Masih Kalah Dari Timor Leste dan Malaysia, Bos INA Akui Target Kelola Investasi US$200 Miliar Bisa Meleset

04 Mei 2022 18:30 WIB

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Rizky C. Septania

Ilustrasi Investasi Proyek Pemerintah (TrenAsia)

JAKARTA -Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) mengaku target penggalangan investasi sebesar US$200 miliar atau Rp2.892,6 triliun (Kurs Rp14.463 per dolar AS) pada 2024 mendatang bisa melesat. Alasannya, lembaga tersebut semakin selektif dan hanya akan memilih investasi dengan imbal hasil menarik.

CEO INA Ridha Wirakusumah menyatakan selain siap melakukan investasi di sektor-sektor yang sudah dipilih seperti digital ecosystem,  green infastructure, digital services, digital e-commerce, kesehatan dan berbagai macam infrastruktur (jalan tol, pelabuhan udara, pelabuhun laut), INA juga siap mengeksplor sektor ESG seperti pembangkit listrik berbasis EBT dan kendaraan listrik beserta baterainya.

"Sepertinya target penggalangan dana akan lewat dari target 2024. Saya gak ngeri soal berapa sih bisa masuk? US$5 miliar, US$100 miliar, US$200 miliar. Yang saya ngeri itu yang the first one billion dollar. Maksud saya begini, kita bisa meyakinkan yang 1 miliar dolar pertama atau Rp 10 triliun pertama, berarti mereka nyaman. Begitu sudah nyaman seterusnya itu bisa tertular oh betul ya Indonesia bisa menjadi tempat investasi,” kata dia dalam website resmi dikutip Rabu, 4 Mei 2022.

Seperti diketahui, INA dibentuk pada April tahun 2021 lalu dengan dan akelolaan investasi saat ini sekitar Rp70 triliun atau US$5 miliar. Dana kelolaan investasi INA masih kalah dengan misalnya Timor Leste yang sudah memiliki dana kelolaan US$16 miliar dan beroperasi selama 16 tahun. INA juga jauh tertinggal dari Malaysia yang memiliki dana kelolaan US$30 miliar dan sudah beroperasi 28 tahun.

INA ditargetkan mampu mengelola investasi hingga Rp2.892 triliun 2 hingga 3 tahun setelah berdiri, atau sekitar April 2024. 

Berita Terkait