Mau Tau Cara Investasi Saham Biar Cuan? Begini Tips Efektif Menyusun Portofolio Saham dari Ternak Uang

11 September 2021 01:27 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Rizky C. Septania

Reksadana Saham Bisa Jadi Andalan Dana Pendidikan Anak.

JAKARTA – Investasi di pasar modal menjanjikan keuntungan berlimpah. Namun jika salah langkah, harga saham yang anjlok bisa menjadi pukulan telak yang menghancurkan kondisi finansial seorang investor. Lantas, seperti apakah cara menyusun portfolio saham yang baik?

Co-Founder sekaligus Chief Marketing Officer Ternak Uang, Timothy Ronald berbagi tips untuk menyusun portfolio di pasar modal agar dapat cuan berlimpah. Ia membagikan pengalamannya yang sudah bermain saham lebih dari lima tahun.

Tidak Harus Selalu Mengikuti Teori

Bagi seseorang yang baru akan memulai terjun di pasar modal, sudah menjadi hal yang wajar apabila langkah mereka berpijak pada teori-teori dalam dunia saham. Akan tetapi, pasar modal yang fluktuatif membentuk kondisi yang terkadang jauh dari gambaran-gambaran dalam buku.

Menurut Timothy, memang ada teori untuk menyusun portofolio saham, tapi belum layak bagi setiap orang. Karena tiap orang punya preferensinya masing-masing. Oleh karena itu, ia membagikan tips berdasarkan pengalamannya selama lima tahun bergelut di pasar modal.

"Mengacu pada teori, kalian bisa menggunakan standar deviasi. Kalau di tanya secara gamblang, berdasarkan risiko dan deviasi adalah 30 saham. Tapi apakah ini applicable bagi semua orang? Apakah harus dipaksakan? Tidak," ujarnya, Jumat, 10 September 2021.

Tujuan Bermain Saham

Setiap orang memiliki alasan tersendiri untuk terjun di pasar modal. Alasan inilah yang nantinya akan mempengaruhi strategi orang tersebut ketika berinvestasi di pasar modal. Timothy sendiri mengaku memiliki karakter agresif dalam melakukan trading.

"Untuk karakter saya yang cukup agresif, saya memiliki 3 portfolio, saat saya berumur 20 tahun ini. Tapi hal ini tidak bisa diaplikasikan pada semua orang,” imbunya.

Bagi dia, cara ini memang menjanjikan cuan yang tinggi, namun memilik risiko yang tinggi pula (high risk, high return).

 “Pertanyaannya, apakah ini cara ini cocok untuk semua orang? Tidak. Orang lain yang misalnya sudah punya anak, keluarga, atau tanggungan lainnya tidak akan cocok," kata Timothy.

Oleh karena itu, ia mengingatkan agar orang yang bermain saham benar-benar mengetahui alasan kenapa dirinya terjun di bisnis ini. 

"Jadi, balik ke tujuan kenapa kalian bermain saham. Kalau ingin membangun kekayaan, maka pilih konsentrasi. Tapi jika ingin mempertahankan kekayaan, pakai cara diversifikasi," tambah dia.

Alokasi Saham

Ketika dua poin sebelumnya telah dipenuhi, pertarungan yang sebenarnya baru akan dimulai, yaitu di mana investor harus mengalokasikan dana di pasar modal?

"75 persen saham, 25 persen obligasi. Itu teorinya. Tapi kalau saya pribadi, 70 persen saham dan 30 persennya tunai. Kenapa? Ini ibarat dana siaga seandainya harga saham anjlok," ungkap Timothy.

Sedangkan, untuk komposisi sahamnya, lanjut Timothy, 50% dipakai untuk saham-saham populer yang punya nama dan 20% lainnya bisa dialokasikan untuk 2 saham yang diyakini punya prospek bagus. Jadi secara keseluruhan, ia tetap berpijak pada 3 portofolio saham.

"Dengan saham 3 portofolio saham, saya berhasil mendapatkan pengembalian jauh di atas IHSG. Apakah akan seterusnya di 3 portofolio? Tidak. Mungkin 10-15 tahun akan berubah. Tapi yang pasti, 30 persen dana investasi saya akan tetap di cash ," pungkasnya.

Berita Terkait