Laba Bersih Merdeka Copper (MDKA) Milik Sandiaga Uno Terbang 1.549 Persen Jadi Rp1,14 Triliun

12 September 2022 14:44 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Ananda Astri Dianka

Direktur MDKA David Thomas Fowler (tengah), Wakil Presiden Direktur MDKA Simon James Milroy (kanan) menyampaikan pemaparan pada public exphose usai Rapat Umum Pemegang Saham di Jakarta, Jumat, 10 Juni 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Emiten milik Sandiaga Uno, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatat kinerja memuaskan pada semester I-2022.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, Senin 12 September 2022, laba bersih perseroan mencapai US$96,79 juta atau Rp1,14 triliun (kurs Rp14.925 per dolar Amerika Serikat/ AS) pada enam bulan pertama tahun ini. 

Perolehan laba ini meroket 1.549% secara tahunan (year on year/ yoy) dari periode yang sama tahun lalu US$5,86 juta atau Rp83,82 miliar (kurs Rp14.285 per dolar AS).

Gemuknya laba bersih MDKA bersumber dari tumbuhnya pendapatan usaha perseroan. Hingga 30 Juni 2022, Merdeka Cooper meraup pendapatan sebesar US$341,40 juta atau setara dengan Rp5,09 triliun. Angka ini naik 152,11% dari semula US$135,41 juta atau Rp1,93 triliun pada 30 Juni 2021.

Berdasarkan sumber penghasilan, segmen emas, perak, katoda tembaga, dan feronikel merupakan penyumbang pendapatan terbesar. Berdasarkan kontributornya, segmen ini meraih pendapatan senilai US$304,82 juta atau 89,28% dari total pendapatan usaha pada semester pertama tahun ini.

Dilihat dari pembelinya, Precious Metals Global Markets (HSBC) menjadi pihak ketiga yang paling banyak membeli hasil tambang perseroan. Tercatat, HSBC melakukan transaksi pembelian sebanyak US$145,70 juta, naik 86,86% dari US$77,97 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Selanjutnya, ada Mitsui & Co.Ltd. dengan pembelian senilai US$49,21 juta, melesat 189,82% dari US$16,98 juta tahun lalu. Kemudian pada semester ini, MDKA mendapatkan pembeli baru yakni Hong Kong Rui Po Limited yang memborong sebanyak US$41,17 juta.

Selanjutnya ada PT Karya Sumiden Indonesia dengan transaksi sebanyak US$13,10 juta dari sebelumnya US$14,69 juta. Terakhir, Posco International Corporation terekam tak melakukan pembelian pada semester ini, padahal pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan ini membeli senilai US$14,06 juta.

Berita Terkait