merck dan Ridgeback Biotherapeutics dan bisa menjadi obat oral pertama yang secara khusus disetujui untuk pengobatan COVID-19 (Merck)

WASHINGTON-Produsen obat Merck pada Jumat 1 Oktober 2021 mengumumkan  uji klinis tahap akhir sebuah pil antivirus baru buatan mereka terbukti mampu mengurangi separuh kemungkinan pasien yang didiagnosis dengan COVID-19 akan berakhir di rumah sakit atau meninggal karena penyakit itu.

Obat yang disebut molnupiravir tersebut dikembangkan oleh Merck dan Ridgeback Biotherapeutics dan bisa menjadi obat oral pertama yang secara khusus disetujui untuk pengobatan COVID-19, dengan asumsi Badan Pengawas Obat dan Makanan atau Food and Drug Administration (FDA) Amerika  mengizinkan penggunaannya.  Namun laporan menyebutkan data dari uji coba belum peer-review, sehingga keamanan dan kemanjuran obat masih perlu dikonfirmasi.

Menurut sebuah laporan yang diterbitkan 13 September 2021 di jurnal Nature Structural & Molecular Biology disebutkan pil tersebut bekerja dengan memasukkan mutasi ke dalam materi genetik virus corona, atau RNA ketika virus mencoba membuat salinan dari dirinya sendiri.

Pada dasarnya setelah diubah menjadi bentuk aktifnya di dalam tubuh, obat tersebut meniru blok bangunan RNA dan memasukkan dirinya ke dalam urutan RNA yang sedang tumbuh, sehingga memperkuat kerja. 

Dr. Andy Pavia, Kepala Division of Pediatric Infectious Diseases di Universitas Utah kepada Stat News mengatakan  mekanisme antivirus ini agak tidak biasa, jadi data keamanan dari uji coba perlu dinilai dengan hati-hati untuk melihat apakah pil tersebut memiliki efek yang tidak diinginkan,.

Wendy Holman, Chief Executive Officer Ridgeback Biotherapeutics  mengatakan, dengan virus yang terus beredar luas, dan pilihan terapi yang tersedia saat ini memerlukan akses ke fasilitas kesehatan, perawatan antivirus yang dapat dilakukan di rumah untuk mencegah orang dengan COVID-19 harus ke rumah sakit sangat dibutuhkan.

Merck dalam pernyataannya mengatakan uji coba melibatkan 775 orang dewasa yang didiagnosis dengan COVID-19 ringan hingga sedang. Masing -masing peserta memiliki setidaknya satu faktor risiko yang terkait dengan hasil COVID-19 yang buruk, seperti diabetes atau penyakit jantung. Dalam lima hari setelah gejala berkembang, para peserta secara acak menerima molnupiravir atau pil plasebo (pil palsu) selama lima hari. Peserta minum dua pil sehari selama lima hari.

Setelah 29 hari sejak awal pengobatan, 53 pasien, atau 14,1%, pada kelompok plasebo dirawat di rumah sakit atau meninggal karena COVID-19. Di antara mereka yang menerima molnupiravir hanya 28, atau 7,3%, dirawat di rumah sakit dan tidak ada kematian yang dilaporkan dalam kelompok tersebut.

Pernyataan Merck hanya sedikit mengungkap informasi tentang efek samping, tetapi menyatakan bahwa tingkat "efek samping" mirip antara kelompok pengobatan dan plasebo. Secara khusus, 35% dari mereka yang menerima molnupiravir dan 40% dari mereka yang menerima plasebo mengalami beberapa jenis efek samping. Secara total 1,3% dari peserta yang diobati dengan molnupiravir berhenti minum pil karena efek ini, dibandingkan dengan 3,4% yang berhenti memakai plasebo. Tidak ada penjelasan apakah efek samping ini terkait dengan pil itu sendiri atau hanya gejala COVID-19. 

Kepala penelitian dan pengembangan Merck, Dean Li, mengatakan kepada Stat News bahwa dalam penilaian awal ini, tidak ada efek samping khusus yang lebih umum dari molnupiravir, tetapi data yang lebih rinci akan tersedia di masa mendatang.

Berdasarkan hasil positif ini, Komite Pemantau Data independen dan FDA menyarankan pembuat obat untuk berhenti merekrut peserta baru ke uji coba, karena pada titik ini, memberi pasien COVID-19 plasebo alih-alih pil akan menjadi tidak etis.

"Fakta bahwa uji klinis baru dihentikan oleh Badan Pengawasan Data dan Keamanan lebih awal karena kemanjuran yang luar biasa serta dianggap tidak etis untuk dilanjutkan karena  akan dianggap sebagai momen Eureka dalam perang melawan COVID," kata Dr. Eric Topol, seorang profesor kedokteran molekuler di Scripps Research yang   bertugas di beberapa komite penasihat FDA, menulis dalam sebuah tweet.

Merck dan Ridgeback Biotherapeutics berencana untuk mengajukan aplikasi untuk Otorisasi Penggunaan Darurat ke FDA sesegera mungkin dan juga akan mengajukan izin dari badan pengatur di negara lain. Merck mengatakan dapat memproduksi 10 juta molnupiravir pada akhir 2021.

Berita Terkait