Mengukur Kekuatan IHSG Menuju Level Psikologis 7.000 di Tengah Invasi Rusia ke Ukraina

11 Maret 2022 09:02 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Fakhri Rezy

Layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin, 25 Oktober 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA - Invasi militer Rusia terhadap Ukraina telah memasuki pekan kedua sejak Rusia meluncurkan serangan pada 24 Februari 2022. Ketegangan geopolitik ini berdampak pada melonjaknya harga komoditas utama dunia.

Misalnya, minyak, gas alam, nikel, gandum, dan minyak biji bunga matahari. Sedangkan, batu bara, tembaga, dan palladium menembus harga tertinggi sepanjang masa, dengan minyak dan nikel menyentuh level tertinggi dalam lebih dari 10 tahun terakhir.

Kondisi ini membuat para pelaku pasar mengkhawatirkan terjadinya potensi stagflasi yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Bahkan negara-negara perekonomian maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa telah mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi sejak kuartal III-2021.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama justru berpendapat Indonesia akan meraih keuntungan dari kenaikan harga batu bara, nikel, dan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

“Hal ini akibat adanya potensi peningkatan aliran dana asing (capital inflow) ke dalam negeri,” ujarnya dalam Webinar Media Day, Kamis, 10 Maret 2022.

Di sisi lain, kata Nafan, kebijakan pengetatan dari Federal Reserve (The Fed) yang tidak terlalu agresif mulai bulan ini tidak akan terlalu berdampak pada terjadinya capital outflow. Sebab, kinerja fundamental makroekonomi Indonesia yang cenderung solid.

Data makroekonomi Indonesia menunjukkan bahwa tingkat inflasi di Tanah Air masih terkendali. Surplusnya kinerja neraca perdagangan, neraca pembayaran, maupun transaksi berjalan, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada akhir tahun ini secara umum masih cenderung membentuk pola V-shape.

Pertumbuhan PDB Indonesia pada kuartal I-2022 diproyeksikan berada pada 4,87%, sementara untuk outlook pertumbuhan ekonomi 2022 diproyeksikan berada pada 5%. Sedangkan inflasi tahunan Indonesia tercatat 2,06% year-on-year (yoy).

Selama Februari 2022, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus memecahkan rekor tertinggi terbaru. Walaupun angka COVID-19 sempat mencapai puncak pada pertengahan bulan kemarin, namun tidak menghalangi investor asing untuk terus memburu saham-saham di bursa Indonesia, terutama saham perbankan.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Martha Christina mencatat investor asing melakukan aksi beli bersih (net buy) pada Februari 2022 sebesar Rp16,1 triliun, dan IHSG tercatat menguat 3,9% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Dirinya memperkirakan momentum kenaikan IHSG akan terus berlanjut pada Maret 2022. Di tengah memanasnya situasi geopolitik di kawasan Eropa Timur dan rencana penaikan suku bunga The Fed, Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan IHSG akan mampu menembus level 7.000.

“Penguatan IHSG akan ditopang lonjakan harga komoditas sebagai imbas sanksi yang diterima Rusia dan musim laporan keuangan tahun 2021 yang akan mencapai puncaknya pada bulan ini,” tutur dia.

Selama bulan ini, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi di dua sektor, yaitu perbankan dan pertambangan batu bara, serta menambah dua sektor lain, yakni pertambangan logam dan perkebunan. Adapun emiten pilihan di antaranya BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, ITMG, PTBA, ADRO, ADMR, ANTM, INCO, AALI dan LSIP.

Martha menjelaskan, penguatan harga komoditas terutama batu bara, nikel dan CPO membuat sahamnya menarik untuk dicermati, karena menjanjikan kinerja yang bagus di kuartal pertama tahun ini. Sementara itu, saham perbankan akan tetap menjadi penopang IHSG, didukung ekspektasi penyaluran kredit serta raihan laba yang tetap bertumbuh di tahun ini.

Berita Terkait