Menko Airlangga: Harga Sawit Tembus Rekor Tertinggi pada November 2021

15 November 2021 10:37 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Vega Aulia

Menko Airlangga: Harga Sawit Tembus Rekor Tertinggi pada November 2021 (Kemenko Perekonomian.)

JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa harga crude palm oil (CPO) pada awal November tahun ini menembus harga tertinggi sepanjang masa (all time high).

Menurut catatan yang diperoleh Kemenko Perekonomian, harga CPO November berada pada level harga US$1.435 setara Rp20,37 juta per ton.

Level harga CPO pada November melesat cukup tinggi dibandingkan bulan September yang mencapai US$1.235 per ton dan Agustus yang mencapai US$1.226 per ton. Pada akhir Oktober lalu, harga CPO juga mengalami kenaikan cukup tinggi menjadi sebesar US$1.300 per ton. Hingga akhir tahun, harga CPO diperkirakan terus naik.

Airlangga menyebutkan, kontribusi sawit terhadap devisa negara tahun ini diperkirakan lebih besar dibandingkan tahun lalu.

“Industri kelapa sawit berkontribusi pada ekspor nasional sebesar 15,6% dari total ekspor di tahun 2020. Nilai tersebut tentu menjadi salah satu penyumbang devisa yang secara konsisten terus meningkat meskipun di masa pandemi," ujar Airlangga dalam keterangan resmi seperti dikutip Senin, 15 November 2021.

Dia mengatakan bersamaan dengan lonjakan harga CPO, Nilai Tukar Petani meningkat dengan harga antara Rp2.800/kg sampai Rp3.000/kg untuk Tandan Buah Segar.

Pemerintah, kata dia, terus berkomitmen melakukan replanting dengan target seluas 540.000 hektar yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

"Bagi lahan yang produktivitasnya kurang dari 4 ton bisa ditingkatkan dengan program replanting dan bibit unggul yang berbasis pada Good Agriculture Practices," katanya.

Menurut Airlangga, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas dari sektor pertanian yang memiliki daya tahan dan yang ikut serta menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga 2021.

Sawit, bersama dengan batu bara, komoditas tambang dan migas mengalami kenaikan harga di pasar global yang kemudian mengerek nilai ekspor menjadi US$61,42 miliar setara Rp872,16 triliun, atau tumbuh 50,9% year-on-year (yoy) pada kuartal III-2021.

Airlangga menegaskan pemerintah bertujuan agar Indonesia dapat menjadi produsen sawit terbesar dan mendorong hilirisasi atau pengembangan produk turunannya, serta mendorong penciptaan lapangan pekerjaan.

"Roadmap hilirisasi telah disiapkan, antara lain yaitu peningkatan produktivitas, penunjang kegiatan hilir seperti oleofood, oleokimia dan biofuel, penciptaan ekosistem, tata kelola, capacity building dan pengembangan teknologi untuk pengembangan usaha kelapa sawit," katanya.

Berita Terkait