Lampaui Target, Kemenkeu Raup Rp7,5 Triliun dari Penjualan SBR010

19 Juli 2021 18:08 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga minggu ketiga November 2020, aliran modal asing yang keluar atau capital outflow mencapai Rp141,13 triliun. / Foto: Ismail pohan – Tren Asia

JAKARTA – Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menarik dana Rp7,5 triliun dari pembelian obligasi negara ritel seri saving bond retail  010 (SBR010). Realisasi ini melebihi target yang dipatok Kemenkeu sebesar Rp5 triliun

Penjualan surat utang tersebut didominasi oleh kalangan milenial (kelahiran 1980-2000). Hasil penjualan SBR010 ini bakal menjadi sumber pendanaan tambahan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021. Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Luky Alfirman menyebut animo masyarakat dalam melakukan transaksi SBR010 melebihi ekspektasi awal.

Hal ini tampak dari seluruh unit SBR010 yang sudah habis sebelum masa penawaran berakhir. Luky mencatat setidaknya ada 23.337 investor yang berinvestasi pada SBR1010. Sebanyak 38,9% atau setara 9.068 investor merupakan investor yang baru pertama kali berinvestasi pada instrumen yang dijamin negara ini.  

Jika dilihat dari sebaran usia, kalangan milenial mendominasi penjualan SBR010, tepatnya 46,1%. Diikuti generasi X (kelahiran 1965-1979) sebesar 30,8% dan Baby Boomers 20,3%.

Sementara berdasarkan profesi, sebanyak 40,2% investor merupakan pegawai swasta. Lalu, sebanyak 20% berprofesi sebagai wiraswasta, ibu rumah tangga 9,9%, Pegawai Negeri Sipil (PNS) 6,8%, hingga pelajar/mahasiswa 6,7%.

Selain ada penjaminan negara, SBR010 dikatakan Lucy memiliki tingkat kupon tinggi mencapai 5,1%. Tingkat kupon itu masih bisa lebih tinggi karena ada mengacu pada pergerakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Di sisi lain, bila suku bunga BI turun, tingkat kupon SBR010 bakal tetap bertahan di 5,1%. Hal ini membuat instrumen investasi ini aman dari inflasi.

Melalui 26 Mitra

Pembelian SBR010 dilakukan melalui 26 mitra distribusi yang telah digandeng Kemenkeu. Melalui E-SBN, investor bisa membeli SBR010 yang sudah terhubung ke 16 bank umum, empat perusahaan efek, dan enam perusahaan financial technology (fintech).

Mitra distribusi dari bank terdiri dari PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank OCBC NISP Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Panin Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kemudian, PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Permata Tbk, PT Bank HSBC Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, serta PT Bank UOB Indonesia.

Kemudian, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT Bank Commonwealth, PT Bank Maybank Indonesia Tbk, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, PT Bank CIMB Niaga Tbk, dan PT Bank Victoria International, Tbk.

Sementara perusahaan efek yang ditunjuk Kemenkeu yakni PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, PT Bahana Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas.

Kemudian ada empat perusahaan fintech, antara lain PT Bareksa Portal Investasi, PT Investree Radhika Jaya (Investree), dan PT Nusantara Sejahtera Investama (Invisee). Kemudian, PT Lunaria Annua Teknologi (koinworks), PT Star Mercato Capitale (Tanam Duit), serta PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku).

Berita Terkait