Laba Melonjak 602 Persen, Samudera Indonesia (SMDR) Investasi Rp4,27 Triliun Beli 6 Kapal Baru

31 Agustus 2021 20:06 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Laila Ramdhini

Ilustrasi kapal peti kemas. (Istimewa.)

JAKARTA - PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) mencetak laba bersih 602% menjadi US$32,9 juta setara Rp468,85 miliar hingga Juli 2021. Pencapaian tersebut mendorong perseroan menginvestasikan dana senilai US$300 juta setara Rp4,27 triliun untuk membeli enam kapal peti kemas baru.

Direktur Utama SMDR Bani M. Mulia mengatakan dua unit kapal berupa container carrier sedangkan empat unit lainnya masih dalam proses negosiasi. Dia menambahkan, enam unit kapal tersebut berukuran mulai 1.900 sampai dengan 2.800 TEUs. Perseroan akan menerima enam kapal itu dalam kurun waktu 2022 sampai 2024.

"Enam unit kapal peti kemas baru buatan shipyard di Jepang dengan nilai investasi sekitar US$40-50 juta per kapal. Ini kami lakukan untuk menjawab peningkatan permintaan peti kemas sebagaimana kita tahu sekarang terjadi peningkatan yang cukup tinggi," ujar Bani dalam paparan publik, dikutip Selasa, 31 Agustus 2021.

Dia menjelaskan perjanjian pembelian dua unit kapal peti kemas baru telah ditandatangani pada Mei lalu dengan teknologi dan desain baru berukuran 1.900 TEUs. Desain kapal tersebut lebih efisien karena konsumsi bahan bunker dan kapasitas angkutanya cocok dengan perdagangan yang dioperasikan SMDR.

Dalam waktu dekat, lanjut dia, perseroan jua akan menyelesaikan transaksi untuk pembelian satu unit kapal curah post panamax bulk carrier berukuran 91.000 deadweight ton senilai US$12,4 juta yang akan dioperasikan mulai September nanti. Kapal itu sudah dikirim pada 26 Agustus.

Sementara untuk pelayaran curah air, perusahaan sedang dalam proses negosiasi untuk menambah satu sampai tiga armada chemical tanker dengan anggaran senilai Rp10-12 juta per kapal. Kapal tersebut akan diterima hingga terakhir awal tahun depan.

Tender Kapal LPG Tanker

Bani mengatakan, SMDR juga mengikuti tender pengadaan dua unit kapal LPG tanker dengan kontrak jangka panjang senilai US$60 juta per kapal. Rencananya, kapal tersebut mulai beroperasi pada Desember 2023 bilamana tender berjalan mulus.

Bani menambahkan perusahaan juga sudah mengantongi izin dan memutuskan untuk mengembangkan anak usaha baru yang fokus pada bidang solusi transportasi dan logistik di sektor perikanan dan hasil laut di tanah air.

"Jadi, kita ikut membangun kapal-kapal perikanan dan mencarikan solusi-solusi cold chain logistik atau cold storage yang sangat dibutuhkan agar produk perikanan bisa diekspor dan didistribusikan dengan
baik," papar Bani.

Di samping itu, perseroan juga terus mengembangkan inovasi industri pelayaran dan logistik berbasis teknologi, salah satunya dengan mendirikan Samudera Data Analytics & Prediction (SEDAP).

SEDAP merupakan unit usaha rintisan yang fokus mencari inovasi solusi teknologi
untuk industri pelayaran dan logistik.

Target Pendapatan US$500 Juta

Tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan usaha lebih dari US$500 juta. Hal ini menyusul kinerja positif perseroan pada 2020 yang mencapai US$490,8 juta.

"Saya kira aman dikatakan pendapatan kita tahun ini akan tembus lebih dari US$500 juta dan tentu hal ini akan berdampak positif pada profitabilitas perusahaan," katanya.

Untuk diketahui, sepanjang 2020, perusahaan mencatat laba bersih sebesar US$3,3 juta dan laba usaha sebesar US$24,5 juta. Dengan pencapain itu, perusahaan menebar dividen sebesar Rp32,8 miliar.

Laba Semester I-2021 Tumbuh 602%

Hingga Juli 2021, perusahaan telah mencetak laba bersih 602% menjadi US$32,9 juta dari US$4,7 juta periode tahun lalu. Sementara laba bersih tercatat naik 247% menjadi US$ 55 juta dari US$15,8 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, laba sebelum bunga, pajak, dan amortasi tercatat meningkat 160% menjadi US$ 79,1 juta dari tahun lalu US$30,4 juta.

Sementara itu, perusahaan mencetak pendapatan sebesar US$325,5 juta, naik 14% dari US$285,4 juta tahun lalu.

Kinerja perusahaan terus bertumbuh meski ditantang pandemi COVID-19. Pembatasan mobilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap layanan ekspor perseroan.

Berita Terkait