Laba dan Pendapatan Emiten Kawasan Industri Merosot, Hanya DMAS Bukukan Kinerja Positif

06 September 2021 11:43 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Amirudin Zuhri

Proyek milik PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS). / Deltamas.id

JAKARTA – Pemerintah terus mempercepat pengembangan kawasan industri di Tanah Air demi menarik minat investor, baik domestik hingga internasional. Hal ini juga bertujuan untuk membuka peluang relokasi bisnis untuk masuk ke Indonesia.

Pada awal tahun, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan ada 122 perusahaan yang potensial memindahkan bisnis ke Indonesia. Total investasinya mencapai US$40,5 miliar atau setara Rp587,2 triliun (kurs Rp14.500 per dolar Amerika Serikat).

Adapun hingga paruh pertama tahun ini, realisasi investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp442,8 triliun. Jumlah ini hampir mencapai separuh dari angka yang ditargetkan, yakni Rp900 triliun. Aliran investasi terbesar Rp60,7 triliun, tercatat mengalir ke sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran.

Kendati demikian, bagaimana jika menilik kinerja sejumlah emiten kawasan industri saat ini? Sepanjang enam bulan pertama 2021, beberapa di antaranya telah merilis laporan keuangannya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

DMAS

Tercatat, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) mencetak kinerja paling gemilang. Pasalnya, grup Sinarmas ini berhasil membukukan kenaikan laba sekaligus pendapatan.

Perusahaan ini lebih unggul dari PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST), PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), dan Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA). Alih-alih membukukan laba, ketiga emiten itu justru menelan rugi, bahkan nilainya membengkak dibandingkan dengan periode sebelumnya. 

Untuk DMAS sendiri mencatat laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp288 miliar. Jumlah ini melesat hingga 269% secara tahunan atau year-on-year (yoy) dari Rp78 miliar per semester I-2020.

Selain itu, pendapatan juga berhasil meningkat hingga 133,7% yoy menjadi Rp589 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, DMAS masih membukukan pendapatan sebesar Rp252 miliar.

Pendapatan ini diperoleh dari penjualan industri sebesar Rp436 miliar, perumahan Rp100,6 miliar, dan komersial Rp33,2 miliar. Sementara itu, pendapatan hotel dan sewa masing-masing menyumbang Rp5,7 miliar dan Rp3,7 miliar.

Pada perdagangan Jumat, 3 September 2021, saham DMAS ditutup naik 3,24% sebesar 6 poin ke level Rp191 per lembar. Kapitalisasi pasar saham DMAS mencapai Rp9,21 triliun dengan imbal hasil negatif 16,49% dalam setahun terakhir.

BEST

Menempati posisi kedua, PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) harus membukukan penurunan kinerja pada semester I-2021.

Rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp75,1 miliar. Jumlah ini jauh lebih besar ketimbang rugi semester I-2020 yang sebesar Rp37,2 miliar.

Adapun dari sisi pendapatan, kinerja BEST juga tak memuaskan, yakni merosot hingga 51,2% year-on-year (yoy) per semester I-2021. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan BEST turun dari Rp153 miliar per semester I-2020 menjadi Rp74,6 miliar pada periode ini. 

Hal ini disebabkan oleh tidak adanya pemasukan dari pos penjualan tanah. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, penjualan tanah masih menyumbang pendapatan hingga Rp66,8 miliar. Selain itu, pendapatan hotel juga menurun dari Rp4,3 miliar menjadi Rp3 miliar per semester I-2021.

Penurunan lainnya juga dialami oleh pendapatan lain-lain yang sebesar Rp13,5 miliar dari sebelumnya Rp24,5 miliar per semester I-2020. Adapun pendapatan yang hanya turun tipis adalah maintenance fee, service charge, air dan sewa sebesar Rp58 miliar dari sebelumnya Rp58,1 miliar per semester I-2020.

KIJA

Perusahaan kawasan industri PT Jababeka Tbk (KIJA) menjadi urutan ketiga, lantaran rugi bersih yang dibukukan lebih besar ketimbang BEST, yakni Rp142 miliar per semester I-2021. Rugi ini membengkak dibandingkan dengan rugi bersih per semester I-2020 sebesar Rp84,2 miliar.

Corporate Secretary Jababeka Muljadi Suganda mengatakan penyebab utama kerugian ini disebabkan oleh pergerakan selisih kurs.  “Perseroan membukukan rugi selisih kurs sebesar Rp112,5 miliar pada semester I-2021. Sementara itu, rugi selisih kurs pada periode yang sama 2020 sebesar Rp66,1 miliar,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima Sabtu, 28 Agustus 2021.

Total pendapatan perseroan juga menurun pada periode ini, yakni menjadi sebesar Rp1,1 triliun. Angka ini turun 11% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan semester I-2020 sebesar Rp1,25 triliun.

Hal ini disebabkan oleh unit bisnis Pilar Land Development & Property KIJA yang mengalami penurunan pendapatan 34% yoy menjadi Rp436,3 miliar pada semester I-2021. Pada periode yang sama tahun lalu, pendapatan bisnis ini tercatat sebesar Rp663,1 miliar.

Muljadi menyebut, penurunan pendapatan ini terutama disebabkan oleh merosotnya penjualan produk industri tanah matang dan tanah dengan bangunan pabrik, masing-masing menjadi Rp217,5 miliar dan Rp19,1 miliar.

Sementara itu, jumlah penjualan tanah matang dari Cikarang dan Kendal masing-masing sebesar Rp31,6 miliar dan Rp495,4 miliar pada semester I-2021.

Pada perdagangan Jumat, 3 September 2021, saham KIJA ditutup turun 5,92% sebesar 10 poin ke level Rp159 per lembar. Kapitalisasi pasar saham KIJA sebesar Rp3,31 triliun.

SSIA

Terakhir, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) harus menelan pil pahit lantaran angka kerugian yang ditanggung paling besar di antara ketiga emiten sebelumnya. Rugi SSIA per semester I-2021 sebesar Rp190 miliar. Jumlah ini membengkak dibandingkan dengan semester I-2020 yang sebesar Rp122 miliar.

Sementara itu, pendapatan perseroan juga anjlok hingga 40,5% year-on-year (yoy) menjadi Rp870 miliar. Sebelumnya, per semester I-2020 perseroan masih membukukan pendapatan hingga Rp1,46 triliun.

Dalam hal ini, jasa kontruksi menjadi faktor utama pendapatan perseroan turun. Sebab, per semester I-2020 pos ini hanya berkontribusi sebesar Rp648 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu jasa konstruksi menghasilkan pendapatan hingga Rp1,13 triliun.

Selain itu, pendapatan dari bisnis hotel juga menyusut dari Rp152 miliar menjadi Rp69 miliar per semester I-2021. Adapun sewa, parkir, jasa pemeliharaan dan utilitas sebesar Rp146 miliar, sisanya dari tanah kawasan industri sebesar Rp5,7 miliar.

Pada perdagangan Jumat, 3 September 2021, saham SSIA ditutup naik 0,83% sebesar 4 poin ke level Rp486 per lembar. Kapitalisasi pasar saham SSIA tercatat sebesar Rp2,29 triliun.

Grafik Kinerja Emiten Kawasan Industri

Berita Terkait