Menunggu Merpati akan Terbang Lagi

TrenAsia (TA) -  

JAKARTA– Maskapai Merpati sudah lama tidak terbang. Maskapai plat merah dengan nama perusahaan PT Merpati Nusantara Airlines ini akan kembali terbang tahun depan. Namun, sejumlah utang masih bersengkata di Pengadilan Niaga Surabaya.

Merpati disebut akan menggunakan armada pabrikan Rusia. Maskapai pelat merah ini juga berencana melayani penerbangan dengan rute di Indonesia bagian timur.  “Plan-nya (rencana) demikian (pakai pesawat buatan Rusia). Jenis pesawat yang akan digunakan adalah Irkut MC-21. Di Rusia disebut MS 21, di market dinamakan MC 21. Pesawat buatan Rusia ini merupakan saingan Airbus dan Boeing,” kata Presiden Direktur Merpati Asep Eka Nugraha.

Dari wikipedia.com, Irkut MS-21 adalah serangkaian tiga pesawat jet bermesin ganda short-range dan mid-range Rusia dengan kapasitas 150-212 penumpang yang sedang dikembangkan dan diproduksi oleh Irkut dan Yakovlev Biro Desain dari kelompok United Aircraft Corporation (UAC). Desain didasarkan pada pesawat yang tidak pernah terwujudkan, Yakovlev Yak-242 bermesin dua merupakan pengembangan dari Yakovlev Yak-42 bermesin tiga.

Pemodal Merpati

Merpati belum menjelaskan lebih rinci kapan pembelian pesawat tersebut dilakukan. Namun, mereka menyatakan penerbangan kembali maskapai itu karena mereka telah mendapatkan suntikan modal dari PT Intra Asia Corpora. Perusahaan itu menanamkan modalnya Rp6,4 triliun. 

Perusahaan tersebut bergerak di sektor investasi. Perusahaan ini juga bergerak di bidang keuangan, travel, pengiriman barang dan penerbangan yang berbasis di Jakarta. Intra Asia Corpora juga terafiliasi dengan Asuransi Intra Asia dan PT Cipendawa Tbk.

Kesepakatan pemberian modal ke Merpati dilaksanakan pada Agustus silam di Conference Room lantai 9 PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) atau PPA. Selaku mitra strategis terpilih, Intra Asia Corpora menyetorkan modal dengan jumlah tersebut dalam dua tahun setelah seluruh persyaratan terpenuhi. 

Pelaksanaan penandatanganan perjanjian ini merupakan bagian rangkaian kegiatan Merpati dalam proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) agar dapat menyusun proposal perdamaian yang berisi skema restrukturisasi hutang para kreditur sebagaimana putusan Pengadilan Niaga Surabaya.

Para pihak yang menandatangani perjanjian ini adalah Presiden Direktur Merpati Asep Ekanugraha dan Direktur Intra Asia Corpora Kim Johanes Mulia, dihadapan Notaris Mohamat Hatta, SH dan disaksikan oleh Direktur Utama PPA Henry Sihotang, Direktur Konsultasi Bisnis dan Aset Manajemen PPA Andi Saddawero, Kepala Bidang Restrukturisasi Kementerian BUMN Aditya Dharwantara serta tim teknis Merpati, Intra Asia Corpora dan PPA.

PKPU

Tapi, suntikan modal tersebut bersyarat bahwa Putusan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dikabulkan oleh Pengadilan Niaga Surabaya. Bahkan, Merpati juga masih disebut terancam pailit. Sebab hasil voting PKPU tak mencapai kuorum untuk homologasi. 

Kementerian Keuangan sebagai kreditur separatis menolak perdamaian. Kementerian Keuangan memiliki tagihan sebesar Rp2,66 triliun. Sementara sisa tagihan dari PT Bank Mandiri Rp254,08 miliar dan PT Perusahaan Pengelolaan Aset Rp964,98 miliar. Total tagihan PKPU Merpati mencapai Rp10,95 triliun.  

Selain kreditor separatis, ada juga tagihan preferen (prioritas) senilai Rp 1,09 triliun, dan konkuren (tanpa jaminan) senilai Rp 5,99 triliun. ***(GEM)