Kontroversi Ivermectin Jadi Obat COVID-19 di Indonesia dan Dunia

28 Juli 2021 23:05 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Laila Ramdhini

Obat diperlukan saat sakit.

JAKARTA -- Penggunaan Ivermectin untuk pengobatan pasien COVID-19 masih menjadi hal yang kontroversial akhir-akhir ini. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun menyarankan agar obat cacing itu baru bisa dipakai setelah uji klinis.

Ketua Satgas COVID-19 IDI Zubairi Djoerban mengatakan uji klinis saat ini sedang dilakukan BPOM terhadap Ivermectin. Uji klinis dilakukan untuk mengetahui efektivitas obat antiparasit ini terhadap terapi COVID-19.

Di tengah pengujian tersebut, kata dia, ada desakan agar Ivermectin sebaiknya bisa digunakan untuk terapi pasien Covid-19. Hal itu merujuk pada hasil penelitian beberapa negara seperti Amerika Serikat dan India yang memperlihatkan Ivermectin terbukti cukup ampuh mengobati pasien COVID-19.

"Karena berbagai desakan, sambil menunggu hasil uji klinis, BPOM menyatakan bahwa Ivermectin boleh diresepkan oleh dokter. Tetapi dosis dan pengawasannya persis dengan protokol uji klinis yang sedang berlangsung di beberapa rumah sakit. Jadi, dokter yang tidak tahu protokol uji klinis tidak boleh meresepkan," ujar Zubairi dalam keterangan pers, Rabu, 28 Juli 2021.

Menurut dia, BPOM adalah lembaga negara yang mengawasi penggunaan obat dan makanan demi keselamatan masyarakat. Karena itu, pemerintah pelu bersabar menunggu hasil uji klinis agar betul-betul mengetahui efektivitas Ivermectin untuk COVID-19. Sehingga tidak menggunakannya berdasarkan tren global semata.

"Jadi, sebaiknya kita menunggu hasil uji klinis tersebut," ujar Zubairi.

Kebijakan Negara Lain

Lebih lanjut, dia menegaskan promosi penggunaan Ivermectin di beberapa negara, termasuk AS dan India, sudah ditarik dari daftar obat untuk COVID-19. Bahkan, tidak boleh untuk mengobati COVID-19 lagi.

Otoritas obat dan makanan AS (FDA) juga melarang penggunaan Ivermectin karena pada dosis untuk COVID-19, efek sampingnya berbahaya. Lembaga pengawas obat Eropa, EMA, masih memperbolehkan dalam kerangka uji klinis, sama dengan WHO.

Zubairi kemudian menjelaskan asumsi medis mengenai adanya pasien sembuh setelah diterapi menggunakan Ivermectin.

Menurut dia, pada prinsipnya di antara mereka yang terinfeksi SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, sebanyak 80 persen adalah orang tanpa gejala (OTG). Kelompok ini akan sembuh dengan sendirinya meski tidak mendapat obat apapun.

Sementara, sisanya yang sebanyak 20% mempunyai gejala lebih berat dan harus dirawat di rumah sakit, sebagian masuk ICU, dan meninggal ketika virus dari China tersebut mengaktiviasi penyakit bawaan pasien terpapar positif COVID-19.

Ada temuan lain yang mengatakan bahwa pasien isolasi mandiri yang mengalami gejala ringan pun meninggal karena COVID-19.

"Karena itu, sebenarnya sukar sekali untuk menilai apa yang menyembuhkan para pasien (COVID-19) ini," pungkas Zubairi.

Penggunaan Ivermectin

Ivermectin memang sudah digunakan sejak lama sebagai obat untuk membasmi infeksi cacing parasit pada tubuh manusia dan hewan. Selain itu, obat ini juga dapat digunakan untuk mengatasi infeksi kutu dan tungau, misalnya pada penyakit kudis.

Beberapa penelitian di laboratorium kemudian menunjukkan bahwa obat ini juga memiliki efek antivirus terhadap beberapa jenis virus, seperti virus Zika, influenza, chikungunya, dan virus Dengue (DBD).

Kemudian, dalam beberapa penelitian yang dikombinasikan dengan doxycycline, menunjukkan bahwa kombinasi kedua obat ini bekerja lebih baik dalam mengurangi gejala dan mempercepat proses penyembuhan pasien COVID-19.

Namun, harus diingat juga bahwa hingga saat ini belum ada studi yang dapat membuktikan bahwa Ivermectin efektif untuk mencegah COVID-19.

Otoritas kesehatan di beberapa negara juga belum merekomendasikan penggunaan obat cacing ini untuk mencegah atau mengobati COVID-19. Ini karena belum ada data dan uji klinis yang memadai terkait manfaat Ivermectin untuk COVID-19.*

Berita Terkait