BCA Milik Konglomerat Paling Tajir di RI Pecah Saham 1:5

31 Juli 2021 05:33 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Sukirno

Karyawan melayani nasabah di gerai BCA Mal Gandaria City, Jakarta Selatan, Kamis, 22 Oktober 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Emiten milik konglomerat paling tajir di Indonesia, Keluarga Hartono, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada 29 Juli 2021 menyepakati aksi korporasi pemecahan nominal saham yang beredar (stock split) dengan rasio 1 : 5 (1 saham lama menjadi 5 saham baru).

Aksi ini dilakukan setelah BCA mencermati perkembangan dan dinamika ekonomi dan pasar di dalam negeri, termasuk aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Nilai nominal per unit saham BBCA saat ini adalah Rp62,50, sedangkan nilai nominal per unit saham BBCA setelah stock split akan menjadi sebesar Rp12,5 per lembar. Sebagai informasi, harga saham BBCA pada saat ini berkisar di level Rp30.000 per unit saham.  

“Melalui aksi korporasi stock split ini, kami berharap harga saham BBCA akan lebih terjangkau bagi para investor ritel, utamanya demografi investor muda yang saat ini aktif meramaikan bursa. Hal ini juga sebagai bentuk dukungan kami untuk meningkatkan likuiditas perdagangan di pasar modal dalam negeri,” kata Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja dalam keterbukaan informasi, Jumat 30 Juli 2021.

Jahja menjelaskan, proses stock split akan mengikuti ketentuan yang berlaku dan membutuhkan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang rencananya akan diselenggarakan pada 23 September 2021. 

Setelah memperoleh persetujuan dari para pemegang saham, BCA akan berkoordinasi dengan BEI untuk memproses stock split yang diperkirakan akan terjadi pada Oktober 2021.

Pada perdagangan akhir pekan, Jumat, 30 Juli 2021, saham BBCA ditutup turun 1,16% sebesar 350 poin ke level Rp29.850 per lembar dengan rentang harga Rp26.950-Rp36.900 dalam setahun terakhir. Kapitalisasi pasar saham BBCA mencapai Rp735,9 triliun dengan imbal hasil negatif 2,69% dalam setahun terakhir.

Berita Terkait