Melonjak 31 Persen, Indofood Milik Konglomerat Anthoni Salim Raup Laba Rp12,89 Triliun

24 Maret 2021 11:32 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Ilustrasi Indofood Tower di Sudirman, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Krisis pandemi COVID-19 sepanjang tahun 2020 tak mampu menggempur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Buktinya, perseroan sukses mencatat pertumbuhan kinerja pada tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), perseroan membukukan kenaikan penjualan neto konsolidasi sekitar 7% year-on-year (yoy) menjadi Rp81,73 triliun dari Rp76,59 triliun di tahun 2019.

Sementara itu, laba usaha turut meningkat 31% secara tahunan menjadi Rp12,89 triliun dari Rp9,83 triliun. Marjin laba usaha pun turut terkerek 15,8% pada periode tahun 2020.

Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk lompat 32% yoy menjadi Rp6,46 triliun dari Rp4,91 triliun. Marjin laba bersih meningkat menjadi 7,9% dari 6,4%.

Direktur Utama sekaligus CEO Indofood, Anthoni Salim mengatakan dalam kondisi operasional yang dinamis selama tahun 2020, pihaknya tetap dapat membukukan kinerja yang konsisten.

Hal ini, kata dia terealisasi melalui ketahanan dan ketangguhan dari model bisnis yang terintegrasi secara vertikal dan merek-merek yang dikenal konsumen.

Ia bilang, untuk tahapan pengembangan ke depan, pihaknya akan tetap waspada dalam menjaga kesehatan karyawan. Selain itu, perseroan juga berencana memperkuat integrasi vertikal dari model bisnis yang telah ada saat ini.

“Kami juga akan meningkatkan kinerja yang telah dicapai, serta mengembangkan kemampuan kami dalam menghadapi berbagai peluang dan tantangan baru,” imbuh salah satu konglomerat Tanah Air ini, dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Selasa 23 Maret 2021.

Di samping itu, beban penjualan dan distribusi serta beban umum dan administrasi INDF kompak naik di tengah pandemi 2020. Hasilnya, beban pokok penjualan naik tipis sebesar 2,04% yoy dari Rp53,88 triliun menjadi Rp54,98 triliun.

Kewajiban Meroket

Sementara, pos liabilitas jangka pendek perseroan mengalami peningkatan secara tahunan dari Rp24,69 triliun menjadi Rp27,98 triliun.

Bahkan, liabilitas jangka panjang meroket hingga 223,63% yoy menjadi Rp56,02 triliun pada tahun lalu dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp17,31 triliun.

Dengan begitu, total kewajiban INDF pada 2020 menjadi Rp84 triliun atau naik sekitar 100% dari Rp42 triliun pada tahun 2019. Sedangkan, total ekuitas perseroan naik cukup signifikan sebesar 46,01% yoy dari Rp54,20 triliun menjadi Rp79,14 triliun.

Tak sampai disitu, INDF turut mempertebal jumlah aset perseroan menjadi Rp163,14 triliun pada tahun lalu atau melonjak 69,58% dibandingkan dengan capaian tahun 2019 sebesar Rp96,20 triliun.

Perseroan juga berhasil mempertahankan kas dan setara kas menjadi Rp17,34 triliun pada 2020 dari Rp13,75 pada tahun sebelumnya.

Di lantai bursa, saham INDF naik 5,12% dan ditutup menghijau pada level harga Rp6.675 per lembar pada akhir sesi perdagangan Selasa, 23 Maret 2021.

Per 31 Desember 2020, laba per saham INDF menjadi Rp735 per lembar dari periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp559 per lembar saham.

Berita Terkait