Menilik Strategi BNI Mengerek Profitabilitas dengan Membidik Segmen Risiko Rendah

06 September 2021 18:06 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Karyawan beraktivitas di salah satu cabang Bank Negara Indonesia (BNI) di Jakarta, Rabu, 23 Juni 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Emiten pelat merah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) tercatat jadi salah satu bank yang berhasil menjaga stabilitas profitabilitas pada paruh tahun ini. Direktur Keuangan (Dirkeu) BNI Novita Widya Anggraini mengatakan profitabilitas perseroan di tahun ini ditopang dari strategi intermediasi berkelanjutan.

Profitabilitas bank pelat merah tercermin dari Return on Equity (ROE) yang merangkak naik 130 basis poin (bps) dari 8,7% pada semester I-2020 menjadi 10% pada semester I-2021. Di balik pertumbuhan ROE ini, BNI rupanya fokus menggenjot penyaluran kredit rendah risko.

Dari segmen wholesale banking, Novita mengungkapkan perseroan fokus membidik korporasi swasta bluechip. Bisnis dengan fundamental yang kokoh ini dinilai perseroan memiliki prospek cerah untuk terus menambah profitabilitas.

“Tentunya tidak mudah, dalam jangka menengah. Strateginya adalah tumbuh di kredit sehat dan sustain dan fokus pada perusahaan korporasi swasta blue chip dan ini sudah terlihat di mana debitur kami banyak yang bisnisnya sudah pulih,” ujar Novita dalam paparan publik, Senin, 6 September 2021.

Segmen corporate private ini tercatat tumbuh 7,9% yoy pada paruh pertama tahun ini. Baki debet segmen ini menembus Rp179,1 triliun.

Mitigasi tampaknya menjadi aspek yang paling disoroti perseroan pada tahun ini. Pasalnya, selain membidik debitur dari korporasi blue chip, BNI juga memiliki fokus penyaluran ke Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Kami fokus pada segmen rendah risiko seperti KUR yang dijamin pemerintah,” jelas Novita.

Selain minim risiko, kredit yang masuk pada segmen small business ini rupanya progresif dengan pertumbuhan 20% yoy pada semester I-2021. Adapun nilai kreditnya mencapai Rp91 triliun.

Kredit Konsumer

Lebih lanjut, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini menyasar segmen kredit konsumer yang berbasis payroll loan. Hingga semester I-2021, segmen ini telah tumbuh 19,6% dengan nilai kredit sebesar Rp32,7 triliun.

BNI secara konsolidasian telah menyalurkan kredit sebesar Rp569,7 triliun pada semester I-2021 atau tumbuh 4,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Strategi ini menjadi tumpuan utama bagi BNI untuk meraih target pertumbuhan kredit sebesar 5%-7% pada 2021.

Profitabilitas BNI juga ditopang oleh kemampuan cost of fund (COF) yang susut menjadi 1,7% dari sebelumnya 2,9% pada semester I-2020. Di balik menyusutnya COF, rupanya BNI berhasil meningkatkan dana murah atau CASA hingga 11,5% yoy pada semester I-2021.

Posisi CASA BNI pada semester I-2021 bertengger di angka Rp450,1 triliun. Dengan memperhitungkan total Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp646,8 triliun, maka rasio CASA BNI pada semester I-2021 mencapai 69,6%.

“Capaian rasio CASA ini merupakan tertinggi selama 10 tahun terakhir. Dengan rasio CASA yang meningkat, net interest margin (NIM) perseroan juga ikut terdongkrak 400bps menjadi 4,9% dari sebelumnya 4,5%,” jelas Novita.

ROE yang menjadi acuan profitabilitas perseroan ditargetkan bisa menyentuh 16%. “Tentunya tidak mudah akan kami tempuh dalam jangka menengah (target ROE),” papar Novita.

Profitabilitas BNI semakin di atas angin usai meraih kinerja positif dari sisi pendapatan operasional. Hal ini tercermin dari pendapatan operasional BNI pada semester I-2021 yang tumbuh double digit 19,2% yoy. 

Pendapatan non-bunga BNI merangkak dari Rp23,31 triliun pada semester I-2020 menjadi Rp27,79 triliun pada semester I-2021. Profitabilitas yang terjaga ini berimbas pada raihan laba bersih BBNI yang terungkit 12,8% yoy menjadi Rp5,02 triliun pada paruh pertama tahun ini.

Berita Terkait