Makin Subur, Aset Keuangan Syariah Melesat Tembus Rp1.823 Triliun

20 April 2021 18:36 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Suasana di kantor cabang Bank Syariah Indonesia (BRIS) Jakarta Hasanudin, Jakarta, Rabu, 17 Februari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Direktur Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Deden Firman Hendarsyah mengungkapkan aset keuangan syariah mampu terus tumbuh pesat hingga double digit.

Aset keuangan syariah melesat 14,15% year on year (yoy) sepanjang 2018. Realisasi tersebut kemudian turun tipis menjadi 13,84% pada 2019 dan kembali melesat 22,79% pada 2020. Data terakhir menunjukan aset keuangan syariah tumbuh 24,54% yoy pada Januari 2021.

Aset keuangan dalam hal ini tidak termasuk saham syariah. Nilai aset keuangan syariah tersebut mencapai Rp1.823,13 triliun.

Maka, market share dari keuangan syariah di Indonesia sudah mencapai 10% pada awal 2021 ini. Menurut Deden, capaian pertumbuhan tersebut tergolong pesat di tengah adanya dinamika perekonomian akibat pandemi COVID-19.

“Pertumbuhan aset keuangan syariah kita tergolong sangat cepat dan masif,” kata Deden dalam Webinar Mendorong Literasi dan Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan di Era Digital, Selasa 20 April 2021.

Deden juga merinci aset pasar modal syariah yang mampu tumbuh beriringan dengan aset keuangan syariah.

Menurut data OJK, aset pasar modal syariah sudah menembus Rp1.106,31 triliun. Nilai aset tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan aset perbankan syariah di Indonesia yang sebesar Rp600,99 triliun.

Aset senilai Rp600,99 triliun dihimpun dari 14 bank umum syariah, 20 unit usaha syariah, dan 163 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Total pertumbuhan aset perbankan syariah tersebut pada Januari 2021 menyentuh angka 13,51% yoy.

Meski secara pertumbuhan sudah melesat, nilai market share bank syariah masih kalah jauh dibandingkan perbankan nasional. Bank syariah hanya menguasai 6,55% Market share perbankan nasional pada Januari 2021 ini.

Pengamat Ekonomi Syariah Syakir Sula menyampaikan, nilai market share bank syariah masih bisa melesat karena Indonesia punya Bank Syariah Indonesia (BSI).

Entitas bank syariah hasil merger empat bank syariah anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) itu dinilainya sangat potensial mengerek industri keuangan syariah.

Kendati demikian, efek positif kehadiran BSI baru bisa terasa bila bank tersebut secepatnya ‘naik kelas’ ke BUKU IV atau bank dengan modal inti di atas Rp30 triliun.  Pasalnya, posisi BSI masih berada di BUKU tiga atau bank dengan modal inti Rp5 sampai Rp30 triliun.

“BSI belum masuk ke BUKU 4. Ini tantangan pertama direksi BSI, bagaimana membawa BSI masuk ke posisi masuk ke urutan ke 5 atau 6 bank terbesar di Indonesia,” kata Syakir kepada TrenAsia.com beberapa waktu lalu.

Kemungkinan ini, menurut Syakir, terbuka lebar apabila BSI fokus menyasar segmen menengah ke bawah atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Dana yang dihimpun dari masyarakat disalurkan ke UMKM, bukan ke korporasi,” tutup Syakir. (RCS)

Berita Terkait