Mentan Dorong Bisnis Porang Sampai Pascapanen dan Industri

20 Juli 2021 05:02 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Sukirno

Tanaman umbi porang yang bernilai ekspor / Dok. Kementerian Pertanian (Kementan)

JAKARTA – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong bisnis tanaman porang dari budidaya sampai pascapanen dan industri. Hasil olahan porang biasa jadi produk diet dan pangan sehat, antara lain, mie dan beras shirataki. 

"Kita mendorong agar para gubernur bersama para bupati mengakselerasi tanaman porang lebih kuat karena porang itu bisa menjadi beras, porang itu bisa menjadi kosmetik, bisa menjadi farmasi dan berbagai turunan yang ada," ujarnya, Senin, 19 Juli 2021.

Ia juga mendorong peningkatan penanaman porang bersama dengan Bupati Pangkep, Muhammad Yusran Lalogau dengan menargetkan minimal 1000 ha pertanaman porang. Salah satunya di Kecamatan Balocci yang memiliki potensi porang seluas 550 ha.

"Penanaman porang ini nanti akan dilakukan secara bertahap. Porang ini tidak gampang karena membutuhkan modal. Sesuai arahan Presiden kredit usaha rakyat atau KUR harus di fasilitasi dan kita akan terus mendorong masyarakat untuk melakukan penanaman," tambah Mentan.

Syahrul bilang, porang sudah ada di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan sejak 2012. Namun, petani mengambil dari hutan-hutan dan baru mulai berkembang sejak 2 tahun yang lalu. 

Di sisi lain, budidaya masih tradisional tanpa ada perlakuan khusus. Mentan mendorong perbaikan dan peningkatan hasil porang dengan teknologi budidaya yang lebih baik seperti dengan pengolahan tanah, pemupukan organik.

"Pendirian industri olahan porang untuk pembuatan tepung dan beras porang diharapkan kedepannya dapat mengurangi sampai menutup impor beras shirataki dari luar," ucapnya.

Bupati Pangkep, Muhammad Yusran Lalogau mengatakan masyarakat sudah diberikan bimbingan teknis dalam penanaman porang yang baik sehingga ia berharap masyarakat dapat melakukan beralih dari penanaman dengan metode tradisional.

"Untuk seluruh masyarakat saya berharap kita dapat meningkatkan perekonomian kita dengan pengembangan komoditas porang ini. Kalo bisa komoditi ini juga menjadi andalan kabupaten Pangkep," kata Yusran.

Bersamaan dengan itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi mengatakan pengembangan budidaya porang di Provinsi Sulawesi Selatan melalui fasilitasi bantuan pemerintah dimulai pada tahun 2020.

Pada saat itu, terdapat lahan seluas 577 ha meliputi bantuan seluas 13 ha untuk pilot project atau kebun bibit yang dikerjakan oleh Kabupaten Sidrap, Bantaeng dan Universitas Hasanudin serta 564 ha bantuan pupuk yang dialokasikan di 6 kabupaten. 

"Tahun 2021 Provinsi Sulawesi Selatan mendapat alokasi kegiatan porang seluas 20 ha di 11 Kabupaten diantaranya Kabupaten Soppeng, Sidenreng Rappang, Wajo, Sinjai, Barru, Maros, Bantaeng, Takalar, Bulukumba dan Luwu Utara dengan bantuan full paket benih dan pupuk," ucap Suwandi.

Meningkatnya penanaman porang dipicu oleh meningkatnya minat petani bercocok tanam porang karena adanya tingkat keuntungan yang memadai, berkembangnya industri olahan berbahan baku, serta didukung oleh kesesuaian lahan. 

"Oleh karena itu saya harapkan kondisi seperti ini terus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan sehingga dimasa yang akan datang produksi porang Nasional akan terus berkembang tentu tanpa mengganggu pengembangan komoditas pangan lainnya," tukas Suwandi.

Berita Terkait