Mengintip Isi Dompet 5 Orang Paling Tajir Melintir di Tanah Air Kala Pandemi

JAKARTA – Kenyamanan para konglomerat Indonesia mulai terusik semenjak adanya COVID-19. Perusahaan konglomerasi yang telah mereka bangun bertahun-tahun lamanya, kini harus menghadapi ujian besar dari sebuah virus kecil mematikan bernama SARS-Cov2.

Kakak-beradik Budi Hartono dan Michael Hartono yang berdiri sebagai dua orang paling tajir se-Republik Indonesia bahkan harus rela menerima imbas dari besarnya dampak COVID-19. Tengok saja, bagaimana kinerja keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) milik Grup Djarum yang dikendalikan oleh dua bersaudara ini.

Sepanjang sembilan bulan pertama 2020, BBCA yang notabene merupakan bank swasta terbesar di Indonesia hanya menerima laba konsolidasi Rp20,04 triliun. Nilai tersebut turun 4,23% dari laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp20,92 triliun.

Penurunan laba bersih ini merupakan imbas dari lemahnya penyaluran kredit konsolidasi perseroan selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hingga kuartal III-2020, penyaluran kredit BCA terkoreksi tipis 3,2% dari sebelumnya Rp586,94 triliun menjadi Rp568,13 triliun.

Penurunan terbesar terjadi pada segmen kredit kendaraan bermotor (KKB) yang turun 19,3% secara tahunan menjadi Rp38,6 triliun. Diikuti segmen konsumer dan kredit pemilikan rumah (KPR) yang terkoreksi 3,1% secara tahunan menjadi Rp89,3 triliun.

Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, hingga kini proses penyaluran kredit BBCA masih terus dalam tahap pemulihan.

“Kredit turun sejalan dengan berlanjutnya pandemi yang membatasi mobilitas sehingga mempengaruhi iklim bisnis,” terang Jahja dalam paparan kinerja BCA Kuartal III-2020, Senin, 26 Oktober 2020.

Sedangkan jika dilihat dari pergerakan sahamnya, BBCA sempat terporosok cukup dalam hingga mencapai titik terendahnya di level Rp22.150 per lembar pada 23 Maret 2020. Setelah itu, saham BBCA kembali tumbuh sampai pada Senin, 9 November 2020, ditutup di level Rp31.425 per lembar.

Dengan demikian, jika ditarik sejak awal tahun (year to date/ytd), saham BBCA pun hanya terkoreksi tipis 6,05% dari sebelumnya Rp33.450 per lembar pada 2 Januari 2020.

Penurunan ini sekaligus berimbas pada pundi-pundi Hartono Brothers yang memiliki 54,94% saham atau 13,54 lembar saham BBCA melalui PT Dwimuria Investama Andalan.

Dengan level harga saham sekarang, maka valuasi saham Michael dan Budi Hartono di BBCA pun menciut dari Rp453,11 triliun menjadi Rp425,68 triliun.

Menara BCA. / Istimewa
Tertutupi Menara Telekomunikasi

Namun beruntung bagi Budi dan Michael, penurunan pundi pada BCA itu rupanya masih bisa ditutupi oleh peningkatan kinerja dari perusahaannya yang lain, yakni PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). Diversifikasi usaha ini menjadikan kekayaan Budi dan Michael masih cukup aman meski diterpa pandemi.

Merujuk lapoaran keuangan perseroan kuartal III-2020, ‘sang raja menara’ ini mampu membukukan laba bersih senilai Rp1,91 triliun. Nilai tersebut meroket 32,19% dari capaian laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,6 triliun.

Capaian gemilang TOWR ini tidak lepas dari semakin membaiknya kinerja pendapatan perseroan yang melesat selama kuartal III-2020. Tercatat pendapatan TOWR pada periode ini melambung 19,34% dari Rp4,65 triliun menjadi Rp5,56 triliun.

Sedang dari sisi gerak saham, harga TOWR sudah melesat 28,75% dari Rp800 di awal tahun menjadi Rp1.030 per lembar pada perdagangan Senin, 9 November 2020. Saham TOWR hanya sempat sekali terporosok ke level terendah pada 23 Maret 2020 di Rp590 per lembar, sebelum akhirnya kembali meningkat ke level terkini.

