Menakar Potensi Investasi Saham di Industri Teknologi Indonesia

31 Agustus 2021 05:04 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Sukirno

Emiten penyedia Ultra Voucher, PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR) / Dok. Perseroan (ultravoucher.co.id)

JAKARTA – Penetrasi internet mengalami peningkatan, menjadi faktor pendukung berkembangnya fenomena perusahaan rintisan atau start up di Indonesia, khususnya sektor teknologi. Terlebih, dampak pandemi memengaruhi perilaku masyarakat, membuat pemanfaatan teknologi digital kian maksimal. 

Seperti diketahui, baru-baru ini terdapat beberapa perusahaan rintisan pada sektor teknologi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini menjadi topik diskusi dalam agenda Capital Market Fair bertajuk “The Momentum of Capital Markets Towards Society 5.0 Era” yang diselenggarakan Kelompok Studi Pasar Modal Universitas Diponegoro (KSPM Undip).

Salah satu panelis diskusi, Direktur PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR) alias Ultra Voucher, Riky Boy Permata menceritakan awal mula bisnis perusahaan yakni melakukan penjualan voucher konvensional dengan bentuk fisik. 

Hingga 2017, perusahaan teknologi yang baru saja melaksanakan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) ini, melihat momentum beralih ke produk digital untuk memberikan kemudahan bagi konsumen dengan menciptakan platform digital bernama Ultra Voucher.

“Kami melihat ada kesempatan, ada problem yang bisa kita jawab dengan adanya teknologi. Bahkan, selama pandemi, user dan active user Ultra Voucher justru mengalami peningkatan,” ujarnya dalam diskusi virtual yang diselenggarakan Minggu, 30 Agustus 2021.

Ia berharap, ke depannya lewat IPO perusahaan bisa terus melakukan pengembangan bisnis sekaligus meningkatkan profit yang dihasilkan. Sehingga bisa memberikan value dan benefit lebih kepada para investor.

Riky menjelaskan, perusahaan telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk pengembangan bisnis pasca-IPO, seperti menambah partnership dengan berbagai macam online platform dan digital bank di Tanah Air.

Bahkan, pihaknya juga akan memperluas jaringan hingga ke ASEAN, dan juga melakukan transformasi layanan untuk menjadi the leading platform in rewards and everyday services, dengan tetap memperkuat produk utama perusahaan, yaitu voucher.

“Untuk itu, terima kasih kepada pemerintah yang semakin memudahkan para pelaku industri teknologi digital melaksanakan IPO sehingga bisnis kami juga bisa mendapatkan growth, serta memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memberikan manfaat untuk melakukan investasi,” imbuhnya.

Potensial

Ia menilai, industri teknologi menjadi sektor yang paling potensial di pasar modal, dan juga memiliki potensi pertumbuhanan yang sangat signifikan. Namun, Riky turut berpesan agar masyarakat yang ingin berinvestasi tetap memahami fundamental bisnis perusahaan. 

Menurutnya, para investor, terutama investor ritel dapat mempelajari bagaimana suatu perusahaan menjalankan bisnis, menghasilkan keuntungan, siapa target pasarnya, hingga konsistensi terhadap pangsa pasarnya. 

“Kita lihat juga kenaikan pengguna tiap tahunnya, jumlah transaksi, dan total revenue serta profitnya. Itu bisa jadi opsi investasi. Kami bersyukur Ultra Voucher dari tahun ke tahun selalu maintain growth tersebut,” tambah Riky.

Senada dengan Riky, Head of Strategic Investment PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) Nazier Ariffin juga mengimbau agar investor mempelajari model bisnis perusahaan yang ingin diinvestasikan. Para calon investor dapat melirik start up teknologi yang serupa di pasar global sebagai perbandingan. 

“Perhatikan kinerja, ekspansinya seperti apa, pengeluaran dan revenue, kapitalisasi pasarnya, temasuk top line saat di bursa dan lain sebagainya,” jelas Nazier.

Dari sisi value, investasi di perusahaan teknologi memang sangat menarik karena pertumbuhannya lebih cepat dalam beberapa tahun ke depan. Nazier sendiri memperkirakan, tren selama 10 tahun ke depan akan ada 100 – 150 perusahaan teknologi yang kemungkinan akan listing di Bursa. 

“Kami sendiri selama kurang lebih 2 tahun ini telah melakukan investasi ke berbagai perusahaan teknologi yang ada di Indonesia, dan menjadi pipeline bagi para start up tersebut agar mendapatkan akses ke konsumen,” tutur dia.

Meski dalam kondisi pandemi COVID-19, Telkomsel tidak menghentikan investasinya kepada perusahaan-perusahaan teknologi. Begitupun menurut Nazier yang terjadi secara makro, di mana Indonesia pada tahun lalu berhasil mencatatkan surplus hingga US$3 miliar.

“Artinya pandemi COVID-19 tidak menurukan nilai investasi dan proses investasi, serta jumlah perusahaan teknologi yang cenderung bertumbuh, bahkan semakin banyak bermunculan unicorn baru,” ucap Nazier.

Berita Terkait