Mengulik Manis Getirnya Kinerja Saham Emiten Baru 2021

28 September 2021 09:59 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Rizky C. Septania

Warga megakses logo Bukalapak melalui website di Jakarta, Kamis, 24 Juni 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) sempat membuat heboh pasar modal Indonesia. Bagaimana tidak, raksasa e-commerce lokal ini menjadi unicorn pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Nilai emisi yang diraih juga tidak tanggung-tanggung. Dengan melepas 103.062.019.354 saham baru dengan harga pelaksanaan Rp850 per lembar, perusahaan yang didirikan oleh Achmad Zaky itu meraup dana segar hingga Rp21,9 triliun. Terbesar sepanjang sejarah BEI.

Pada masa penawaran awal, saham BUKA juga jadi buruan banyak investor, di mana terjadi kelebihan pemesanan (oversubscribed) hingga menyentuh angka Rp86,1 triliun. Data yang menunjukkan tingginya minat pada saham emiten e-commerce satu ini.

Di balik euforia tersebut, nyatanya kinerja saham BUKA tak sesuai dengan harapan. Sejak melantai di Bursa pada 6 Agustus 2021, saham BUKA hanya naik sekitar 2,35% saja ke level harga Rp870 per lembar pada penutupan perdagangan Senin, 27 September 2021.

Sempat melonjak 24,71% hingga menyentuh level auto reject atas (ARA) pada debut perdana perdagangannya, pelaku pasar kemudian dikagetkan dengan aksi jual saham BUKA pada perdagangan hari kedua. 

Hal ini membuat saham BUKA terjun bebas setelah sempat kembali menyentuh level ARA pada perdagangan Senin, 9 September 2021. Walaupun masih ditutup pada zona hijau, saham BUKA hanya berhasil naik 4,72% ke level harga Rp1.110 per lembar pada akhir sesi perdagangan hari itu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tak semua perusahaan yang melantai di Bursa akan berbuah manis, setidaknya bukan dalam kurun waktu yang singkat. Walaupun perusahaan disokong oleh nama besar, sejatinya tidak ada seorang pun yang dapat menjamin kondisi pasar "esok hari”.

Pupus Harapan GTSI Milik Keluarga Cendana

Kapal pengangkut Liquid Natural Gas (LNG) milik PT GTS Internasional Tbk (GTSI). / Dok. GTSI

Lebih parah lagi, pil pahit harus ditelan emiten pelayaran milik Hutomo Mandala Putra alias Tomy Soeharto, PT GTS Internasional Tbk (GTSI). Tidak seperti perusahaan yang baru melantai di Bursa pada umumnya, saham GTSI justru ambles 7% hingga auto reject bawah (ARB) pada hari pencatatan pertama di Bursa, Rabu, 8 September 2021.

Koreksi mendalam itu terus berlanjut hingga dua hari kemudian, 10 September 2021. Bahkan, selama tercatat di Bursa, saham GTSI hanya berhasil menguat tiga kali. Rata-rata koreksi saham GTSI di atas satu persen.

Jika diakumulasikan hingga penutupan perdagangan Senin, 27 September 2021, saham GTSI telah terkoreksi 22% menuju level harga Rp78 per lembar saham. Padahal, perseroan mematok harga Rp100 per lembar pada masa IPO.

Entah apa yang sebenarnya membuat saham GTSI terpuruk. Namun, kejatuhan saham GTSI terjadi di tengah sorotan publik atas kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang melibatkan namanya baru-baru ini.

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Hak Tagih Negara dan BLBI memanggil Tommy Soeharto pada akhir Agustus 2021. Dalam agenda tersebut, Satgas BLBI hendak menagih utang Tommy kepada negara senilai Rp2,6 triliun.

Tak selesai disitu, atraksi lain tampaknya sedang dipertontonkan Tommy dengan masuknya PT Sarana Niaga Buana (SNB) sebagai salah satu pemegang saham baru GTSI. Hal ini juga yang memancing pertanyaan sejumlah investor.

SNB yang bergerak pada bidang perindustrian dan pengangkutan darat itu melakukan aksi borong saham GTSI pada 9 September 2021. Perusahaan tersebut menggelontorkan dana sebesar Rp99,61 miliar untuk mencaplok 5,52% saham GTSI.

Berdasarkan pengumuman PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), SNB mengambilalih 873.809.800 saham GTSI pada harga Rp114 per lembar saham. Transaksi ini tentu menjadikan SNB sebagai salah satu pemegang saham GTSI dengan kepemilikan saham di atas 5%.

Ternyata, transaksi dan kerja sama antara SNB dan perusahaan milik bungsu dari Keluarga Cendana ini bukan pertama kali terjadi. Pada 2014, SNB pernah mengakuisisi 39,99% saham PT Humpuss Transportasi Curah (HTC) yang merupakan anak usaha dari PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS).

Akuisisi ini membuat SNB menjadi pemegang saham pengendali HTC. Transaksi itu disebut sebagai langkah Humpuss untuk memperbaiki kinerja keuangan. Pasalnya, HTC dianggap selalu membebani perseroan.

Tommy Soeharto sendiri tercatat sebagai ultimate beneficial owner (UBO) HITS dengan kepemilikan saham langsung sebesar 10,4%. Selain itu, ia juga memiliki 45,52% saham HITS secara tidak langsung lewat PT Humpuss, di mana dirinya memiliki 60% saham.

Pada 2018, Humpuss melalui anak usahanya PT MISI Hutama Internasional (MISI) mengambilalih kembali saham HTC dari Sarana Niaga Buana. Pengambilalihan saham kembali itu membuat HITS yang memiliki 99,9% saham di MISI menjadi pengendali HTC lagi.