Dengan kenaikan harga saham ini, sumber kekayaan Michael dan Budi Hartono di TOWR pun kini turut meningkat. Pasalnya, kedua bersaudara itu kini memiliki 51,87% saham atau 26,461 lembar saham TOWR melalui PT Sapta Adhikara Investama.

Total, valuasi saham keduanya kini telah mencapai Rp27,25 triliun. Naik dari valuasi saham pada awal tahun yang hanya Rp21,17 triliun.

Sebagaimana diketahui, Michael dan Budi Hartono didapuk majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor wahid di Indonesia pada 2019. Kekayaan keduanya ditaksir mencapai US$37,3 miliar atau Rp542,98 triliun (kurs Jisdor Rp14.557 per dolar AS).

Pemakaman pendiri Grup Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja, 2 Februari 2019. / Istimewa
Keluarga Eka Tjipta Widjaja

Lain cerita dengan perusahaan-perusahaan milik keluarga mendiang Eka Tjipta Widjaja. Rerata kinerja keuangan emiten yang berada di bawah naungan Sinar Mas Grup milik orang terkaya nomor 2 di Indonesia ini cukup merana dicengkeram COVID-19.

Boleh ditengok bagaimana laba PT Sinar Mas Multiartha (SMMA) yang menjadi induk perusahaan bidang finansial Sinar Mas Grup. Sepanjang sembilan bulan pertama 2020, laba bersih SMMA telah merosot 79,28% dari Rp5,68 triliun menjadi Rp1,17 triliun.

Sementara jika dilihat dari pergerekan sahamnya, SMMA sempat terpantau mencapai titik terendahnya di level Rp11.600 pada 6 Mei 2020. Namun, SMMA perlahan bangkit hingga pada penutupan perdagangan Senin, 9 November 2020 ditutup di posisi Rp15.275 per lembar.

Dengan harga terakhir ini, berarti saham SMMA mengalami penguatan dibandingkan harga pada awal tahun yang hanya Rp15.225 per lembar.

Keluarga Widjaja memiliki perusahaan ini melalui PT Sinar Mas Cakrawala alias Bank of Singapore dengan kepemilikan 58,88%, dan PT Asuransi Simas Jiwa sebesar 10,34%, dan Indra Widjaja sebesar 0,04%. Artinya, total kepemilikan saham keluarga Widjaja di SMMA mencapai 69,26%.

Secara total, kepemilikan saham keluarga Widjaja di sini mencapai 4,38 miliar lembar. Dengan demikian, kini valuasi saham keluarga Widjaja di SMMA mencapai Rp66,69 triliun.

Bumi Serpong Damai. / Bsdcity.com
Bumi Serpong Damai Tersungkur

Setali tiga uang dengan SMMA, emiten milik keluarga Widjaja lainnya, yakni PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) juga mencatatkan tren negatif sepanjang sembilan bulan pertama 2020. Laba bersih perseroan pada periode ini amblas 76,67% dari Rp2,66 triliun menjadi Rp469,56 miliar.

Dipantau dari pergerakan sahamnya, BSDE sempat terjungkal hingga level Rp595 per lembar pada 24 Maret 2020. Setelah itu saham BSDE mulai bangkit perlahan hingga pada penutupan perdagangan Senin, 9 November 2020 berada di level Rp995 per lembar.

Kendati demikian, nilai ini masih terkoreksi 22,05% sejak awal tahun yang sempat berada di posisi Rp1.270 per lembar. Sementara harga tertinggi BSDE di tahun ini hanya pernah mencapai level Rp1.290 per lembar pada 3 Januari 2020.

Sebagaimana diketahui, keluarga Widjaja memiliki sebagian besar saham BSDE melalui PT Paraga Artamida dan PT Ekacentra Usahamaju dengan total kepemilikan 57,3% atau 1,21 triliun saham.

Artinya, kini valuasi saham keluarga Widjaja di BSDE pun turut menyusut dari sebelumnya Rp1.534,08 trilun pada awal tahun menjadi hanya Rp1.201,9 triliun.

PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk atau SMART (SMAR) / Smart-tbk.com
SMAR Amblas

Selain BSDE, perusahaan milik keluarga Widjaja lainnya yang bergerak dalam bidang agrobisnis turut mencatatkan kinerja kurang mengesankan sepanjang tahun ini. Pasalnya, hingga kuartal III-2020, laba bersih PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) sudah terkoreksi 59,62% dari Rp479,22 miliar menjadi Rp273,78 miliar.

