Mau Investasi di Reksa Dana? Simak Tips Berikut!

09 Agustus 2021 11:00 WIB

Penulis: Rizky C. Septania

Editor: Rizky C. Septania

Ilustrasi : Pertumbuhan Ekonomi (Istimewa)

JAKARTA - Reksa dana menjadi salah satu portofolio pilihan yang digunakan sebagian orang untuk menyimpan uang. Selain return yang lebih tinggi dibanding deposito, reksa dana banyak dipilih lantaran resikonya lebih rendah dibanding trading saham

Sayangnya, belakangan waktu terakhir muncul sejumlah kabar tak menyenangkan dari  industri asuransi dan dana pensiun yang melibatkan sejumlah perusahaan manajer investasi dimana dana tersebut hilang atau berkurang banyak.  

Akibatnya, muncul pertanyaan di masyarakat mengenai keamanan  berinvestasi  di reksa dana yang dikelola oleh perusahaan manajer investasi. Lantas, apa yang harus diperhatikan oleh para investor yang ingin berinvestasi di reksa dana? Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI)  memberi tips bagi mereka yang ingin berinvestasi reksa dana.  Apa saja? simak ulasannya;

1.  Reksa dana aman

Investasi reksa dana adalah  salah satu instrumen investasi yang relatif aman bagi masyarakat,. Pasalnya, produk reksa dana wajib terdaftar dan diawasi langsung oleh regulator, yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Perusahaan manajer investasi tidak bisa membawa lari uang investor, karena manajer investasi hanya bertindak sebagai pengelola dana investasi, sementara dana para investor disimpan dan diadministrasikan oleh bank kustodian. Penting untuk diketahui bahwa kekayaan (uang) di reksa dana secara hukum dipisahkan kepemilikannya, tidak bisa diakui sebagai kekayaan milik manajer investasi maupun bank kustodian.

Jadi sebelum mulai berinvestasi di reksa dana, masyarakat investor harus memastikan terlebih dahulu apakah perusahaan manajer investasi atau Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang akan dipilih telah mendapatkan izin dan terdaftar di OJK atau belum. Perusahaan manajer investasi yang telah mendapatkan izin dari OJK akan tercantum di situs OJK, demikian juga APERD yang telah terdaftar di OJK.

2. Pastikan dana ditransfer ke rekening reksa dana

Setelah menentukan pilihan produk reksa tertentu sebagai sarana berinvestasi, calon investor harus melakukan transfer dana yang akan diinvestasikan ke rekening produk reksa dana yang dipilih. Penting untuk diingat: pastikan nama akun rekening bank tujuan transfernya adalah nama reksa dana itu sendiri.

Sebagai contoh, saat Anda ingin berinvestasi di reksa dana,  maka Anda harus melakukan transfer dana ke rekening bank atas nama Manulife Saham Andalan. Jangan melakukan transfer dana ke rekening atas nama perusahaan ataupun ke rekening atas nama individu.

3. Rekam jejak MI

Melihat situs OJK, saat ini ada 97 manajer investasi yang terdaftar dan diawasi oleh OJK.  Wajar jika investor bingung dalam memilih manajer investasi yang terpercaya dan berpengalaman untuk mengelola dananya, terlebih dengan adanya kasus yang terjadi di industri keuangan yang melibatkan manajer investasi. Yang harus dilakukan oleh masyarakat investor adalah melihat rekam jejak dan pengalaman manajer investasi.

Misalnya, sudah berapa lama pengalamannya di industri reksa dana (dalam hal ini termasuk melakukan pengecekan melalui situs perusahaan, nomor telpon kantor, hingga pengecekan perusahaan ke situs OJK), siapa saja afiliasi yang tergabung di belakangnya/bersamanya (apakah tergabung dengan satu institusi keuangan tertentu atau perusahaan lainnya), tenaga profesional/SDM, hingga good corporate governance yang diterapkannya.  

4. Jangan Panik jika manajer investasi ataupun reksa dana bubar

Reksa dana adalah instrumen investasi yang relatif aman, lalu bagaimana jika manajer investasi yang mengelolanya bubar atau reksa dananya dilikuidasi? Apakah uang investor akan kembali? Jika manajer investasi dibubarkan, investor tidak perlu khawatir, karena sudah ada peraturan dimana OJK berwenang untuk menunjuk manajer investasi lain untuk mengelola dana investor dalam reksa dana tersebut.

Sementara, jika sebuah produk reksa dana dilikuidasi, maka dana hasil likuidasi akan dikembalikan ke investor, dimana perhitungannya akan dilakukan secara proporsional. Ingat, dana investor tidak dipegang langsung oleh manajer investasi, melainkan ditempatkan di bank kustodian, sehingga investor tidak perlu resah dan takut apabila manajer investasi atau reksa dana harus dibubarkan.

Sama halnya juga jika bank kustodiannya yang mengalami masalah, maka OJK berwenang menunjuk bank kustodian lain untuk mengambil alih pengadiministrasian reksa dana tersebut.

5. Jangan pernah takut berinvestasi

Semua investasi tentunya memiliki risiko, demikian pula reksa dana. Meskipun begitu, janganlah kita takut untuk berinvestasi, tapi kita kelola risikonya, dengan cara selektif memilih reksa dana berdasarkan profil risiko, serta memilih manajer investasi yang terpercaya dan berpengalaman. 

Apabila baru mulai berinvestasi, jangan langsung bertransaksi dalam jumlah besar, kita bisa mulai dengan mencicipi dulu kemudahan dan keamanan bertransaksi di reksa dana secara bertahap. Selamat berinvestasi! 

 

Tulisan ini telah tayang di jogjaaja.com oleh Ties pada 09 Aug 2021 

Berita Terkait