Kisah Sukses UMKM: Giant Hope Mencari Celah Cuan dari Bisnis Pakaian di Masa Pandemi

January 08, 2021, 04:35 PM UTC

Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto

Contoh pakaian yang dijual di Giant Hope / Instagram: @gianthope

JAKARTA – Pandemi COVID-19 telah memakan banyak korban. Tidak hanya mereka yang meninggal lantaran tertular virus SARS-Cov2 asal Wuhan, China, tapi juga mereka yang harus rela menerima pemutusan hubungan kerja (PHK) lantaran kondisi ekonomi yang kian sulit.

Seperti banyak diketahui juga, bencana kesehatan ini senantiasa berubah pula menjadi problematika ekonomi dunia. Nyaris separuh negara di belahan dunia mengalami resesi, termasuk Indonesia.

Akibatnya, banyak perusahaan yang kehabisan modal untuk membayar para karyawannya. Pemecatan pun akhirnya menjadi pilihan akhir perusahaan demi meminimalisir biaya operasional.

Cikal Prakarsa, salah satu dari sekian banyak orang yang turut menerima nasib nahas itu. Dia menjadi korban pengurangan karyawan saat pandemi COVID-19 mulai menjalar ke Indonesia sejak awal Maret 2020 lalu.

Keadaan yang sulit memaksa Cikal harus memutar otak untuk tetap bertahan hidup. Muncul kemudian sebuah ide untuk memulai bisnis aparel secara daring.

Cikal lantas mulai belusukan ke sebuah pasar di kawasan Bandung, Jawa Barat untuk mencari bahan pakaian yang bakal ia gunakan. Tujuannya satu, dia ingin menghadirkan pakaian berkualitas tinggi dengan harga terjangkau bagi konsumennya kelak.

“Memang, usaha pakaian sudah ada banyak di luaran, tetapi kami yakin dengan turun langsung mencari bahan dengan kualitas terbaik adalah salah satu kunci nilai produk kami,” kata Cikal kepada TrenAsia.com, Senin, 4 Januari 2021.

Pakaian jadi yang dijual Giant Hope / Dok. Giant Hope
Modal Kecil

Dengan keyakinan itu, Cikal lantas mulai menjalankan bisnisnya yang dia beri nama Giant Hope Apparel. Nama itu, kata Cikal, merupakan sebuah harapan bahwa kelak jenama Giant Hope akan menjadi besar sesuai dengan arti dari nama itu sendiri dalam Bahasa Indonesia.

Dia lantas membuat akun sosial media untuk bisa memasarkan produknya. Dia fokus pada pemasaran di Instagram dengan nama akun @gianthope dan Facebook.

Word of mouth penggunaan sosal media secara maksimal Instagram atau Facebook Ads. Hardselling lewat broadcast Whatsapp ke pelanggan yang sudah membeli atau sempat menghubungi,” terang dia.

Dengan persiapan itu, Cikal pun mulai memasarkan produknya dengan harga Rp35.00-Rp234 ribu per pis. Sebulan, katanya, dia bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp500 ribu-Rp1 juta dari penjualan produknya tersebut.

Padahal, modal awal yang ia gelontorkan untuk bisnis hanya Rp5 juta rupiah. Sekarang modal itu telah mencapai return on investment (ROE) yang berarti Cikal kini hanya tinggal menikmati untung.

Cikal berharap, ke depan dia dapat menciptakan produk yang lebih banyak lagi bagi bisnisnya. Tentu juga turut meningkatkan ikatan dengan para konsumennya.

“Kami ingin memiliki lebih banyak varian item yang dijual. Memiliki engagement tinggi di sosial media. Meningkatkan brand awareness dengan adanya kemungkinan kerja sama dengan KOL Memiliki offline store,” pungkas dia. (SKO)

Berita Terkait