Dari sisi pergerakan saham, SMAR sempat menyentuh level terendahnya Rp2.330 per lembar pada 3 April 2020. Kemudian, saham SMAR mulai bangkit hingga pada Senin, 9 November 2020 ditutup Rp3.000 per lembar.

Namun jika dilihat sejak awal tahun, saham SMAR masih terkoreksi 22,48% dari sebelumnya Rp3.870 per lembar. Hasil pergerekan saham yang belum kembali pada titik awal tahun ini mengindikasikan bahwa valuasi saham keluarga Widjaja di SMAR juga masih terkoreksi.

Sebagaimana diketahui, Eka Tjipta Widjaja memiliki setidaknya 92,4% atau 530,78 miliar lembar saham SMAR melalui PT Purimas Sasmita. Dengan demikian, kini valuasi saham keluarga Widjaja di SMAR telah menyusut 22,48% dari Rp2.054,12 triliun Rp1.592,34 triliun.

Kawasan industri Kota Deltamas milik PT Puradelta Lestari Tbk. / Kota-deltamas.com
Deltamas Terkoreksi

Lalu ada juga emiten milik keluarga Widjaja lainnya, yakni PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS). Berdasarkan laporan keuangan perseroan kuartal III-2020, laba bersih pengembang Deltamas terjun bebas sebanyak 60,18% dari Rp759,58 miliar menjadi Rp302,56 miliar.

Lantas jika dilihat dari pergerakan saham sejak awal tahun, harga saham DMAS rupanya telah susut 21,92% dari Rp292 pada awal tahun menjadi Rp228 pada Senin, 9 November 2020.

Keluarga Widjaja menggenggam mayoritas saham DMAS melalui PT Sumber Arusmulia dengan total kepemilikan 57,28% atau 2,76 triliun lembar . Dengan demikian, valuasi saham keluarga Widjaja pada DMAS kini turut menyusut dari Rp806,18 triliun menjadi hanya Rp629,48 triliun.

Di luar keempat emiten itu, Eka Tjipta Widjaja masih memiliki enam emiten lainnya yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Beberapa lainnya sudah masuk sebagai entitas anak dari empat perusahaan di atas, sisanya masih belum melaporkan hasil kinerja keungan kuartal III-2020.

Mendiang Eka Tjipta Widjaja merupakan orang terkaya nomor 2 di Indonesia, versi majalah Forbes 2019. Kekayaan keluarga Eka Tjipta ditaksir senilai US9,6 miliar atau setara Rp139,2 triliun.

Presiden Joko Widodo bersama pemilik Chandra Asri Petrochemical Prajogo Pangestu dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. / Facebook @chandraasripetrochemicalofficial
Prajogo Pangestu

Cerita yang tidak jauh berbeda juga terjadi pada konglomerat Prajogo Pangestu. Emiten petrokimia PT Barito Pacific Tbk (BRPT) milik orang terkaya nomor ketiga di Indonesia ini juga turut mencatatkan kinerja keuangan yang kurang mengesankan.

Menyadur laporan keuangan terbaru perseroan, BRPT berhasil mencetak laba bersih senilai US$11,29 juta atau setara Rp161,68 miliar (kurs Jisdor Rp14.321 per dolar AS). Nilai ini berbanding terbalik dengan capaian kuartal II-2020 yang masih mengalami kerugian US$21,81 juta atau Rp312,29 miliar.

Meski demikian, jika dilihat secara tahunan (year on year/yoy), laba bersih BRPT masih terkoreksi 9,46% dari sebelumnya US$12,47 pada kuartal III-2019.

Secara keseluruhan, pendapatan bersih Barito Pacific di triwulan ketiga juga mengalami sedikit koreksi jika dibandingkan kuartal III tahun sebelumnya. Turun 6% dari US$1,77 miliar menjadi hanya US$1,67 miliar.

Pendapatan sektor petrokimia domestik masih mendominasi dengan porsi 54,58% atau US$909,2 juta. Nilai tersebut melorot 10,86% dibandingkan capaian kuartal III-2019 yang menyentuh US$1,02 juta.

Penurunan pendapatan petrokimia domestik ini juga diikuti dengan koreksi dari lini ekspornya. Dari laporan keuangan itu terlihat bahwa pendapatan petrokimia ekspor juga turun 2,68% dari US$359,93 juta menjadi US$350,26 juta.

