Menakar Potensi Industri Aset Kripto di Indonesia saat Pasar Bearish

22 Juni 2022 06:45 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Fakhri Rezy

Ilustrasi: Mata Uang Kripto Bitcoin / bitocto.com

JAKARTA - Meskipun pasar kripto tampak menghijau, namun tren bearish yang dipicu oleh berbagai faktor makroekonomi masih menghantui. Di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi tren bearish, bagaimana dengan potensi industri aset kripto di Indonesia?

VP Growth PT Crypto Indonesia Berkat (Tokocrypto) Cenmi Mulyanto menilai bahwa potensi industri aset kripto Indonesia masih terbilang cukup besar.

Salah satu buktinya adalah transaksi aset kripto yang sudah mencapai Rp160 triliun hingga April 2022 menurut catatan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Sementara itu, jumlah investor aset kripto di Indonesia saat ini sudah mencapai 13,04 juta orang, jauh lebih besar dibandingkan investor saham.

Kemudian, jumlah pedagang fisik aset kripto yang mengantongi izin dari Bappebti pun bertambah menjadi 25 perusahaan yang mana pada akhir tahun 2021 jumlahnya masih 11 perusahaan.

“Kami menyambut baik pertumbuhan jumlah calon pedagang aset kripto yang terdaftar resmi di Indonesia. Jika dari market atau masyarakat melihat akan semakin banyak kompetitor, namun kami melihat ini sebagai bukti bahwa industri kripto di Indonesia terus tumbuh dan sehat, serta punya potensi untuk berkembang, karena menarik banyak pemain untuk masuk ke industri ini,” ujar Cenmi dalam keterangan resmi, Selasa, 21 Juni 2022.

Industri kripto pun dinilai Cenmi masih menjanjikan pertumbuhan yang positif bersamaan dengan semakin meluasnya adopsi teknologi blockchain dalam negeri. Menurut Cenmi, aset kripto pada gilirannya tidak akan dilihat sekadar sebagai instrumen investasi, tapi bisa menjadi tulang punggung ekosistem yang menaungi banyak sektor.

Cenmi juga mengungkapkan, Tokocrypto terus berupaya untuk menggencarkan edukasi aset kripto dan ekosistem blockchain kepada masyarakat di segala usia. Upaya itu diharapkannya dapat membuahkan kepercayaan pada masyarakat terhadap industri kripto dan blockchain.

Menurut laporan dari crypto exchange Gemini, saat ini 41% penduduk Indonesia memiliki aset kripto. Sementara itu, 64%-nya memandang bahwa aset digital dapat memberikan perlindungan nilai dari inflasi, dan 61% menilai aset kripto sebagai masa depan uang.

Potensi industri kripto pun ditandai oleh dukungan regulasi pemerintah. Aset kripto telah diregulasi dan dinyatakan sebagai komoditas legal yang transaksinya diawasi dan diatur oleh Bappebti. Aturan perpajakan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pun dipandang Cenmi sebagai suatu langkah yang bisa menambah legitimasi kripto di tanah air.

“Tujuan utamanya adalah untuk memberikan keamanan hukum dan untuk melindungi kepentingan konsumen kripto Indonesia. Dibutuhkan dukungan seluruh ekosistem untuk membawa adopsi dan manfaat kripto dan blockchain kepada masyarakat,” pungkas Cenmi.

Sebagai informasi, setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) alias The Federal Reserve (The Fed) menetapkan kenaikan suku bunga sebagai respon terhadap inflasi, nilai aset-aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar (big cap) mulai rontok.

Pada hari Minggu, 19 Juni 2022 pukul 03.00 WIB, Coin Market Cap mencatat Bitcoin (BTC) selaku aset berkapitalisasi pasar terbesar menyentuh level terendahnya dalam sebulan terakhir di angka US$17.744 atau setara dengan Rp262,7 juta dalam asumsi kurs Rp14.804 perdolar Amerika Serikat (AS).

Meski demikian, nilai Bitcoin mulai merangkak naik saat memasuki awal pekan dan berdasarkan pantauan Selasa, 21 Juni 2022 pukul 17.50 WIB, Bitcoin dan mayoritas kripto big cap berada di zona hijau.

Walaupun harga aset-aset kripto mulai tampak memulih, trader Tokocrypto Afid Sugiono beranggapan bahwa kebangkitan nilai ini disebabkan oleh banyaknya whales yang melakukan strategi buy the dip (membeli saat harga murah untuk memperoleh keuntungan saat nilai kembali naik). Sementara itu, Afid berpendapat bahwa pasar kripto sejatinya masih berada di tren bearish.

Untuk diketahui, whales adalah julukan untuk investor yang memegang aset kripto sehingga segala aksi jual/beli mereka dapat memengaruhi pergerakan harga secar signifikan.

"Bitcoin masih dalam tekanan. Target pergerakan Bitcoin kini akan menuju penurunan harga US$19.000 (Rp281,7 juta)-US$15.500 (Rp229,8 juta) dalam beberapa waktu ke depan. Prospek bearish juga tampak berlanjut untuk menemukan bottom yang sebenarnya," papar Afid.

Berita Terkait