Bumi dan Langit

PT Bank Net Syariah Tbk (BANK) atau Bank Aladin / Dok. Perseroan

GTSI menjadi salah satu dari 10 emiten yang pada saat ini harganya berada di bawah harga IPO. Penurunan paling parah justru terjadi pada saham PT Fimperkasa Utama Tbk. Pergerakan saham emiten berkode FIMP tersebut anjlok 62,4% menjadi Rp47 per lembar dari harga IPO-nya, Rp125 per saham.

Saham lain yang longsor ke kategori gocapan adalah emiten pengelola restoran dan bar Lucy In The Sky, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY). Perusahaan milik artis Wulan Guritno itu parkir pada harga Rp59 per lembar, terkoreksi 41% dari harga IPO-nya yang dipatok pada harga Rp100 per lembar.

Bagai bumi dan langit, saham PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) menjadi saham yang meroket paling kencang di antara emiten lain yang melantai di BEI sepanjang 2021. Saham BANK melesat 2.880,58% dari Rp103 per lembar pada saat IPO, menjadi Rp3.070 per lembar.

Capain serupa juga ditorehkan oleh PT Berkah Beton Sadaya Tbk (BEBS). Harga sahamnya telah terbang 1.295% menuju level harga Rp1.395 pada penutupan perdagangan Senin, 27 September 2021. Padahal, produsen bahan konstruksi ini menetapkan harga IPO sebesar Rp100 pada 10 Maret 2021. 

Meskipun tak semoncer dua emiten di atas, saham-saham seperti RUNS, SBMA, UVCR, BMHS, TRUE, LABA, TAPG, SNLK, EDGE, UFOE, dan DGNS tak bisa dianggap sebelah mata. Sebab, 11 saham tersebut telah melonjak ratusan persen sejak pencatatan perdananya.

 

Kinerja 37 Saham Emiten Baru 2021

Nama PerusahaanTickerTanggal PencatatanPapan PencatatanHarga Saham IPOPerubahan Harga (%)*
PT Idea Indonesia Akademi TbkIDEA9/9/2021AkselerasiRp14031,43%
PT Kedoya Adyaraya TbkRSGK8/9/2021UtamaRp1.7204,94%
PT Global Sukses Solusi TbkRUNS8/9/2021AkselerasiRp254214,96%
PT Surya Biru Murni Acetylene TbkSBMA8/9/2021PengembanganRp180132,22%
PT Cemindo Gemilang TbkCMNT8/9/2021UtamaRp68041,18%
PT GTS Internasional TbkGTSI8/9/2021UtamaRp100-22%
PT Prima Andalan Mandiri TbkMCOL7/9/2021UtamaRp1.42014,44%
PT Indo Oil Perkasa Tbk OILS6/9/2021PengembanganRp27025,19%
PT Geoprima Solusi Tbk GPSO6/9/2021PengembanganRp1800,56%
PT Hasnur Internasional Shipping TbkHAIS1/9/2021UtamaRp300-11,33%
PT Bukalapak.com TbkBUKA6/8/2021PengembanganRp8502,35%
PT Trimegah Karya Pratama TbkUVCR27/7/2021AkselerasiRp100590%
PT PAM Mineral Tbk       NICL9/7/2021PengembanganRp100-17%
PT Falmaco Nonwoven Industri TbkFLMC8/7/2021AkselerasiRp20065%
PT Bundamedik Tbk        BMHS6/7/2021UtamaRp340236,76%
PT Era Graharealty Tbk  IPAC30/6/2021AkselerasiRp12070%
PT Bank Multiarta Sentosa TbkMASB30/6/2021PengembanganRp3.500-1,43%
PT Archi Indonesia Tbk   ARCI28/6/2021UtamaRp750-22%
PT Triniti Dinamik Tbk    TRUE10/6/2021PengembanganRp100120%
PT Ladangbaja Murni TbkLABA10/6/2021PengembanganRp125108%
PT Panca Anugrah Wisesa TbkMGLV8/6/2021AkselerasiRp13564,44%
PT Harapan Duta Pertiwi TbkHOPE24/5/2021PengembanganRp1187,63%
PT Lima Dua Lima Tiga TbkLUCY5/5/2021AkselerasiRp100-41%
PT Nusa Palapa Gemilang TbkNPGF14/4/2021UtamaRp10026%
PT Triputra Agro Persada TbkTAPG12/4/2021UtamaRp200190%
PT Fimperkasa Utama TbkFIMP9/4/2021AkselerasiRp125-62,4%
PT Imago Mulia Persada TbkLFLO7/4/2021AkselerasiRp100-17%
PT Zyrexindo Mandiri Buana TbkZYRX30/3/2021PengembanganRp250132%
PT Sunter Lakeside Hotel TbkSNLK29/3/2021PengembanganRp150476,67%
PT Berkah Beton Sadaya TbkBEBS10/3/2021PengembanganRp1001.295%
PT Ulima Nitra TbkUNIQ8/3/2021UtamaRp118-26,27%
PT Indointernet TbkEDGE8/2/2021PengembanganRp7.375257,29%
PT Widodo Makmur Unggas TbkWMUU2/2/2021UtamaRp180-8,33%
PT Damai Sejahtera Abadi TbkUFOE1/2/2021UtamaRp101796,04%
PT Bank Aladin Syariah TbkBANK1/2/2021PengembanganRp1032.880,58%
PT Diagnos Laboratorium Utama TbkDGNS15/1/2021PengembanganRp200230%
PT FAP Agri Tbk FAPA4/1/2021PengembanganRp1.84059,24%

 

*Harga pada penutupan Senin, 27 September 2021

Sumber: Diolah dari data BEI dan RTI Business

Berita Terkait