Menanti Babak Baru Perbaikan Kinerja BUMN Waskita Karya

19 Juli 2021 19:00 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Laila Ramdhini

Gedung Waskita Karya | Foto: Istimewa

JAKARTA – PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) memasuki babak baru perbaikan kinerja keuangan pada tahun ini. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor konstruksi ini punya kesempatan lebar memperbaiki kinerja usai mendapatkan berbagai macam “suplemen” dari pemerintah.

Suntikan tersebut diusulkan oleh Menteri BUMN Erick Thohir melalui skema Penyertaan Modal Negara (PMN) Rp7,9 triliun pada 2021 dan Rp3 triliun pada 2022. Dana segar ini akan dipakai untuk membantu penyelesaian masalah utang WSKT.

Tidak hanya itu, Erick juga memuluskan jalan WSKT untuk menerima restrukturisasi dari sejumlah bank BUMN dan BUMD. Hasilnya, WSKT mengantongi restu restrukturisasi utang dari lima bank kreditur dengan nilai outstanding Rp19,3 triliun. Nilai restrukturisasi tersebut setara 65% dari pokok pinjaman Waskita yang mencapai Rp29,26 triliun.

Lima bank yang menyetujui restrukturisasi WSKT terdiri dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR).

Pengamat BUMN Toto Pranoto menilai sejumlah sentimen itu punya implikasi positif untuk memacu kinerja WSKT. Kendati demikian, bukan berarti masalah utang WSKT bisa lenyap hanya dengan mengandalkan tambahan ekuitas tersebut.

Toto mendorong WSKT untuk segera melakukan divestasi untuk memperbaiki kas perseroan. Menurutnya, minat investor Hong Kong terhadap sejumlah proyek investasi yang telah rampung mesti dimanfaatkan dengan segera oleh WSKT.

WSKT tercatat telah memiliki 18 proyek investasi. Hingga saat ini, baru 5 proyek yang sudah dicaplok oleh investor. Melihat hal tersebut, penyelesaian divestasi bakal menjadi kunci utama WSKT dalam memperbaiki kinerja keuangan.

“Lakukan divestasi secepatnya pada proyek investasi yang sudah diselesaikan. Ini akan mengurangi tekanan utang dan cashflow, minat dari investor Hongkong seperti RoadKing membeli beberapa  ruas tol milik WSKT patut disambut baik,” ucap Toto kepada TrenAsia.com, Senin, 19 Juli 2021.

Bila seluruh proyek tersebut berhasil dijual, Toto memproyeksikan total liabilitas perseroan bisa menyusut hingga lebih dari 50%. Hal ini sejalan dengan proyeksi Kementerian BUMN yang menyatakan nilai divestasi sejumlah proyek WSKT mencapai Rp46 triliun.

Sementara itu, posisi liabilitas WSKT hingga kuartal I-2021 masih berada di level Rp88,5 triliun. Di sisi lain, ekuitas perseroan hanya menyisakan Rp16,5 triliun.

Manfaatkan INA

Perbaikan ekuitas perseroan juga bisa dipacu dengan memanfaatkan Indonesia Investment Authority (INA). Melalui INA, WSKT bisa mendapat tambahan penguatan modal sekaligus peningkatan produktivitas.

Implikasi lain dari menggarap proyek INA adalah peluang memperkecil Debt to Equity Ratio (DER). Hingga kuartal I-2021, WSKT memiliki tingkat DER hingga 4,7 kali. Ini lebih tinggi dari posisi akhir 2020 yang sebesar 4,5 kali. Posisi akhir 2020 itu pun membengkak dari tahun sebelumnya yang hanya 2,5 kali.

WSKT punya daya tawar (bargaining) yang kuat agar dilirik oleh INA. Pasalnya, BUMN Karya ini tercatat telah menggarap lebih dari 1.300 kilometer (km) jalan tol sejak 2014.

Catatan kinerja itu yang bisa menjadi pertimbangan INA untuk memberikan proyek pembangunan kepada WSKT. Bila tidak ada halangan, Toto meyakini DER WSKT bakal menyusut tajam.

“Memanfaatkan pembiayaan yg berasal dari INA untuk menyehatkan struktur financing, karena kita tahu DER WSKT ini sudah sangat tinggi, akan semakin sulit menerima kredit bila struktur financing-nya belum sehat.” Jelas Toto.

Potensi penyelesaian utang WSKT juga ditopang langsung oleh keuangan negara. Sejak Juni 2021, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyetujui penjaminan atas obligasi WSKT senilai Rp15,3 triliun.

Pengajuan penjaminan itu mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan nomor 211/PMK.08/2020 tahun 2020 tentang Tata Cara Pemberian Penjaminan Pemerintah untuk Badan Usaha Milik Negara Dalam Rangka Pelaksanaan Program Pemulihan Ekonomi Nasional.

Dukungan pemerintah tersebut membuat peluang tingkat suku bunga kredit WSKT menjadi jauh lebih kompetitif. Upaya ini pun, kata Toto, semakin memperkuat posisi WSKT dalam babak baru perbaikan kinerja.

Menilik Prospek

Apa yang dialami WSKT saat ini bukan sepenuhnya merupakan kesalahan perseroan. Ada andil pemerintah yang membebani perseroan untuk menyelesaikan proyek jalan tol Trans Jawa pada 2015-2016.

Namun, enam tahun berselang, kondisi WSKT mulai pulih karena mendapatkan berkah dari sederet proyek baru. WSKT menargetkan target kontrak baru hingga Rp26 triliun pada tahun ini.

Paling baru, Waskita Karya ditunjuk untuk menggarap pembangunan proyek strategis nasional (PSN) jalan Long Semamu-Long Bawan 2 di Kalimantan Utara. Jalan ini berada di perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.

“Alhamdulillah, Waskita kembali mendapatkan kepercayaan dari Kementerian PUPR di tengah pandemi ini untuk membangun jalan Long Semamu-Long Bawan 2,” ujar Senior Vice President Infrastructure II Division WSKT Sugiharto dalam siaran pers, Kamis, 15 Juli 2021.

Sugiharto menjelaskan Waskita akan mengerjakan proyek dengan total nilai kontrak Rp225 miliar ini bersama PT Duta Mega Perkasa. Dalam kerja sama ini, WSKT bertindak sebagai lead contractor yang mendapat porsi 70% dari nilai kontrak secara keseluruhan.

“Untuk pengerjaan sendiri akan dilakukan selama 892 hari kalender yaitu 13 Juli 2021-15 Desember 2023. Insyaallah semua dapat berjalan dengan lancar,” kata Sugiharto.

Sugiharto menandatangani kontrak bersama Pejabat Pembuat Komitmen Perbatasan 5 Kalimantan Utara Masrur. Penandatanganan ini juga disaksikan oleh Director of Operation II WSKT Bambang Rianto.

Proyek baru ini menambah deretan proyek Waskita di Kalimantan. Sebelumnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya ini juga sedang mengerjakan proyek Irigasi Tapin, PLTU Malinau 2x3MW, Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 KV Sangatta Maloy, dan SUTT 150 KV New Balikpapan.

Selain itu, ada pula progres proyek eksisting yang telah menunjukan tanda-tanda penyelesaian. Proyek itu terdiri dari Jalan Tol Krian-Legundi-Bundar-Manyar (KLBM) yang progresnya mencapai 86,39%, Jalan Tol Pasuruan-Probolinggo 71,56%, Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu 94,34%, dan jalan Tol Cimanggis-Cibidung 78,10%.

Berita Terkait