Menjaga Indonesia dari Jurang Resesi

10 Agustus 2020 09:11 WIB

Penulis: Issa Almawadi

Kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat sore, 24 Juli 2020, ditutup melemah seiring kekhawatiran ancaman resesi ekonomi Indonesia. / Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

undefined

JAKARTA – Resesi ekonomi menjadi isu yang paling banyak dibicarakan dunia pada tahun ini. Terlebih dengan adanya pandemi COVID-19 yang memukul hampir seluruh sektor bisnis dunia.

Bagi Indonesia, resesi ekonomi memang belum terjadi. Terlebih, pertumbuhan ekonomi Indonesia baru menyentuh level negatif pada kuartal II-2020, sementara pada kuartal I-2020 masih berada di zona positif.

Secara sederhana, CEO Finvesol Consulting Fendi Susiyanto menyampaikan, resesi ekonomi terjadi jika suatu negara mencatat pertumbuhan ekonomi minus dalam dua kuartal secara beruntun. “Jika mengacu definisi itu, Indonesia belum dikatakan alami resesi,” ungkap Fendi yang juga pemilik OmFin Channel di kanal Youtube ini.

Bahkan, Fendi juga melihat, Indonesia masih mencatatkan nilai ekspor yang positif. Sementara penyumbang pertumbuhan negatif dari sektor konsumsi.

Pemerintah dan negara-negara terdampak COVID-19 memang sudah memutar otak agar tidak jatuh ke jurang resesi. Pada 27 Maret 2020 misalnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pernah menyampaikan, para pemimpin negara anggota G20 telah merumuskan kebijakan untuk melawan resesi.

“Misalnya dengan menjaga supply side. Karena dalam situasi penanganan COVID-19, terjadi kompetisi dalam masalah perdagangan,” jelas Sri Mulyani dikutip Setkab.go.id.

Pada kesempatan lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga mendorong pemulihan ekonomi dengan pembukaan kegiatan atau penyesuaian kegiatan ekonomi setelah kurva COVID-19 melandai. Dengan begitu, Indonesia diharapkan bisa keluar dari resesi ekonomi.

Dari berbagai sumber yang dikutip Wikipedia, resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi) atau kebalikannya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi).

Di sisi lain, Bank Indonesia melakukan bauran kebijakan untuk memitigasi risiko dampak COVID-19 terhadap perekonomian, serta bersinergi erat mengambil langkah-langkah kebijakan lanjutan yang diperlukan secara terkoordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Bagaimana Indonesia ke depan?

Bank Indonesia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi akan menurun pada kisaran 0,9%-1,9% pada 2020 dan kembali meningkat pada kisaran 5%-6% pada 2021. Pertumbuhan tersebut disertai dengan inflasi yang terjaga dalam sasarannya 3,0%±1%.

Sementara itu, defisit transaksi berjalan diprakirakan sekitar 1,5% produk domestik bruto (PDB) pada 2020 dan di bawah 2,5%-3,0% PDB pada 2021.

Fendi menilai, ekonomi pada kuartal II-2020 menjadi yang terendah. Dia pun berharap, ekonomi Indonesia bisa tumbuh positif 0,3% pada akhir tahun 2020 dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2020 berkisar 3,7%.

“Seiring dengan membaiknya konsumsi rumah tangga dan konsumsi lembaga non profit yang melayanan rumah tangga, dan pertumbuhan ekspor Indonesia,” jelas Fendi.

Seperti diketahui, ekonomi Indonesia kuartal II-2020 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 5,32% dari periode sama 2019. Kontraksi pertumbuhan tertinggi terjadi sisi produksi, lapangan usaha, transportasi dan pergudangan atau mencapai 30,84%.

Berita Terkait