Makin Mantap Hengkang, ASABRI Hanya Sisakan 0,53 Persen Kepemilikan Saham di Bank Neo Commerce

23 Agustus 2021 14:49 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

PT Bank Neo Commerce Tbk. resmi menjadi Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) II, setelah melakukan penambahan modal atau right issue Rp150 miliar pada Juli 2020. Dengan perubahan status tersebut, perseroan akan melakukan transformasi digital dengan sasaran pasar milenial. / Perseroan

JAKARTA – PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) atau ASABRI semakin mantap untuk hengkang dari kepemilikan saham di PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB). Komposisi kepemilikan ASABRI atas BBYB kini hanya tersisa 0,53%. Hal ini terungkap dalam keterangan BBYB di Bursa Efek Indonesia. Per 19 Agustus 2021. 

ASABRI melepas 19,14 juta lembar saham BBYB. Bila mengacu pada harga saham BBYB pada perdagangan sesi dua Senin, 23 Agustus 2021 sebesar, ASABRI meraup dana setidaknya Rp30,63 miliar dari satu transaksi tersebut.

Padahal, ASABRI sempat menggenggam 18,62% saham BBYB pada awal tahun ini. Kendati demikian, transaksi penjualan terus dilakukan ASABRI di tengah upaya BBYB bertransformasi menjadi bank digital.

PT Akulaku Silvrr Indonesia masih menjadi Pemegang Saham Pengendali (PSP) di BBYB dengan porsi kepemilikan 24,98% dan PT Gozco kapital sebesar17,88%.

Hengkangnya ASABRI ini tidak lepas dari pergerakan harga saham BBYB yang agresif dalam beberapa bulan terakhir. Dalam tiga bulan terakhir, harga saham BBYB telah menguat hingga 269,1%. Sementara secara tahun berjalan (year to date), harga saham BBYB menguat 454.9%.

Calon bank digital ini diketahui tengah berupaya mempertebal modal inti atau tier 1. BBYB akan menyelenggarakan rights issue  pada Penawaran Umum Terbatas (PUT) V, dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya lima miliar saham baru. Adapun nilai nominal yang ditetapkan sebesar Rp100 per lembar saham.

Corporate Secretary Bank Neo Commerce Agnes F Triliana optimistis memenuhi syarat minimum modal inti perbankan Rp2 triliun pada 2021 dan Rp3 triliun pada 2022.

“Target Bank Neo memperbesar penyaluran kredit antara lain melalui skema channeling dan bekerjasama dengan beberapa fintech untuk menjaring lebih banyak pendapatan,” ujar Agnes saat dihubungi Trenasia.com, Senin, 23 Agustus 2021.

Untuk diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan pembaharuan regulasi industri perbankan. Dalam Peraturan OJK (POJK) nomor 12.POJK.03/2021, tertuang ketentuan modal inti Rp3 triliun pada 2022 serta perubahan klasifikasi perusahaan perbankan.

Lembaga pengawas itu sudah tidak lagi menggunakan acuan Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU). Sebagai gantinya, OJK menggunakan kategori baru bernama Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI).

Bila sukses menggenjot modal intinya, BBYB berpotensi bertengger di KBMI I yang memiliki modal inti maksimal Rp6 triliun.

Berita Terkait