Mantap! Habis Rugi Rp1,2 Triliun, Inalum Raup Laba Rp698 Miliar Sepanjang 2020

14 April 2021 13:13 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Ilustrasi baterai listrik kendaraan mobil / Pixabay

JAKARTA – PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau Inalum membukukan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp698,1 miliar pada 2020. Capaian ini jauh lebih baik ketimbang 2019 di mana perseroan mengalami rugi hingga Rp1,2 triliun.

Kendati demikian, pendapatan perseroan turun 17,49% year-on-year (yoy) dari Rp80,6 triliun pada 2019 menjadi Rp66,5 triliun pada periode ini.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dirilis di Singapore Exchange (SGX), jumlah pendapatan tersebut ditopang oleh penjualan produk dan jasa.

Secara rinci, produk emas terjual senilai Rp19,3 triliun, batu bara Rp17,2 triliun, serta logam timah dan tin solder Rp14,3 triliun.

Selain itu, produk berupa alumunium senilai Rp6,5 triliun, feronikel Rp4,6 triliun, bijih nikel Rp1,9 triliun, dan lainnya Rp2,08 triliun. Adapun pendapan dari jasa disumbang oleh pemurnian logam mulia dan lainnya yang sebesar Rp379,2 miliar.

Sepanjang 2020, perseroan juga telah menekan beban pokok pendapatan, semula minus Rp66,1 triliun pada 2019, menjadi minus Rp54,9 triliun.

Selain itu, total liabilitas Inalum juga meningkat 16,1% yoy menjadi Rp108,1 triliun. Pada 2019, total liabilitas sebesar Rp93,05 triliun.

Begitu pula total ekuitas yang naik meski tipis, yakni sebesar 1,1% dari Rp71,7 triliun menjadi Rp72,5 triliun. Kas dan setara kas tercatat sebesar Rp19,9 triliun, lebih tinggi 37,2% dibandingkan dengan Rp14,5 trilun pada 2019.

Terakhir, total aset perseroan berhasil ditingkatkan 9,6% yoy dari Rp164,8 triliun menjadi Rp180,7 trilun sepanjang 2020.

Pengembangan Industri Baterai Listrik

Sebagai informasi, salah satu perusahaan pelat merah holding Indonesia Battery Corporation (IBC) ini bakal mengambil langkah dalam pengembangan industri baterai listrik.

Bersama tiga perusahaan lainnya, yakni  PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Pertamina (Persero), dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, IBC akan berinvestasi sebesar Rp182 triliun hingga Rp238 triliun untuk memfokuskan rencana tersebut.

Pemerintah sendiri telah menggandeng produsen baterai China’s Contemporary Amperex Technology (CATL) dan LG Chem Ltd untuk mengembangkan baterai listrik.

Adapun mata rantai industri baterai listrik ini meliputi, pengolahan nikel, material precursor dan katoda. Selain itu, perusahaan juga fokus pada energy strorage system (ESS) dan recycling.  

Pada 2025, ditargetkan penjualan motor listrik mencapai 8,8 juta unit dan 2 juta unit untuk mobil listrik. (RCS)

Berita Terkait