Mendapat Kritik Tajam, KCIC Sebut Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Sudah 79 Persen

16 Oktober 2021 15:22 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

Editor: Amirudin Zuhri

Struktur layang Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Bekasi. ( Dok. KCIC)

BANDUNG- Di tengah kritik keras karena adanya pembengkakan biaya, PT Konsorsium Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menyebut  pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta- Bandung (KCJB) hingga saat ini sudah mencapai 79 persen.

Corporate Secretary PT KCIC, Mirza Soraya dalam siaran persnya, Sabtu 16 Oktober 2021, menuturkan saat ini PT KCIC bersama konsorsium kontraktor sedang berfokus untuk melakukan percepatan pembangunan di 237 titik konstruksi secara komprehensif.

Pihaknya mengakui pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak tahun 2020 cukup menghambat proses pembangunan KCJB.

“Pandemi cukup memberikan dampak pada proses pembangunan KCJB. Untuk itu sekarang fokus kami adalah melakukan percepatan pembangunan,” ujarnya.

Adapun titik-titik konstruksi yang menjadi prioritas ke depan antara lain penyelesaian pengeboran tiga tunnel yang tersisa dari 13 tunnel yang ada di jalur KCJB.

Ketiga tunnel prioritas itu adalah tunnel 2 sepanjang 1.040 meter di Jatiluhur, Purwakarta, tunnel empat sepanjang 1.315 meter di Plered, Purwakarta, dan tunnel 6 sepanjang 4.478 meter di Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat.

Selain itu, PT KCIC juga akan menyelesaikan erection girder untuk konstruksi elevated track, terutama yang berada di DK 134 dan DK 134 di daerah Batununggal, Bandung, Jawa Barat. Mirza juga menambahkan jika saat ini pekerjaan subgrade 18#, 19#, dan 20# yang berlokasi di perbatasan antara Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta menjadi titik konstruksi yang dikebut pengerjaannya.

Selain percepatan pada konstruksi jalur KCJB, Mirza memaparkan jika saat ini PT KCIC juga sedang melakukan percepatan pembangunan untuk stasiun Halim, Karawang, dan Tegalluar.

"Saat ini, pengerjaan di tiga stasiun KCJB di Halim, Karawang, dan Tegalluar juga sedang kami kebut agar segera siap menyambut para penumpang sesuai target di akhir 2022," katanya.

Sedangkan Electric Multiple Unit (EMU) atau kereta yang akan digunakan ketika operasional nanti saat ini sedang dalam tahap produksi di pabrik China Railway Rolling Stock Corporation (CRRC) Sifang yang berada di Qingdao, Tiongkok. Termasuk juga pembuatan Comprehensive Inspection Train (CIT) atau Kereta Inspeksi yang nanti digunakan untuk mengecek dan memastikan keamanan jalur kereta cepat.

Untuk operasional Kereta Cepat Jakarta-Bandung, PT KCIC dengan kementerian terkait saat ini sedang melakukan pembahasan dan harmonisasi Rancangan Peraturan Menteri Perhubungan.

Di sisi lain, dilakukan juga pelatihan SDM hingga pembuatan SOP sebagai bagian dari persiapan Operation Maintenance Readiness. "Dengan semua upaya yang kami lakukan, mudah-mudahan target operasional ditahun 2022 ini bisa tercapai,” ujarnya.

Seperti yang diketahui, pada fase pertama operasi yang ditargetkan di akhir 2022, Kereta Cepat Jakarta-Bandung akan menempuh trase sepanjang 142,3 kilometer. Kereta Cepat Jakarta-Bandung akan melintasi 9 kota dan kabupaten di Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat.

Stasiun keberangkatan sekaligus kedatangan kereta cepat berada di wilayah Jakarta, yakni melalui Stasiun Halim, kemudian melintasi Stasiun Karawang, Stasiun Hub Padalarang dan berakhir di Stasiun Tegalluar.

Kritikan Keras

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, kini sedang menjadi sorotan publik. Pemerintah dinilai membakar duit negara setelah melakukan revisi peraturan untuk membiayai megaproyek ini.

Strategi Jokowi dalam menyelesaikan proyek ambisius ini tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 93 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat Jakarta Bandung. 

Dalam PP tersebut, Jokowi mengizinkan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung bisa dibiayai APBN. Sebelumnya, proyek ini dikerjakan dalam skema Business to Business (B2B) antara konsorsium Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia dengan China.

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dikerjakan oleh PT Konsorsium Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang terdiri dari dua konsorsium. Konsorsium Indonesia membentuk perusahan patungan bernama PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan saham 60%. Sementara itu, konsorsium Cina dipimpin oleh Beijing Yawan HRS Co. Ltd dengan saham 40%.

Konsorsium Indonesia ada empat BUMN, yaitu PT Kereta Api Indonesia (Persero); PT Wijaya Karya (Persero) Tbk; PT Jasa Marga (Persero) Tbk; dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII.

Dalam perjalanan, proyek ini macet. Salah satunya karena diterpa pandemi COVID-19 yang membuat keuangan konsorsium BUMN Indonesia memburuk. 

Nilai proyek ini juga membengkak karena perusahaan patungan sudah tidak memiliki dana untuk pembiayaan. Estimasi pembengkakan anggaran mencapai US$1,9 miliar atau setara Rp27,01 triliun (asumsi kurs Rp14.217 per dolar AS).

Nilai proyek yang awalnya hanya memakan biaya US$6,07 miliar (Rp86,19 triliun) kini menjadi sekitar US$8 miliar atau sekitar Rp113,73 triliun. Adapun investasi proyek ini 75% bersumber dari pinjaman China Development Bank (CDB) dan 25% merupakan ekuitas konsorsium BUMN Indonesia. Nilai pinjaman ke CDB sekitar US$4,5 miliar setara Rp64,72 triliun.

Pemerintah, melalui PP 93/2021 berencana mengucurkan PMN sekitar Rp4,3 triliun kepada PT KAI sebagai pemimpin konsorsium untuk melanjutkan proyek kereta cepat.

"KAI akan melakukan setoran modal porsi PTPN VIII dan Jasa Marga yang belum disetorkan, dan mengambil alih porsi saham sebesar yang belum disetorkan oleh PTPN VIII dan Jasa Marga," ungkap Jodi Mahardi, Juru Bicara Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi pekan lalu.

Sebetulnya, dana PMN Rp4,3 triliun ini disalurkan pemerintah tahun lalu. Namun sampai saat ini masih ditahan setelah pemerintah melakukan realokasi dan refocusing APBN untuk memperkuat program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo mengatakan, PMN tersebut akan digelontorkan untuk memenuhi ekuitas perusahaan dalam membiayan proyek Jakarta-Bandung. Nantinya, KAI akan mendapatkan suntikan Rp440 miliar, kemudian WIKA 240 miliar, Jasa Marga Rp540 miliar dan PTPN VIII Rp3,14 triliun. "Jadi, rencana ada PMN Rp4,3 triliun untuk pemenuhan base equity capital," katanya.

Berita Terkait