Sementara jika dilihat dari pergerakan sahamnya, BRPT sempat berada di titik terendah pada 24 Maret 2020 di posisi Rp456 per lembar. Lantas jika dihitung sejak awal tahun, saham BRPT sudah merosot 36,52% dari Rp1.465 pada 2 Januari 2020 menjadi Rp930 per lembar pada 9 November 2020.

Dengan demikian, valuasi saham Prajogo Pangestu di Barito Pacific dengan kepemilikan saham 72,18% atau 67,41 miliar lembar saham pun kini turut menyusut. Penurunannya cukup drastis dari Rp98,75 triliun menjadi hanya Rp62,69 triliun.

Pada akhir tahun lalu, Forbes mendapuk Prajogo Pangestu sebagai orang terkaya nomor 3 di Indonesia dengan total kekayaan US$4,6 miliar atau Rp106,4 triliun.

Pemilik sekaligus Presiden Direktur PT Gudang Garam Tbk. Susilo Wonowidjojo menempati posisi kedua orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes. / Foto: Dok. Gudang Garam
Susilo Wonowidjojo

Kinerja yang lagi-lagi tidak begitu mengesankan juga terjadi pada emiten rokok milik oran paling tajir se-Jawa Timur, Susilo Wonowidjojo. PT Gudang Garam Tbk (GGRM) miliknya mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 22% menjadi Rp5,64 triliun pada kuartal III-2020 dari sebelumnya Rp7,24 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Menukil dari laporan keuangan perseroan, pendapatan GGRM sejatinya masih tumbuh menjadi Rp83,37 triliun. Nilai tersebut naik tipis 2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp81,72 triliun.

Dari total penjualan, Sigaret Kretek Mesin (SKM) masih jadi sumber pundi-pundi utama. Dengan perolehan sebesar Rp76,08 triliun, penjualan SKM naik dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp74,89 triliun.

Penjualan tertinggi kedua berasal dari Sigaret Kretek Tangan (SKT) sebesar Rp6,37 triliun, membesar dari penjualan kuartal III-2019 sebanyak Rp5,76 triliun. Sisanya, pendapatan GGRM berasal dari penjualan kertas karbon, rokok klobot, dan lainnya.

Sementara dari pergerakan sahamnya, GGRM sempat mencatatkan level terendah sepanjang tahun ini di harga Rp32.900 per lembar pada 19 Maret 2020. Usai itu, saham GGRM mulai bangkit hingga pada Senin, 9 November 2020 ditutup pada level Rp41.400.

Namun demikian, penguatan ini belum bisa kembali pada level awal tahun yang berada di posisi Rp53.350 per lembar. Dengan begitu, saham GGRM pun masih mengalami pelemahan sebesar 22,39% secara year to date (ytd).

Susilo Wonowidjojo melalui PT Suryaduta Investama masih menjadi pemegang saham mayoritas GGRM dengan total kepemilikan 69,29% atau 666,57 miliar lembar dari modal disetor dan ditempatkan perseroan. Susilo juga memiliki saham atas nama dirinya sendiri dengan porsi 0,09% atau 854 juta lembar.

Jika dikalkulasi, maka Susilo memiliki total sebanyak 69,38% atau 667,43 miliar saham GGRM. Dengan harga yang ada sekarang, valuasi saham Susilo di GGRM pun telah menyusut 23,17% dari Rp35,61 triliun menjadi Rp27,63 triliun.

Susilo Wonowidjojo dinobatkan oleh majalah Forbes sebagai orang terkaya keempat di Indonesia. Dia ditaksir memiliki total nilai kekayaan mencapai US$6,6 miliar atau setara Rp96,88 triliun. (SKO)

Tags:
Barito PacificBBCABRPTBudi HartonoCovid-19Eka Tjipta WidjajaGGRMHeadlinekinerja BRPT kuartal III-2020konglomeratkonglomerat indonesialaporan keuangan GGRMMichael Bambang Hartonoorang kayaPrajogo PangestuPT Bank Central Asia TbkPT Gudang Garam TbkPT Sarana Menara Nusantara Tbksinar masSinar Mas LandSusilo Wonowidjojotowr
Fajar Yusuf Rasdianto

Fajar Yusuf Rasdianto

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: