Likuiditas Perbankan Rp119 Triliun Terserap Lewat Kenaikan GWM, BI: Masih Aman

23 Juni 2022 21:40 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Yosi Winosa

Gedung Bank Indonesia (Istimewa)

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah secara bertahap bisa berlangsung tanpa mengganggu kondisi likuiditas perbankan meskipun ada ancaman resesi global. 

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan normalisasi kebijakan likuiditas melalui kenaikan Giro Wajib Minimum rupiah secara bertahap berlangsung tanpa mengganggu kondisi likuiditas perbankan. 

Tercatat, penyesuaian GWM secara bertahap dan pemberian insentif GWM yang berlangsung sejak 1 Maret 2022 telah menyerap likuiditas perbankan sebesar Rp119 triliun. 

“Penyerapan likuiditas tidak akan mengurangi kemampuan perbankan dalam penyaluran kredit dan pembiayaan untuk dunia usaha serta partisipasi dalam pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia,” kata dia di sela konferensi pers Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) secara virtual, Kamis, 23 Juni 2022.

Ditambahkan, berbagai indikator menunjukan likuiditas perbankan masih aman. Pada bulan Mei 2022, rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) masih terhitung tinggi, yakni mencapai 30,8% dan tetap mendukung kemampuan perbankan dalam penyaluran kredit.

Meningkatnya insentif GWM rupiah pada Juni 2022 secara month-to-month (mtm) pun menunjukkan dukungan positif kredit atau pembiayaan perbankan kepada sektor prioritas dan inklusif.

Kemudian, dalam rangka koordinasi fiskal dan moneter yang tertuang dalam keputusan bersama Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dan Perry, BI melanjutkan pembelian SBN di pasar perdana untuk pendanaan APBN 2022 yang jumlahnya mencapai Rp32,54 triliun pada 22 Juni 2022.

"Pembelian tersebut dilakukan baik melalui mekanisme lelang utama, greenshoe option, dan private placement," kata Perry.

Pada Mei 2022, likuiditas perekonomian pun tetap longgar. Hal itu tercermin pada uang beredar dalam arti sempit atau M1 dan dalam arti luas atau M2 dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 18,37% dan 12,15% secara year-on-year (yoy). 

Berita Terkait