Laba Anjlok 20,5%, PTBA Bakal Revisi Target 2020

May 05, 2020, 06:06 AM UTC

Penulis: wahyudatun nisa

Bukit Asam berencana merevisi target produksi 2020. / Ptba.co.id

Emiten pelat merah PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. (PTBA) membukukan penurunan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk hingga 20,5% akibat tekanan wabah virus corona (COVID-19).

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan pandemi COVID-19 berdampak secara langsung terhadap industri di semua sektor, termasuk bisnis pertambangan batu bara. Namun, dia mengklaim kinerja perseroan masih terbilang baik.

“Tiga bulan pertama tahun ini, kami masih bisa mencapai kinerja yang cukup baik,” kata dia dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta, Senin, 4 Mei 2020.

Laba bersih tahun berjalan perusahaan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 20,5% dari Rp1,13 triliun menjadi Rp903,24 miliar pada kuartal I-2020.

Arviyan menjelaskan sisi operasional, perusahaan berkode saham PTBA ini mampu meraih kenaikan penjualan 2,1% pada kuartal I-2020 yaitu sebanyak 6,8 juta ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya 6,6 juta ton.

“Sementara, angkutan batu bara dengan menggunakan kereta api mengalami peningkatan sebesar 12,1% dari periode yang sama tahun sebelumnya yakni dari 5,8 juta ton menjadi 6,5 juta ton,” sebut Arviyan.

Arviyan mengatakan pencapaian ini tidak lepas dari strategi manajemen dalam melakukan efisiensi yang berkelanjutan di semua lini serta mengoptimalkan peluang pasar ekspor ke beberapa negara seperti India, Hong Kong, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan negara Asia lainnya.

“Strategi optimasi penjualan ekspor batu bara medium to high calorie ke premium market juga menyokong pencapaian ini,” ujarnya.

Di sisi produksi, Bukit Asam mengalami penurunan tipis sekitar 2,8% yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi pada awal tahun ini. Pada kuartal I-2019 volume produksi tercatat sebesar 5,6 juta ton, sedangkan pada kuartal I-2020 sebesar 5,5 juta ton.

“Walaupun mengalami kendala, namun kami bisa mempertahankan produksi yang jumlahnya hampir sama dengan triwulan pertama 2019 atau mencapai 97%,” ujarnya.

Sepanjang kuartal I-2020, emiten pertambangan ini membukukan pendapatan sebesar Rp5,12 triliun turun tipis 4,01% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yakni Rp5,33 triliun.

Pendapatan ini terdiri dari penjualan batu bara domestik sebesar Rp3,3 triliun, penjualan batu bara ekspor sebesar Rp1,8 triliun dan aktivitas lainnya sebesar Rp87,2 miliar yang terdiri dari penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah, jasa kesehatan rumah sakit dan jasa sewa.

Pendapatan usaha ini dipengaruhi oleh harga jual rata-rata batu bara yang turun sebesar 3,9% menjadi Rp741.845 per ton dari Rp772.058 per ton di triwulan I 2019.

Penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan harga batu bara Newcastle sebesar 29,5% maupun harga batu bara thermal Indonesia (Indonesian Coal Index/ICI) GAR 5000 sebesar 6,9% dibandingkan harga rata-rata triwulan I 2019.

Beberapa strategi efisiensi yang telah dilakukan PTBA pada kuartal pertama 2020 adalah secara operasional melakukan upaya penurunan HPP melalui penerapan optimasi biaya jasa penambangan.

Cara ini dilakukan dengan menekan stripping ratio dan jarak angkut yang paling optimal, optimasi jam jalan alat dan penghematan BBM. Saat ini PTBA juga tengah melakukan upaya negosiasi tarif dengan beberapa mitra kerja utama.

Revisi Target Tahun 2020

Sementara itu, pandemi COVID-19 yang terjadi mulai dari akhir tahun 2019 belum memberikan dampak yang signifikan bagi perusahaan yang memiliki wilayah penambangan di Tanjung Enim, Sumatra Selatan ini pada triwulan I-2020.

Namun memasuki periode triwulan II, dampak dari semakin meluasnya penyebaran COVID-19 mulai dirasakan oleh PTBA.

Hal ini diindikasikan dari berkurangnya permintaan pasokan batu bara dari pasar ekspor maupun domestik.

Menyikapi hal tersebut PTBA saat ini sedang mempersiapkan revisi target dan racikan strategi yang tepat guna mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang diprediksi akan terjadi ke depan.

Sebelumnya, perseroan merencanakan produksi batu bara sebesar 30,3 juta ton sepanjang 2020 atau naik 4% dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 29,1 juta ton. Sedangkan target angkutan pada 2020 menjadi 27,5 juta ton atau meningkat 13% dari realisasi angkutan kereta api 2019.

Sedangkan untuk volume penjualan batu bara 2020, perseroan menargetkan untuk meningkatkannya menjadi 29,9 juta ton, yang terdiri dari penjualan batu bara domestik sebesar 21,7 juta ton dan penjualan batu bara ekspor sebesar 8,2 juta ton atau secara total sebesar 29,9 juta ton, meningkat 8% dari realisasi penjualan batu bara 2019.

“Tantangan cukup besar pada 2020, seiring penyebaran virus corona. PTBA harus tetap bertahan dalam kondisi ini, dan salah satunya harus mencari pasar baru ekspor,” kata Arviyan.

Ia mengatakan pasar baru itu sangat dimungkinkan karena sumber daya batubara ini menjadi kebutuhan primer di sejumlah negara.

Bahkan, beberapa negara yang menerapkan lockdown seperti India, pada Maret lalu masih membuka pintu perdagangan dengan PTBA, tapi melalui pelabuhan khusus.

Selain pasar baru, di tengah pandemi, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki lokasi penambangan di Tanjung Enim, Kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan ini, melakukan efisiensi dalam pengelolaan usaha.

“Program efisiensi terus kami lakukan, untuk mengendalikan pengeluaran, termasuk inovasi dalam penambangan. Kami juga sedang mencari lokasi-lokasi baru penambangan, yang stripping ratio dan jarak angkut rendah,” kata dia.

Pada perdagangan Senin, 4 Mei 2020, saham PTBA ditutup merosot 3,2% sebesar 60 poin ke level Rp1.815 per lembar. Kapitalisasi pasar saham PTBA mencapai Rp20,91 triliun dengan imbal hasil negatif 47,33% dalam setahun terakhir. (SKO)