Mengulik Fenomena Sugar Daddy, Sejarah, Latar Belakang hingga Negara dengan Populasi Terbanyak

24 November 2022 22:00 WIB

Penulis: Rizky C. Septania

Editor: Yosi Winosa

JAKARTA- Istilah sugar daddy pernah populer pada 2021 lalu. Istilah sugar daddy sendiri mengacu pada pria yang menawarkan berbagai dukungan materil maupun finansial kepada seorang wanita yang lebih muda.

Dalam kamus populer Meeriam Webster, sugar daddy biasanya merujuk pada pria kaya yang lebih tua. Adapun wanita yang disponsori secara materil biasanya berperan sebagai 'pacar'.

Pada hubungan antara sugar daddy dan wanita yang ia sponsori atau lebih dikenal dengan sugar baby, biasanya terdapat sebuah kesepakatan. Kesepakatan pun tergantung pada kedua belah pihak. Sebagai contoh, sugar daddy akan memenuhi segala kebutuhan sugar baby seperti tagihan, belanja, sewa rumah, dan lain sebagainya.

Sebagai imbal balik, sugar baby diwajibkan untuk menemani sugar dady dalam level hubungan yang telah mereka sepakati bersama.

Istilah sugar daddy di Indonesia dan di Barat tampaknya mengalami sedikit pergeseran. Kebanyakan masyarakat Indonesia menggunakan istilah sugar daddy cenderung digunakan untuk menyebut  bapak-bapak kaya nan tampan, gagah, stylish, dan menyayangi keluarganya.

Namun, di Barat, sugar daddy adalah sebutan untuk seorang pria dewasa kaya yang menghabiskan banyak uangnya demi menyenangkan kekasih atau simpanannya dalam bentuk berbagai materi atau barang.

Seorang sugar daddy biasanya menghabiskan banyak uang untuk para kekasihnya, sugar baby. Latar belakang mereka kebanyakan adalah seorang pengusaha yang terang-terangan menganggap dirinya memiliki banyak wanita di sekelilingnya.

Ada sejak tahun 1900-an

Meski baru populer saat pandemi, praktik sugar daddy yang menghidupi sugar baby rupanya bukanlah hal baru. Dalam sebuah penelitian yang dimuat dalam laman Reporter Herald yang tayang pada 2013, istilah sugar daddy dan sugar baby sudah ada sejak 1920-an.

Mengutip Reporter Herald Kamis, 24 November 2022, sugar daddy merupakan bahasa slang untuk seorang pria dewasa yang banyak memberikan hadiah dan materi kepada wanita yang umumnya lebih muda sebagai pendampingnya.

Meski tidak diketahui secara pasti, ada pendapat yang menyatakan istilah ini muncul ketika Adolph Spreckels, pewaris kekayaan gula Spreckels menikahi seorang wanita 24 tahun lebih muda darinya, Alma Spreckles pada tahun 1908.

Pada kehidupan rumah tangga mereka, Alma kerap menyebut suaminya yang jauh lebih tua dengan sebutan 'sugar daddy'.

Istilah tersebut kemudian mulai banyak dikenal pada periode 1915 hingga 1920. Sedangkan penggunaan istilah ini secara resmi tercatat pada 1926.

Negara Pencetak Sugar Daddy

Mengutip analisa data dari aplikasi kencan terbesar di dunia, Seeking Arragement, setidaknya ada kisaran satu juta sugar daddy tersebar di seluruh dunia. Di Amerika latin, Meksiko menjadi negara dengan jumlah sugar daddy terbanyak yakni 183.302 orang.

Populasi sugar dadies di Meksiko mencapai 34% dari populasi total Amerika Latin. Di tempat kedua adalah Brasil dengan 141.725 dan Kolombia dengan 73.745, menempati urutan ketiga.

Peringkat keempat ada Peru, Argentina, Chili, Ekuador, Venezuela, Kosta Rika , danPanama.i Di Amerika Latin, jumlah sugar dadies yang tercatat adalah kurang lebih sebanyak 540.444 orang.

Tak kalah dengan Amerika Latin, Asia juga menjadi pencetak sugar daddy dengan jumlah tak beda jauh. Jumlah papa gula di Asia tercatat kisaran 556.000 orang.

Adapun Negara dengan jumlah sugar daddy terbesar di Asia adalah India dengan populasi 338.000 atau 61% dari populasi. Secara mengejutkan, Indonesia menempati posisi kedua dengan jumlah sugar daddies terbanyak yakni 60.250 orang. Disusul Malaysia dengan jumlah sugar daddies kisaran 42.500 orang.

Di posisi keempat, ada Jepang dengan jumlah 32.500, disusul Hongkong dan Taiwan dengan masing-masing jumlah sugar daddy sebanyak 28.600 dan 27.300 orang.

Selanjutnya, ada Vietnam yang menempati posisi tujuh dengan populasi 12.000, Korea Selatan dengan jumlah 7.000, Sri Lanka dengan jumlah 5.000 dan Kamboja dengan jumlah 3.500 orang.

Pendidikan Jadi Katalis

Masih mengutip SeekingArrangement, fenomena adanya sugar daddy rupanya ada kaitannya dengan pendidikan. Menurut pernyataan, negara dengan semakin banyak dan penetrasi pendidikan tinggi dan semakin mahal biaya kuliah, maka negara tersebut akan semakin rentan terjadi fenomena sugar daddy.

Sebagai contoh, pada 2018, sejumlah mahasiswa memiliki utang dalam bentuk pinjaman pendidikan sebanyak US$3,97 miliar atau kisaran Rp146 triliun (asumsi kurs Rp15.600 perdolar AS).

Hal serupa juga terjadi di Jepang dan Korea Selatan. Jepang memiliki 90 persen permintaan pendidikan tinggi sementara Korea Selatan memiliki 76 persen.

Tapi kesenjangan yang mengkhawatirkan antara si kaya dan si miskin adalah penyebab lain menurut CEO SeekingArrangement Brandon Wade. Hal ini secara tidak langsung menyebabkan banyak wanita mencari pria yang lebih tua untuk memperkaya diri.

Berita Terkait