Sejak Awal Tahun ini Investor Saham Bank Jago Sudah Cuan 632,2 Persen

04 Agustus 2021 11:30 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Driver gojek di depan bank Jago

JAKARTA – PT Bank Jago Tbk (ARTO) menjadi emiten yang menjadi sorotan investor di Bursa Efek Indonesia (BEI). Maklum, kendati pada semester I -2021 masih mencatatkan rugi bersih Rp47 miliar, saham bank digital ini sudah memberikan cuan hingga 638,2% sejak awal tahun 2021 (year to date/ytd).

Wakil Direktur Utama (Dirut) Bank Jago Arief Harris Tandjung mengatakan potensi pertumbuhan transaksi digital semakin memperlebar kemungkinan pergerakan harga saham ARTO. 

Meski begitu, Arief mengungkapkan bahwa lisensi perbankan membuat perseroan lebih diuntungkan dalam persaingan transaksi digital tersebut.

“Lisensi perbankan, bagaimana pun akan lebih kuat di masyarakat. Selanjutnya ada Teknologi Informasi yang dikembangkan sendiri dan harus masuk dalam ekosistem untuk mempercepat pertumbuhan nasabah,” ujar Arief dalam diskusi virtual, dikutip Selasa, 4 Agustus 2021.

Aksi korporasi dengan menjadi bagian dari PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek semakin menopang prospek dari ARTO. Analis Credit Suisse Andri Ngaserin dan Gregorius Gary menilai ARTO punya kesempatan besar tumbuh bersama ekosistem raksasa yang ada di Gojek-Tokopedia atau GoTo.

“Katalis kunci di antaranya laporan keuangan tahun 2021, integrasi antara Bank Jago dengan aplikasi GoTo, peluncuran aplikasi MSME Jago, dan adanya produk pinjaman digital milik perusahaan,” kata Andri dan Gregorius melalui riset yang diterima TrenAsia.com, dikutip Rabu, 4 Agustus Juli 2021.

Credit Suisse juga memprediksi peningkatan harga yang signifikan pada saham ARTO ke depannya. Target harga saham ARTO ditetapkan pada level Rp22.600 per lembar oleh perusahaan sekuritas global tersebut.

Seperti diketahui, ARTO telah mengintegrasikan layananannya sebagai platform pembayaran non-tunai di aplikasi Gojek dan tengah bersiap untuk meluncurkan lebih banyak integrasi pembayaran lainnya pada perusahaan raksasa teknologi lokal tersebut.

Kendati demikian, ARTO masih belum bisa mencetak laba hingga semester I-2021. Bank Milik Jerry Ng ini harus menelan rugi bersih Rp47 miliar pada paruh pertama tahun ini.

Kendati begitu, kerugian sudah menipis 8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni Rp50,91 miliar. Sayangnya, biaya operasional (operating expense) meningkat 135% menjadi Rp183 miliar.

Berita Terkait