Lewat Rights Issue BRIS, Bank Syariah Indonesia Bidik Modal Inti Jadi Rp30 Triliun

January 20, 2021, 05:29 AM UTC

Penulis: Ananda Astri Dianka

PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS), PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT Bank BNI Syariah (BNIS) telah mempublikasikan Ringkasan Rancangan Penggabungan Usaha (merger) / Dok. Kementerian BUMN

JAKARTA – Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), Hery Gunardi mengaku optimistis dengan kinerja perseroan pascamerger. Hal ini terbukti dengan target untuk menjadi bank umum kelompok usaha (BUKU) 4 pada 2022.

Target ini terbilang cukup percaya diri, mengingat Bank Syariah Indonesia baru dijadwalkan beroperasi pada 1 Februari 2021. Meski tahun depan usianya masih cukup muda, Hery yakin capaian tersebut bisa terealisasi tak lama setelah proses merger selesai.

“Sekarang modal gabungan ketiganya mencapai Rp20,4 triliun. Untuk mencapai modal inti Rp30 triliun (BUKU 4), kami berharap return earning dan tambahan rights issue bisa membawa cita-cita itu di awal 2022,” kata Hery dalam webinar, Selasa, 19 Januari 2021.

Saat ini, Bank Syariah Indonesia masih menunggu izin penggabungan usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hery berharap izin tersebut bisa keluar minggu ini.

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menargetkan Bank Syariah Indonesia bisa masuk ke deretan 10 bank syariah terbesar sedunia. Hal ini berdasarkan kapitalisasi pasar, aset gabungan Rp214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun.

Di sisi lain, kekuatan ini juga didukung oleh keberadaan 1.200 cabang, 1.700 jaringan ATM, dan 20.000 lebih karyawan di seluruh Indonesia.

Deputi Bidang Keuangan dan Manajemen Risiko, Kementerian BUMN, Nawa Neli menyatakan, aset Bank Syariah Indonesia telah sejajar dengan Bank Al Rajhi dan Al Bilad di Arab Saudi, Kuwait Finance House di Kuwait sampai dengan Rubian Bank di Qatar.

Selain itu, Kementerian BUMN juga mematok target pembiayaan senilai Rp272 triliun dan pendanaan Rp336 trliun pada 2025. (SKO)