Laba Grup MNC Media Milik Hary Tanoe Anjlok 43%

May 14, 2020, 04:39 PM UTC

Penulis: Sukirno

Konglomerat Hary Tanoesoedibjo dan Liliana Tanoesoedibjo, pemilik MNC Group. / Mncgroup.com

Rugi kurs menyebabkan laba bersih PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN) milik konglomerat Hary Tanoesoedibjo anjlok 43% pada kuartal I-2020. Nilainya menjadi Rp332,75 miliar dari periode yang sama 2019 Rp584,97 miliar.

Manajemen perseroan menjelaskan, tanpa rugi kurs, laba bersih perseroan tumbuh 12% menjadi Rp577,2 miliar dengan marjin laba bersih sebesar 29%. Pada tahun ini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat melemah hingg Rp16.400 per dolar AS, karena alasan ini, manajemen MNC akan menjaga kerugian kurs seminimal mungkin untuk periode ke depannya.

Jika dilihat lebih jauh, bisnis perusahaan media milik Hary Tanoesoedibjo ini memang masih bertumbuh. Terutama dari sisi pendapatan yang naik 7% dari Rp1,89 triliun menjadi Rp2,01 triliun. Sebagian besar pendapatan tersebut berasal dari pendapatan iklan yang mencapai Rp1,81 triliun atau naik tipis 3% dari Rp1,77 triliun.

Lebih rinci, pendapatan iklan berbasis digital tumbuh tinggi atau naik 25% dari Rp159,37 miliar menjadi Rp199,25 miliar. Sementara pendapatan iklan non digital stagnan Rp1,6 triliun.

“Ini terjadi karena pembatalan acara olahraga seperti, Serie A, FA Cup, dan AFC karena COVID-19, yang biasanya menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi sementara mengeluarkan biaya yang tinggi juga. Sementara, pada Q1-2019, MNCN menyiarkan Liga Inggris, Liga Champions, AFC, dan lain-lain selama 3 bulan penuh,” tulis manajemen MNC dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis, 14 Mei 2020.

MNC juga punya sumber pendapatan lain yakni pendapatan konten yang meningkat 2% menjadi Rp471,4 miliar sebelum eliminasi dari Rp460 miliar pada periode tahun sebelumnya yang sama. Monetisasi konten melalui lisensi konten ke platform OTT dan TV-berbayar internasional telah melonjak pesat menjadi Rp178 miliar, meningkat 96% year-on-year (yoy) dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp91 miliar.

Namun beban langsung emiten bersandi saham MNCN itu juga naik 8% menjadi Rp711,2 miliar dari Rp655,7 miliar. Begitu juga beban umum dan administrasi yang naik 2% dari Rp399,8 miliar menjadi Rp209,8 miliar.

Hary Tanoe menuturkan, fundamental kuat perseroan telah terbukti bertahan terhadap lingkungan ekonomi yang lemah. Tanda-tanda awal menunjukkan tren belanja iklan secara keseluruhan yang tidak baik pada tahun 2020, namun, pihaknya sangat optimistis bahwa belanja iklan akan meningkat pada kuartal III-2020.

“Meskipun demikian, saya sangat percaya bahwa dengan portofolio aset dan inisiatif yang kami miliki, MNCN mampu menciptakan nilai yang tidak dapat ditiru oleh pesaing kami. Pendapatan digital dan konten, yang tidak terpengaruh oleh pandemi, akan berkontribusi 35% terhadap pendapatan perseroan tahun ini,” ungkap Hary Tanoe.

Dia juga masih optimistis untuk dapat mencatat pertumbuhan pendapatan, EBITDA, dan laba bersih pada tahun 2020.

Selain itu, pada bulan ini, MNC berencana menyelesaikan proses placement kepada investor strategis. Dana dari placement ini akan digunakan untuk mengurangi utang yang jatuh tempo pada Agustus 2022.

Penempatan itu juga akan menghasilkan free float saham MNCN lebih dari 40% yang memungkinkan perseroan mendapatkan tarif pajak 19% atau turun dari tahun lalu sebesar 25%.

MNCN adalah anak usaha grup media PT Global Mediacom Tbk. (BMTR) yang menangani konten dan periklanan berbasis media. MNCN memiliki tiga televisi swasta free to air (FTA) RCTI, MNC TV, dan GTV, serta iNews.

Pada perdagangan Kamis, 14 Mei 2020, saham MNCN ditutup melonjak 7,83% sebesar 65 poin ke level Rp895 per lembar. Kapitalisasi pasar saham MNCN mencapai Rp12,77 triliun dengan imbal hasil negatif 4,62% dalam setahun terakhir.

Hary Tanoesoedibjo tercatat sebagai konglomerat terkaya ke-32 di Indonesia versi majalah Forbes 2019. Kekayaan Hary Tanoe ditaksir mencapai US$1 miliar setara Rp15,5 triliun yang berasal dari industri media, properti, jasa keuangan, dan investasi. (SKO)